Cakrawala News – 13 September 2026 | Memasuki hari kelima, upaya pencarian terhadap 5 jurnalis hilang di peliputan erupsi Anak Krakatau masih terus dilakukan tim SAR gabungan di perairan Selat Sunda. Kabar duka ini turut menyita perhatian publik dan sejumlah pejabat, termasuk Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir yang menyatakan harapannya agar seluruh korban segera ditemukan dalam kondisi selamat. “Kita berharap kabar baik datang,” ujar Erick Thohir dalam pernyataannya terkait insiden 5 jurnalis hilang di peliputan erupsi Anak Krakatau, Erick Thohir: Kita berharap kabar baik datang! [titlebase]
Lima jurnalis foto tersebut dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, saat sedang meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Mereka menumpang kapal Arupadhatu 1 bersama awak kapal dan pemandu. Hingga kini, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan mereka meski operasi pencarian telah berlangsung sejak hari pertama.
Kronologi dan Titik Awal Kehilangan
Berdasarkan keterangan keluarga, rombongan berangkat dalam trip yang bersifat mendadak. Yayat Suryadi, anak seorang anak buah kapal (ABK) bernama Sukarman, mengungkapkan bahwa ayahnya semula dijadwalkan berlayar ke perairan Ujung Kulon pada Selasa, 8 September 2026. Namun, pada Senin, 7 September, Sukarman justru ikut dalam perjalanan kilat ke area Selat Sunda.
“Hari Senin itu trip dadakan, trip kilat, nggak bawa baju, nggak ada persiapan apa-apa. Setahu saya besoknya hari Selasa dia jadwal ke Ujung Kulon,” kata Yayat di Carita, Kabupaten Pandeglang, Sabtu, 12 September 2026.
Sukarman disebut telah lama bekerja sebagai ABK di kapal Arupadhatu. Ia biasanya ikut berlayar ketika ada tamu atau wisatawan yang berangkat menggunakan kapal tersebut, satu paket dengan Warta selaku kapten kapal. Selain Sukarman dan Warta, seorang pemandu bernama Heriyanto juga dilaporkan ikut dalam rombongan yang hilang.
Hingga pencarian hari kelima, ketiganya belum ditemukan. Yayat menduga mereka dan lima jurnalis terbawa arus ke perairan yang lebih jauh, bahkan hingga laut lepas. “Misterius, tidak ada tanda-tanda, kalau trouble di laut, ada barang-barang atuh, serpihan terlihat mengapung, ini kan nggak ada. Kemungkinan terbawa ke laut lepas, sinyal susah,” ucapnya.
Operasi Pencarian Diperluas ke Empat Sektor
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa Basarnas mengerahkan 13 kapal untuk operasi hari keempat pencarian. Sebanyak 13 alutsista tersebut diterjunkan ke empat sektor pencarian yang mencakup perairan sekitar Anak Krakatau, pesisir Lampung, hingga laut lepas di sekitar Tanjung Belimbing.
“Untuk hari ini, kami menggerakkan 13 alutsista yang terbagi dalam empat sektor,” kata Al Amrad di Pos SAR Marina Carita, Pandeglang, Banten, Jumat, 11 September 2026.
Rincian alutsista yang dikerahkan meliputi KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB P Peucang, RIB Lampung, KAL Pahowang, TB Gunung Santri, dan KRI Lepu.
Pada sektor A, kapal menelusuri area seluas kurang lebih 1.026 nautical mile dengan melibatkan KRI Kerambit, KP Sanjaya, dan KAL Pahawang. Posisi sektor ini berada di laut lepas, sekitar Tanjung Belimbing, Lampung. Sektor B mencakup area seluas 1.020 nautical mile dengan KRI Lauser dan KAL Anyer yang menyisir wilayah barat Pulau Lampung.
Sementara itu, sektor C memiliki luas area pencarian kurang lebih 585 nautical mile dengan dua alutsista, yakni KN SAR Basudewa dari Lampung dan RIB Lampung. Posisi sektor ini berada di utara Tanjung Belimbing, dengan KN SAR melakukan pencarian di wilayah tengah dan RIB menyisir pesisir pulau atau Tanjung Belimbing.
Tantangan Cuaca dan Temuan di Lapangan
Al Amrad menyebut bahwa tim SAR masih berpatokan pada data BMKG dalam menentukan wilayah pencarian. Ia menyatakan cuaca saat operasi berlangsung cerah berawan, meski perubahan kondisi dapat mengganggu visibilitas. Pencarian melalui udara sempat dilakukan, namun cuaca dinilai tidak mendukung.
“Kemarin juga sudah dicoba melakukan searching, sudah melakukan searching itu kurang lebih sampai di daerah Pesisir Carita ya, dengan ketinggian kurang 15.000 feet dan sampai dengan 25.000 feet dan itu memang tidak ada tanda-tanda,” ujarnya.
Pada Kamis, 10 September 2026, tim SAR gabungan menemukan sebuah life jacket dan pelampung botol di sekitar wilayah Anyer. Namun, Al Amrad belum bisa memastikan apakah barang tersebut berasal dari kapal yang ditumpangi para jurnalis. Pihaknya akan melakukan identifikasi terlebih dahulu.
Pemilik kapal Arupadhatu 1, yang ditumpangi rombongan jurnalis, membantah bahwa pelampung yang ditemukan TNI AL itu berasal dari kapalnya. Hingga saat ini, dari enam sektor yang disisir, hasilnya masih nihil selain temuan tersebut.
Sosok Arie Basuki dan Dedikasi Jurnalis Foto
Salah satu jurnalis yang hilang adalah Arie Basuki atau Arbas, pewarta foto Merdeka.com. Ia dikenal sebagai jurnalis foto senior dengan segudang pengalaman, bahkan berhasil menjuarai kompetisi foto jurnalistik bergengsi World Press Photo 2024.
Rekan kerja Arbas, Budy Susanto, mengenang kegigihan Arbas yang tetap berangkat meliput meski dalam kondisi kurang sehat. “Terus dia nunjukin ‘nih obat-obatnya. Gue minum obat’,” kata Budy menirukan perkataan Arbas di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Mantan pewarta foto Antara, Theresia May, juga mengamini bahwa Arbas merupakan jurnalis foto yang tangguh dalam situasi serumit apa pun. Menurutnya, Arbas telah melewati peliputan di segala medan dan banyak memenangkan lomba foto internasional.
“Makanya kalau dia enggak ada, kita sangat akan kehilangan sekali semangatnya,” tambah Theresia. Ia menyebut Arbas sebagai pribadi rendah hati yang kerap mengayomi rekan-rekan jurnalis foto, terutama yang baru terjun di dunia foto jurnalistik.
Hingga kini, sejumlah instansi berwenang masih terus berupaya melakukan pencarian terhadap kelima pewarta foto tersebut. Keluarga korban, termasuk keluarga Sukarman, terus menanti kabar baik sambil berharap mereka pulang dengan selamat. “Masih terus menunggu kabar baik, mudah-mudahan pulang dengan selamat,” kata Yayat.
Perkembangan operasi pencarian menjadi perhatian banyak pihak, tidak hanya karena melibatkan nyawa para jurnalis yang tengah menjalankan tugas jurnalistik, tetapi juga karena kondisi perairan Selat Sunda yang dinamis. Tim SAR menegaskan akan terus melakukan upaya maksimal dengan mempertimbangkan data cuaca dan kondisi vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan menunggu informasi resmi dari otoritas terkait.










