Cakrawala News – 03 November 2026 | Selebgram Larissa Chou mengungkap bahwa keimanannya sebagai seorang muslimah sempat goyah setelah dua kali mengalami kegagalan rumah tangga. Dalam podcast di kanal YouTube Oki Setiana Dewi, ibu dua anak itu menceritakan perjalanan spiritualnya menghadapi ujian hidup yang datang silih berganti, termasuk setelah pernikahan keduanya dengan Ikram Rosadi berakhir pada 2026.
Pengakuan tersebut menjadi sorotan karena Larissa sebelumnya juga gagal mempertahankan rumah tangga dengan Muhammad Alvin Faiz, putra sulung almarhum Ustaz Arifin Ilham, yang berlangsung sekitar lima tahun. Dua perpisahan itu membuatnya harus menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal sekaligus mempertahankan keyakinan yang telah ia pilih sejak memutuskan menjadi mualaf pada 2016.
Merasa Sedih dan Kecewa, Bukan Marah
Larissa menegaskan bahwa dirinya tidak sedang marah atas apa yang terjadi. Ia lebih merasakan kesedihan dan kekecewaan mendalam. Menurutnya, perasaan itu sempat menggoyahkan keistiqomahannya sebagai seorang muslimah.
“Rissa pribadi mungkin bisa dibilang bukan marah, tapi lebih kepada sedih dan kecewa. Kayak sempat menggoyahkan sedikit keistiqomahan aku sampai berpikir, ‘apakah aku sudah mengambil jalan yang tepat untuk terus berjalan di sini (dengan menjadi seorang Muslimah)?’,” ujar Larissa, seperti dikutip dari podcast tersebut.
Meski begitu, ia tidak ingin berlarut-larut dalam kegagalan. Larissa mengaku sempat teringat pada keluarganya yang masih menanti kepulangannya dan menerimanya tanpa memaksakan kehendak. Kenangan itu menjadi salah satu penopang ketika ia berada di titik terendah.
Memilih Hidup Sendiri demi Ketenangan
Dalam kesempatan yang sama, Larissa Chou buka suara mengenai alasan memilih hidup sendiri setelah dua kali gagal berumah tangga. Ia menegaskan tidak ada perempuan yang bercita-cita mengakhiri pernikahan. Namun, ketika rumah tangga justru lebih banyak menghadirkan kesedihan daripada kebahagiaan, keputusan berpisah bisa menjadi jalan untuk menyelamatkan diri.
“Kalau boleh jujur, gak ada perempuan yang ingin hidup sendiri. Jadi ketika kita memutuskan untuk memilih hidup sendiri, berarti sebenarnya jauh lebih bahagia saat sendiri sepertinya,” kata Larissa.
Bagi perempuan keturunan Tionghoa itu, setiap perempuan berhak mendapatkan perlakuan baik, kasih sayang, dan penghargaan dalam sebuah pernikahan. Ia menilai membangun rumah tangga membutuhkan perjuangan dari kedua belah pihak, bukan hanya satu orang. Karena merasa telah menjalankan perannya dalam hubungan, Larissa pun merasa layak mendapatkan hal yang sama dari pasangan.
“Karena Rissa menurut Rissa, hidup hanya satu kali, Rissa layak untuk dicintai dengan baik, dibahagiakan, diperjuangkan, dan diusahakan karena Rissa juga melakukan hal itu,” tuturnya.
Perjalanan Panjang Menjadi Mualaf
Keputusan bertahan dalam keyakinan bukan hal yang mudah bagi Larissa Chou. Ia mengingat kembali pengorbanan dan penolakan besar dari keluarga ketika pertama kali memutuskan menjadi mualaf pada 2016. Bahkan, ia sempat diusir dari rumah setelah berselisih dengan orang tuanya, meski akhirnya diterima kembali.
Perjalanan awal memahami ajaran agama juga ia lalui dengan penuh keterbatasan secara mandiri. Larissa mengaku sempat mengandalkan konten di internet untuk mencari tahu tata cara pelaksanaan salat. Karena belajar dari YouTube, ia sempat mengira seluruh salat berjumlah empat rakaat, termasuk salat Subuh, sebelum akhirnya memanggil guru ngaji.
“InsyaAllah dengan sisa iman yang masih saya punya. Jangan berekspektasi tinggi karena, saya juga sedang berjuang,” ucapnya.
Mengingat seluruh proses panjang tersebut membuat Larissa sadar bahwa langkah mundur bukanlah jalan keluar. Ia kini berupaya mempertahankan keimanan sebagai mualaf dan tidak lagi menaruh harapan terlalu tinggi terhadap hal-hal di luar kendalinya.
Kisah Larissa Chou ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan publik figur yang kerap disorot dari sisi pernikahannya. Di balik dua perceraian yang dialaminya, ia memilih merawat diri, menjaga ketenangan, dan berusaha tetap istiqomah dalam keyakinan yang telah dipilihnya.
Ke depan, publik tampaknya masih akan mengikuti bagaimana Larissa menjalani perannya sebagai orang tua tunggal bagi dua anaknya sekaligus mempertahankan prinsip untuk tidak lagi mengorbankan diri sendiri dalam sebuah hubungan.












