Cakrawala News – 16 September 2026 | Zack Snyder kembali menjadi sorotan dalam perbincangan dunia hiburan, termasuk di kalangan pengamat film di dc, setelah ia membantah keras berbagai label politik yang dialamatkan kepadanya. Dalam wawancara dengan Variety usai pemutaran perdana film terbarunya, “The Last Photograph“, di Toronto International Film Festival, Snyder menegaskan bahwa tuduhan bahwa dirinya seorang fasis maupun homofobik sama sekali tidak berdasar. Pernyataan itu muncul di tengah badai diskursus daring yang kembali menghantam karya-karyanya.
Film “The Last Photograph” diproduksi oleh istrinya, Deborah, diadaptasi dari naskah kolaborator lamanya, Kurt Johnstad, dan disutradarai sendiri oleh Snyder. Ceritanya mengikuti seorang mantan agen DEA yang diperankan Stuart Martin, yang menempuh perjalanan berbahaya di sebuah negara Amerika Selatan tanpa nama untuk mencari keponakannya yang hilang setelah orang tua mereka dibunuh secara brutal. Ia ditemani seorang fotografer perang yang diperankan Fra Fee, sosok yang menyaksikan pembunuhan tersebut dan bergulat dengan luka batin serta kecanduan heroin.
Proyek ini bukanlah proyek instan. Snyder mengaku telah merencanakan film ini sejak era 2000-an, dengan Christian Bale dan Sean Penn sempat dikabarkan terlibat sebagai bintang. Film akhirnya digarap dalam 32 hari, sebagian besar berlokasi di Kolombia. Snyder bahkan sempat terinfeksi COVID-19 selama produksi dan menjalani proses syuting dengan demam tinggi, namun ia memilih terus bekerja hingga film rampung.
Respons atas Badai Diskursus Daring
Meski dikenal lekat dengan kontroversi di sekitar film-filmnya, Snyder menilai situasi kali ini terasa berbeda. Ia menyebut film ini sebagai karya kecil yang dibuat secara independen, yang ia gunakan sebagai cara memproses kepergian putrinya, Autumn, seorang penulis muda yang meninggal pada 2017. Peristiwa itu membuat Snyder dan Deborah meninggalkan proyek “Justice League” saat tahap pascaproduksi untuk berkabung, sebelum Joss Whedon mengambil alih dan melakukan perubahan besar yang kemudian memicu tuduhan pelanggaran.
Snyder mengaku sempat berharap film kecil ini bisa diterima apa adanya. Namun, ia bangun keesokan harinya dan mendapati linimasa media sosialnya dipenuhi pertempuran opini yang sangat panas. Ia menyebut ada semacam perang yang langsung berkobar, dengan serangan verbal yang menurutnya luar biasa keras, mulai dari ancaman hingga label politik yang saling bertentangan.
“Saya membuat film paling gay yang pernah dibuat,” ujar Snyder dalam wawancara tersebut, sebagai bantahan terhadap tuduhan homofobia yang dialamatkan kepadanya. Pernyataan itu menjadi salah satu kutipan paling menonjol dari sesi wawancara yang berlangsung di lobi hotelnya di Toronto, sehari setelah pemutaran perdana.
Snyder juga mengakui bahwa karya ini sangat dipengaruhi pengalaman hidupnya. Menurutnya, cerita film berubah sedikit karena proses yang ia lalui, dan ia tidak bisa menghindari hal itu masuk ke dalam film. Ia menilai ada katarsis dalam proses mengeksplorasi pengalaman tersebut, meski ia menegaskan tidak pernah berniat menjadikan film itu sebagai sesi terapi pribadi.
Dalam percakapan itu, Snyder juga membahas gaya penyutradaraannya. Ia mengaku menyukai kitsch dalam versi seni tertinggi dan tidak pernah benar-benar lepas dari kecenderungan tersebut, bahkan dalam karya yang serius. Ia menggambarkan dirinya sebagai pembuat film yang selalu sadar bahwa penonton sedang menonton dua aktor berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Konteks Karier dan Masa Depan
Wawancara ini menjadi semacam cermin atas posisi Snyder di industri hiburan. Ia adalah sutradara yang membelah opini, dengan basis penggemar loyal yang pernah menuntut perilisan versi sutradara untuk “Justice League”. Namun, ia juga menghadapi kritik tajam yang kerap kali bersifat personal dan politis, sesuatu yang menurutnya sulit dihindari di era media sosial.
“The Last Photograph” sendiri telah lama dinantikan. Naskahnya sempat mengalami berbagai penyesuaian, dan proses produksinya berlangsung cepat dengan anggaran terbatas. Snyder menyebut keberhasilan menyelesaikan film ini tidak lepas dari kerja tim dan kemampuan mereka memasang produksi secara efisien tanpa dana besar.
Meski menghadapi serangan daring, Snyder tampak tenang dalam wawancara tersebut. Ia mengakui bahwa diskursus keras di sekitar film-filmnya memang sudah menjadi bagian dari kehidupannya, tetapi ia tetap ingin karyanya diberi ruang untuk dinilai sesuai kapasitasnya, bukan semata-mata sebagai medan pertempuran ideologis.
Bagi publik yang mengikuti perkembangan sinema, pernyataan Snyder ini menambah lapisan baru dalam perdebatan tentang batas antara karya seni, identitas pembuatnya, dan reaksi publik. Film “The Last Photograph” kini menjadi titik perhatian berikutnya, terutama bagaimana penonton dan kritikus menilai karya yang lahir dari pengalaman personal mendalam itu.








