Cakrawala News – 23 Oktober 2026 | Sebuah celah keamanan serius pada php, bahasa pemrograman yang digunakan oleh mayoritas situs web di dunia, memicu gangguan layanan digital di sejumlah negara pada Rabu dan Kamis. Pemerintah dan pelaku usaha di berbagai belahan dunia terpaksa menonaktifkan sementara situs web mereka sebagai langkah pencegahan agar peretas tidak memanfaatkan kerentanan tersebut. Patch keamanan baru dirilis oleh PHP Foundation pada Rabu pagi, dan para pengembang pun bergegas memasangnya.
Gangguan ini dilaporkan memengaruhi layanan daring di sejumlah negara, termasuk Finlandia, Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, dan Kenya. Meski banyak gangguan hanya berlangsung kurang dari sehari, insiden ini menyoroti betapa besarnya ketergantungan global pada layanan daring serta potensi dampak dari serangan siber berskala luas.
Pemerintah hingga Layanan Publik Terdampak
Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi mendesak dunia usaha menonaktifkan situs web mereka selama proses pemasangan pembaruan. Ia juga mengungkapkan bahwa akses ke situs resmi pemerintahannya sempat ditangguhkan sementara.
Di Finlandia, situs web pemerintah dinonaktifkan sementara sehingga mengganggu aktivitas rutin yang bergantung pada layanan digital. Kalle Pusa, seorang pengembang perangkat lunak yang terlibat dalam politik kota Helsinki, menyebut gangguan itu berdampak pada tugas sehari-hari, termasuk upayanya mengatur pengambilan sebuah sofa lama melalui situs web pemerintah daerah.
“Ini sudah menjadi bagian dari struktur masyarakat kami, banyak layanan seperti ini,” kata Pusa, seraya menambahkan bahwa gangguan tersebut membuat sebagian struktur itu “sedikit terkoyak”.
Pemerintah Inggris menyatakan 32 layanan dinonaktifkan sebagai langkah pencegahan. Situs web milik sejumlah negara bagian dan kota besar di Jerman, termasuk Berlin dan Munich, juga terdampak. Sekolah Kedokteran Hannover memastikan rumah sakitnya tidak diretas.
Kerentanan Ditemukan Sejak Agustus
Menurut laporan yang beredar, para peneliti keamanan sebenarnya telah menemukan dua kerentanan perangkat lunak yang serius pada Agustus. Mereka kemudian bekerja lintas negara dan disiplin ilmu untuk mengembangkan patch yang akhirnya dirilis ke publik pada Rabu pagi.
Kerentanan itu diidentifikasi oleh para peneliti keamanan dengan menggunakan model kecerdasan buatan canggih. Para ahli memperingatkan bahwa bila tidak segera diperbaiki, celah tersebut dapat memungkinkan penyerang mengambil kendali atas server, mencuri informasi pribadi, dan merusak tampilan situs web.
Di Panama, Otoritas Nasional untuk Inovasi Pemerintah (AIG) mengeluarkan peringatan mengenai kerentanan kritis pada php, yang sebagian di antaranya dilaporkan sedang dieksploitasi secara aktif. Peringatan yang disampaikan Direktorat Nasional Keamanan Siber pada Rabu, 21 Oktober itu ditujukan kepada entitas publik, sektor swasta, komunitas akademik, dan masyarakat.
Menurut lembaga tersebut, celah itu dapat memungkinkan penyerang mengakses berkas dan basis data secara jarak jauh tanpa kata sandi, serta mengambil kendali atas server web. Tim Tanggap Insiden Keamanan Informasi Panama (Csirt Panama) juga menerbitkan pemberitahuan berisi versi php yang terdampak dan langkah teknis yang direkomendasikan untuk memitigasi risiko.
Eksploitasi Masif Belum Terlihat
Sehari setelah peringatan global, para ahli dan pihak dalam industri menyatakan belum banyak, bahkan nyaris tidak ada, laporan mengenai kerusakan luas. Meski demikian, pakar keamanan siber memperingatkan bahwa ancaman akan tetap ada selama berminggu-minggu, bahkan lebih lama.
Don Smith, wakil presiden riset ancaman di perusahaan keamanan perangkat lunak asal Inggris, Sophos, menyatakan pihaknya hanya melihat beberapa upaya eksploitasi nyata. “Di seluruh telemetri kami, dan kami mencari dengan serius, kami hanya melihat beberapa upaya eksploitasi nyata,” ujarnya.
Para ahli sepakat bahwa hal itu sebagian terjadi berkat upaya global yang dilakukan di balik layar untuk mengidentifikasi celah dan merancang perbaikan secara diam-diam. Upaya tersebut juga terbantu oleh keterbatasan model kecerdasan buatan yang tersedia secara luas, yang tampaknya belum cukup membantu dalam mengeksploitasi kerentanan tersebut.
“Perasaan saya, kerentanan ini lebih sulit dieksploitasi daripada yang diperkirakan orang pada awalnya, jadi ini bisa menjadi ancaman yang berlangsung perlahan,” kata Smith.
Menurut laporan, php digunakan pada sekitar 69 persen dari seluruh situs web. Angka itu menjelaskan mengapa kerentanan ini menimbulkan kekhawatiran luas dan memicu respons cepat dari pemerintah, pelaku usaha, serta komunitas keamanan siber di berbagai negara.
Meski eksploitasi masif belum terlihat, kewaspadaan tetap diperlukan. Administrator sistem dan penanggung jawab teknologi diminta segera memasang patch, memperbarui sistem, dan memperkuat langkah perlindungan digital untuk mencegah insiden yang dapat membahayakan informasi atau mengganggu kelangsungan layanan digital.












