Cakrawala News – 26 September 2026 | Prospek saham Bakrie BNBR hingga JGLE di era harga Rp 1, mana paling rentan? menjadi sorotan pasar menjelang pemberlakuan aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas bawah harga saham dari Rp 50 atau gocap menjadi Rp 1 per saham mulai 28 September 2026. Kebijakan ini membuka ruang perdagangan pada rentang harga yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler, termasuk bagi sejumlah emiten yang bernaung di bawah Grup Bakrie.
Sejumlah saham kelompok usaha Bakrie memang memiliki rekam jejak panjang di level gocap. Beberapa di antaranya bahkan kini tengah disuspensi bursa, seperti PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di harga Rp 38, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di Rp 32, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang masih berada di level Rp 50.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai perubahan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 tidak bisa langsung dikaitkan sebagai sentimen negatif terhadap saham-saham Grup Bakrie. Ia menegaskan aturan tersebut berlaku untuk seluruh saham di BEI, bukan khusus emiten Bakrie.
“Dengan kata lain, aturan ini hanya membuka ruang harga yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler,” kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Selasa (22/9).
Meski begitu, ia mengakui implementasi aturan ini tetap menjadi perhatian karena sejumlah saham Bakrie telah cukup lama bertengger di level Rp 50. Namun, Thoriq menilai perubahan aturan BEI tidak otomatis membuat harga saham yang saat ini berada di Rp 100, Rp 200, hingga Rp 1.000 langsung jatuh menuju Rp 50.
Menurutnya, harga saham tetap ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran, ditambah kondisi fundamental masing-masing perusahaan. Risiko penurunan menuju Rp 50 tetap ada, tetapi lebih terkonsentrasi pada saham yang harganya masih dekat dengan level tersebut dan fundamentalnya belum cukup kuat.
JGLE Disebut Paling Rentan
Apabila melihat posisi harga dan kondisi fundamental, Thoriq menilai PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) menjadi salah satu saham yang paling rentan. Harga JGLE saat ini diperdagangkan di sekitar Rp 69, atau masih relatif dekat dengan level Rp 50.
Selain itu, fundamental JGLE dinilai belum memberikan bantalan yang kuat karena perusahaan masih membukukan kerugian. Dengan kondisi tersebut, tekanan jual setelah harga di bawah Rp 50 diperbolehkan berpotensi lebih berdampak terhadap saham JGLE dibandingkan saham Bakrie yang telah mencatatkan laba dan memiliki harga jauh di atas Rp 50.
Thoriq juga menilai kebangkitan saham-saham Bakrie saat ini belum merata. Sebagian saham telah mendapat dukungan dari perbaikan fundamental, sementara sebagian lainnya masih bergantung pada momentum pasar.
Sebaliknya, saham Bakrie yang sudah jauh di atas Rp 50 dan memiliki pertumbuhan laba lebih solid dinilai relatif lebih rendah risikonya untuk kembali ke gocap, selama kondisi fundamentalnya tidak berubah signifikan.
Jejak Gocap BUMI dan BNBR
Riwayat saham Grup Bakrie menunjukkan bahwa level Rp 50 bukan sekadar batas psikologis. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), salah satu emiten paling dikenal dalam kelompok usaha ini, pernah lama terjebak di level tersebut.
Data Katadata mencatat saham BUMI berada di Rp 50 sepanjang Oktober 2015 hingga Juni 2016 sebelum kemudian mulai bergerak naik. Pada Oktober 2016, harganya telah mencapai Rp 123 setelah sebelumnya melonjak 146% sejak Juni.
Beberapa tahun kemudian, BUMI kembali masuk fase gocap. Saham emiten batu bara itu berada di Rp 50 sejak November 2020. Pada awal 2021, BUMI mulai bangkit dan sempat mencapai Rp 130 pada 18 Januari sebelum kembali terkoreksi ke Rp 56 pada awal Februari. Hingga 19 Maret 2021, saham BUMI telah berada di Rp 64.
Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah menuntaskan kuasi reorganisasi. Hingga 21 Agustus 2024 yang menjadi batas waktu sanggahan bagi kreditur yang tidak setuju terhadap kuasi reorganisasi, tidak ada kreditur yang menyatakan keberatan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perbaikan struktur keuangan perseroan yang turut memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek saham Bakrie BNBR hingga JGLE di era harga Rp 1, mana paling rentan.
Fundamental Tetap Penentu
Thoriq menilai prospek saham Grup Bakrie setelah aturan baru BEI berlaku akan kembali pada fundamental masing-masing emiten. Menurutnya, aturan tersebut hanya mengubah mekanisme perdagangan, bukan kondisi bisnis perusahaan.
Artinya, investor tetap perlu mencermati kinerja keuangan, prospek usaha, serta posisi harga masing-masing saham sebelum mengambil keputusan. Saham yang harganya masih dekat dengan Rp 50 dan belum mencetak laba berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Sebaliknya, emiten yang fundamentalnya membaik dan harganya sudah jauh meninggalkan level gocap memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan posisinya.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai prospek saham Bakrie BNBR hingga JGLE di era harga Rp 1, mana paling rentan, tidak bisa dijawab hanya dari perubahan aturan bursa. Faktor fundamental, arah laba, dan posisi harga masing-masing emiten akan menjadi penentu utama.
Pelaku pasar pun disarankan menunggu implementasi aturan pada 28 September 2026 untuk melihat bagaimana respons permintaan dan penawaran terhadap saham-saham Grup Bakrie, terutama emiten yang masih berada di sekitar level Rp 50.












