Cakrawala News – 24 September 2026 | Air mata Kiai Hasan Abdullah Sahal di seratus tahun Gontor menjadi momen paling mengharukan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ribuan santri, alumni, ulama, dan tamu undangan, pimpinan Gontor yang telah puluhan tahun mengabdi itu menyampaikan pesan kepemimpinan yang menyentuh dan jauh dari kesan seremonial.
Dalam suasana aula utama yang riuh oleh tepuk tangan, Kiai Hasan yang lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947 itu mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh hidup jauh melampaui kehidupan orang-orang yang dipimpinnya. Jika pakaian, makanan, kendaraan, dan rumah seorang pemimpin jauh lebih mewah daripada yang dinikmati santri, menurutnya santri berhak memprotes, mengkritik, bahkan mendemonya.
Pesan itu bukan sekadar retorika. Publik yang menyimak pidato tersebut langsung mengaitkannya dengan sosok Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, khalifah yang dikenang karena kesederhanaan hidupnya meski memimpin imperium yang luas. Nilai kepemimpinan Umar, yakni kesederhanaan, keberanian dikritik, dan keberpihakan kepada rakyat, dinilai menemukan ruang hidupnya di Gontor.
Pidato yang Menohok di Depan Presiden
Kiai Hasan juga menyinggung kebiasaan cari muka saat menyampaikan sambutan di hadapan Presiden Prabowo. Ucapan itu bermula dari kelakar mengenai kedatangan Presiden. Ia membayangkan bagaimana jika Prabowo tidak jadi hadir, lalu berseloroh bahwa dirinya harus cari muka.
Kelakar tersebut disampaikan dengan gaya khas seorang kiai sepuh yang suaranya masih menggelegar. Meski dibalut humor, pesan di baliknya tetap tajam: kejujuran dan kesederhanaan adalah fondasi kepemimpinan yang sejati.
Momen tersebut menjadi sorotan publik setelah Kiai Hasan berani bicara blak-blakan di hadapan kepala negara. Banyak pihak menilai keberanian itu sebagai cerminan independensi pesantren yang tidak terjebak pada budaya formalitas dan pencitraan.
Profil Singkat Kiai Hasan Abdullah Sahal
KH Hasan Abdullah Sahal merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga pendiri Gontor yang dikenal sebagai Trimurti bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. Ia tumbuh di lingkungan pendidikan pesantren dan mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk dunia pendidikan Islam, dakwah, serta pengabdian masyarakat.
Pendidikan dasarnya diselesaikan di Gontor pada 1959. Tiga bulan sebelum lulus, ia sudah diterima sebagai santri Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor dan menuntaskan pendidikan KMI pada 1965. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sekaligus mengajar di KMI selama sekitar dua setengah tahun.
Pada 1967, Kiai Hasan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi. Kemudian pada 1992, ia mengambil spesialisasi Hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir. Sejak 1985, ia resmi ditunjuk sebagai salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Shoiman Luqmanul Hakim dan KH Abdullah Syukri Zarkasyi.
Saat ini, Kiai Hasan memimpin Gontor bersama Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi dan KH Muhammad Akrim Mariyat. Selain memimpin pesantren, ia juga tercatat sebagai pendiri Pondok Pesantren Putri al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo pada 1989 serta pendiri dan pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an al-Muqoddasah Nglumpang Mlarak pada 1992.
Relevansi Pesan Gontor di Tengah Zaman
Pesan kesederhanaan yang disampaikan Kiai Hasan dinilai relevan di tengah zaman ketika kekuasaan sering identik dengan fasilitas, jabatan dengan kemewahan, dan kepemimpinan dengan jarak dari rakyat. Gontor, sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah berusia satu abad, dianggap tetap konsisten menanamkan nilai-nilai itu kepada para santrinya.
Dalam catatan resmi Gontor, Kiai Hasan juga aktif menghadiri forum ilmiah dan melakukan perjalanan dakwah ke berbagai negara. Di sela kesibukannya mengasuh ribuan santri, ia produktif melahirkan karya-karya bertema keislaman dan kehidupan.
Kiprahnya sebagai ulama bereputasi internasional memperkuat posisi Gontor sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan cakap secara akademik, tetapi juga menanamkan integritas dan keberpihakan kepada masyarakat luas.
Peringatan 100 tahun Gontor sendiri menjadi tonggak penting bagi pesantren yang berdiri sejak 1926 itu. Kehadiran Presiden Prabowo dalam acara tersebut menegaskan pengakuan negara terhadap kontribusi Gontor dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
Namun, bagi banyak pihak, momen paling berkesan bukanlah protokoler acara, melainkan pidato Kiai Hasan. Air mata Kiai Hasan Abdullah Sahal di seratus tahun Gontor menjadi simbol bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesederhanaan dan keberanian menyuarakan kebenaran, bahkan di hadapan penguasa.
Ke depan, pesan itu menjadi tantangan bagi seluruh pemimpin, baik di lingkungan pesantren maupun pemerintahan, untuk terus menjaga kedekatan dengan rakyat yang dipimpinnya. Gontor telah menunjukkan bahwa nilai-nilai Umar bin Khattab tidak lekang oleh zaman dan tetap relevan sebagai pedoman kepemimpinan.












