Cakrawala News – 17 September 2026 | Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan dukungannya terhadap upaya pemugaran makam pejuang perempuan asal Aceh, Pocut Meurah Intan, yang berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dukungan Ganjar Pranowo itu disampaikan sebagai bentuk penghormatan kepada pejuang sekaligus upaya mempererat persaudaraan antara masyarakat Aceh dan Jawa Tengah.
Menurut keterangan Ganjar, ia pernah mengunjungi langsung makam Pocut Meurah Intan di Blora dan bertemu dengan sejumlah mahasiswa asal Aceh di sana. Pengalaman itu, katanya, semakin menegaskan pentingnya merawat makam tersebut agar tetap terjaga dan menjadi simbol hubungan baik antardaerah.
“Iya ada makam Pocut Meurah Intan yang pernah kami kunjungi, dan bertemu mahasiswa Aceh di sana. Makam ini terus kita rawat sehingga persaudaraan kita semakin kuat,” kata Ganjar.
Dukungan senada datang dari Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Ia berharap lokasi makam pejuang asal Aceh yang berada di Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora, itu dapat dipugar kembali dengan lebih baik sehingga berpotensi menjadi destinasi wisata ziarah.
Harapan Jadi Destinasi Wisata Ziarah
Nova menilai penataan makam Pocut Meurah Intan dapat mendatangkan kunjungan wisatawan, tidak hanya dari Aceh tetapi juga dari Malaysia. Menurutnya, selama ini masyarakat Blora telah merawat makam pejuang perempuan tersebut dengan baik, bahkan menjadikannya panutan bagi warga setempat.
“Menata kembali taman itu menjadi lebih indah, mungkin bisa sekaligus jadi destinasi wisata ziarah,” ujar Nova saat pengukuhan pengurus alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh dan penandatanganan kerja sama pengembangan potensi daerah antara Aceh dan Jawa Tengah di Banda Aceh.
Nova juga menyatakan komitmen Pemerintah Aceh untuk mengalokasikan biaya pemugaran makam Pocut Meurah Intan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Perubahan 2022. Pelaksanaan pemugaran, lanjutnya, menjadi kewenangan Bappeda Aceh.
“Perawatan makam ini harus dilakukan, dan yang berwenang untuk itu adalah Bappeda yang berkewajiban melakukan pemugaran,” kata Nova.
Fokus PDIP pada Isu Nasional
Dalam kesempatan terpisah, Ganjar Pranowo juga menanggapi isu hubungan antara Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pasca pemecatan kader PDIP Achmad Hidayat. Menurut Ganjar, isu tersebut tidak perlu diperpanjang karena Jokowi sendiri telah menyatakan tidak ada masalah dengan Megawati.
Ia mengajak seluruh kader PDIP untuk lebih fokus pada isu-isu penting, seperti kondisi geopolitik global yang berdampak pada ekonomi nasional, penanganan bencana, dan kesejahteraan rakyat. Ganjar menekankan pentingnya memisahkan dinamika politik partai dari hubungan antarindividu di dalam partai.
Ganjar juga menyebut masih banyak momen dan ruang bagi para tokoh bangsa untuk bertemu, sehingga publik dinilai tidak perlu berspekulasi berlebihan mengenai hubungan Presiden Jokowi dan Megawati.
Sementara itu, dalam konteks politik daerah, Ganjar mengungkapkan fenomena unik di Pilkada Jawa Tengah, di mana terdapat calon tunggal dari PDIP yang berhadapan dengan kotak kosong. Menurutnya, dinamika politik di tingkat kabupaten atau kota tidak selalu sejalan dengan koalisi di tingkat provinsi maupun pusat, sehingga memerlukan pendekatan konsolidasi yang intensif untuk memenangkan pemilihan.
Dorongan Pengakuan Pahlawan Nasional
Ganjar Pranowo menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan pengakuan nasional bagi Pocut Meurah Intan sebagai pahlawan nasional. Janji itu sebelumnya juga ia sampaikan kepada mahasiswa Aceh yang ditemuinya di Blora.
Langkah ini menempatkan isu pemugaran makam bukan sekadar persoalan perawatan fisik bangunan, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif atas jasa pejuang perempuan asal Aceh tersebut. Dukungan lintas daerah antara Jawa Tengah dan Aceh menunjukkan bahwa penghormatan terhadap sejarah dapat menjadi jembatan memperkuat persatuan.
Ke depan, pelaksanaan pemugaran makam Pocut Meurah Intan masih menunggu realisasi alokasi anggaran dan kerja Bappeda Aceh. Publik, terutama masyarakat Aceh dan Blora, akan menantikan apakah makam tersebut benar-benar dapat tertata lebih baik dan sekaligus berfungsi sebagai destinasi wisata ziarah seperti yang diharapkan.








