Cakrawala News – 10 September 2026 | Kabar seputar aksi korporasi emiten perbankan kembali mencuat. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memastikan akan bagi dividen Rp 6 T, harga saham blue chip malah turun, cek jadwal pembayaran menjadi sorotan pelaku pasar. Perseroan mengumumkan akan membagikan dividen interim termin kedua sebesar Rp 25 per saham pada 16 September 2026, disusul dividen interim berikutnya pada Desember 2026. Meski begitu, harga saham blue chip tersebut justru tercatat melemah di tengah ekspektasi pembagian dividen jumbo tersebut.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh manajemen BCA dalam ajang public expose 2026. Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiardjo, menuturkan bahwa perseroan kini menerapkan pola pembagian dividen interim secara kuartalan, sebuah kebijakan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
“Kami rencana bayar dividen interim kuartalan. Dividen interim termin kedua akan dibagikan 16 September. Untuk kuartal keempat dibagikan Desember 2026. Dividen final Maret tahun depan setelah RUPS Maret 2027,” ujar Rudy.
Dengan pola baru ini, pemegang saham BCA berpotensi menerima dividen lebih sering dalam satu tahun buku. Sebelumnya, perseroan hanya membagikan dividen interim sekali dalam setahun, biasanya pada Desember, sebelum dividen final dibayarkan setelah RUPS.
Jadwal dan Besaran Dividen Interim BCA
Direktur BCA Vera Eve Lim menambahkan bahwa dividen interim termin kedua sebesar Rp 25 per saham akan dibayarkan pada 16 September 2026. Jumlah ini naik dibandingkan dividen interim yang dibagikan pada Juni 2026 sebesar Rp 20 per saham.
“16 September pekan depan yang dibagikan Rp 25 per saham,” kata Vera.
Vera menjelaskan bahwa BCA kini membagikan dividen setiap kuartal. “Sekarang sudah per kuartal, jadi Juni terima dividen interim, September. Nanti Desember tanggal belum tentukan,” ucapnya.
Sebagai gambaran, pada 2025 lalu BCA membagikan dividen interim Rp 55 per saham pada 22 Desember 2025. Kemudian dividen final sebesar Rp 281 per saham dibagikan pada 8 April 2026. Dengan demikian, total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp 336 per saham.
Adapun untuk tahun buku 2026, manajemen memperkirakan dividen final akan dibayarkan pada Maret 2027 setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Payout Ratio Naik, Kinerja Keuangan Jadi Pertimbangan
Dari sisi rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio, BCA mencatatkan angka 72%, meningkat dari periode sebelumnya sebesar 68%. Rudy menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan payout ratio dengan mempertimbangkan kondisi dan kinerja keuangan ke depan.
“Rencana kami juga akan meningkatkan payout ratio lebih lanjut, tapi tentunya akan melihat kondisi dan kinerja keuangan,” ujar Rudy.
Kenaikan payout ratio ini menjadi sinyal positif bagi investor yang mengandalkan dividen sebagai sumber imbal hasil. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kinerja perseroan dan persetujuan pemegang saham dalam RUPS.
Dari sisi kinerja, BCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,5 triliun pada semester I 2026, tumbuh 1,8% secara tahunan (yoy). Kenaikan laba ditopang oleh ekspansi kredit yang untuk pertama kalinya menembus Rp 1.036 triliun, naik 8% yoy.
Target Pertumbuhan Kredit dan BCA Wealth Summit 2026
Selain soal dividen, manajemen BCA juga memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 mendekati 10% secara tahunan, atau berada di batas atas target perseroan sebesar 8%-10%. Vera menyebut pertumbuhan kredit terutama ditopang segmen korporasi.
Permintaan kredit datang dari sejumlah sektor, antara lain perkebunan kelapa sawit, mineral, perikanan, logistik, pusat data atau data center, hingga telekomunikasi.
Seiring dengan itu, BCA kembali menggelar BCA Wealth Summit 2026 pada 16-17 September 2026 secara luring dan dilanjutkan secara daring pada 18 September-2 Oktober 2026. Melalui acara tersebut, BCA berharap semakin banyak masyarakat yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai pentingnya membangun, melindungi, dan mewariskan kekayaan secara berkelanjutan.
Direktur BCA Haryanto T Budiman mengatakan, BCA Wealth Summit pertama kali digelar pada 2022. Saat itu, nilai dana kelolaan atau asset under management (AUM) BCA tercatat sebesar Rp 139 triliun.
Dividen Interim dan Tantangan Pasar
Keputusan BCA membagikan dividen interim secara kuartalan menjadi langkah strategis di tengah dinamika pasar modal. Meski demikian, pergerakan harga saham blue chip yang justru turun menunjukkan bahwa pasar tidak semata-mata merespons positif aksi korporasi ini.
Faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi global, arus keluar dana asing, hingga ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi pergerakan harga saham perbankan. Pelaku pasar pun mencermati apakah kebijakan dividen kuartalan ini akan berdampak pada likuiditas dan valuasi perseroan dalam jangka panjang.
Bagi investor, jadwal pembayaran dividen interim BCA menjadi informasi penting untuk merencanakan strategi investasi. Dengan pembagian yang lebih rutin, pemegang saham dapat memperoleh arus kas yang lebih stabil sepanjang tahun.
Namun, keputusan untuk meningkatkan payout ratio tetap bergantung pada kinerja keuangan perseroan ke depan. Semua mata kini tertuju pada pembayaran dividen interim pada 16 September 2026 dan pengumuman dividen interim berikutnya pada Desember 2026.




