Cakrawala News – 01 November 2026 | Platform prediksi kripto Polymarket kembali menjadi korban serangan siber. Dalam insiden terbaru, situs versi internasional Polymarket hacked dan kehilangan jutaan dolar milik pengguna, memaksa perusahaan untuk sementara menangguhkan perdagangan. Menurut laporan The Wall Street Journal, sekitar 2,6 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp40 miliar dicuri dari sekitar 700 trader.
Polymarket belum mengonfirmasi secara resmi jumlah pengguna yang terdampak. Namun, kepada Wired, perusahaan menyatakan akan mengembalikan dana yang hilang kepada para korban.
Insiden ini bukan yang pertama bagi Polymarket. Pada Juni tahun yang sama, perusahaan mengakui bahwa serangan phishing canggih memungkinkan peretas menyuntikkan kode berbahaya ke situs mereka dan menguras lebih dari 3,1 juta dolar AS dari sekitar selusin dompet pengguna. Sebelumnya, pada tahun lalu, juga muncul dugaan upaya manipulasi hasil akhir taruhan terkait hak mineral Ukraina.
Penyebab Insiden Terbaru
Menurut laporan WSJ, penyebab insiden keamanan terbaru adalah celah pada DebugBear, alat pemantauan dan debugging performa situs pihak ketiga yang digunakan Polymarket. Saat berita ini ditulis, situs Polymarket tidak dapat diakses dan menampilkan kesalahan DNS.
Di media sosial, DebugBear mengaku telah terdampak oleh insiden keamanan yang masih berlangsung dan mendesak pelanggannya untuk menghapus kode embed alat tersebut dari situs mereka. Sementara itu, Polymarket melalui akun X menyatakan telah memperbaiki masalah terkait vendor pihak ketiga dan berjanji bahwa trader yang terdampak akan dipulihkan dananya secara penuh.
Kasus ini menambah daftar panjang masalah keamanan yang membelit platform prediksi tersebut. Selain berulang kali menjadi sasaran peretasan, Polymarket juga disebut sarat dengan penipuan dan perdagangan orang dalam.
Bulan lalu, WSJ melaporkan bahwa penipu membuat akun dengan kartu debit curian di platform AS milik Polymarket dan menggunakannya untuk memasang taruhan, yang secara efektif menjadi sarana pencucian uang. Praktik kecurangan itu begitu marak hingga pada satu titik, sebuah perusahaan yang memproses transaksi kartu debit untuk Polymarket menandai lebih dari 80 persen transaksinya sebagai transaksi curang. Secara keseluruhan, para pelaku berupaya meraup hampir 10 juta dolar AS.
Gelombang Serangan Siber di Sektor Kripto
Insiden di Polymarket terjadi di tengah gelombang serangan siber besar yang melanda industri kripto. Pada periode yang sama, bursa kripto terbesar di dunia, Binance, mengonfirmasi pelanggaran keamanan yang oleh para penyidik disebut sebagai peretasan kripto terbesar dalam sejarah, dengan dana terdampak mencapai 6,3 miliar dolar AS dan sekitar separuhnya telah dibekukan.
Serangan itu dimulai pada Kamis malam, 29 Oktober. Analis blockchain di TRM Labs dan Chainalysis menyebut sebagian besar pencurian berlangsung dalam waktu sekitar 20 menit. TRM mencatat sekitar 6,36 miliar dolar AS keluar dari dompet yang dikendalikan Binance di sepuluh blockchain, termasuk Ethereum, Bitcoin, Tron, Solana, dan XRP Ledger.
Binance menyebutnya sebagai serangan yang kompleks. Perusahaan mula-mula menangguhkan deposit dan penarikan, lalu menyatakan deposit tidak terdampak. Penarikan masih dihentikan sementara bursa membangun kembali keamanan sistem penarikannya. Binance juga memperingatkan bahwa angka utama tersebut masih mungkin bertambah seiring tim menelusuri aset lainnya.
Rekor sebelumnya dipegang bursa Bybit yang kehilangan 1,5 miliar dolar AS pada Februari 2025. Peretasan Binance ini lebih dari empat kali lipatnya. Sejumlah firma intelijen blockchain menuding kelompok peretas Korea Utara, TraderTraitor, yang terkait dengan Lazarus Group, berada di balik serangan. Namun, Binance sendiri berhati-hati dan menyatakan investigasinya belum menetapkan tanggung jawab kepada individu mana pun.
Dampak bagi Pengguna dan Protokol Lain
Serangan terhadap Binance juga berdampak berantai ke protokol keuangan terdesentralisasi. Protokol pinjaman Aave sempat menerapkan pembatasan darurat setelah seorang penyerang yang terkait Binance meminjam wrapped Ether dengan jaminan USDT curian. Aave menegaskan kontrak pintarnya tidak terdampak dan seluruh posisi tetap terjamin sepenuhnya selama insiden.
Meski demikian, pembatasan tersebut membuat nasabah yang sama sekali tidak terkait pencurian ikut terdampak, termasuk larangan menambah jaminan sementara utang mereka terus berbunga. Aave kemudian membuka kembali pasar pinjaman V3 dan V4 pada 30 Oktober, dengan tetap menahan sembilan aset agar tidak memberikan daya pinjam baru sebagai jaminan. Langkah ini memicu perdebatan soal seberapa besar gangguan yang boleh ditimbulkan oleh pengamanan darurat terhadap pengguna lain.
Bagi pengguna aset kripto, rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat bahwa risiko keamanan tidak hanya berasal dari peretasan langsung, tetapi juga dari celah pada vendor pihak ketiga dan efek domino di ekosistem keuangan terdesentralisasi. Bagi Polymarket, tantangan terbesarnya kini adalah memulihkan kepercayaan pengguna setelah serangkaian insiden hacked yang berulang dalam kurun waktu relatif singkat.
Perkembangan selanjutnya yang perlu dicermati adalah hasil investigasi terhadap celah di DebugBear, kepastian pengembalian dana bagi 700 trader terdampak, serta langkah penguatan keamanan yang akan diambil Polymarket agar insiden serupa tidak kembali terulang.










