Energi  

Trump Dukung Larangan Ekspor Diesel AS, Harga BBM Global Terancam Naik

Trump Dukung Larangan Ekspor Diesel AS, Harga BBM Global Terancam Naik
Trump Dukung Larangan Ekspor Diesel AS, Harga BBM Global Terancam Naik

Cakrawala News – 26 September 2026 | Dampak jika Trump melarang ekspor diesel dari Amerika Serikat menjadi sorotan pasar energi dunia setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap rencana penghentian ekspor solar. Kebijakan ini muncul ketika harga rata-rata diesel di AS menembus rekor di atas 6 dolar AS per galon, memicu kekhawatiran bahwa pembatasan justru dapat memperburuk krisis bahan bakar global dan mendorong kenaikan harga di berbagai negara.

Menurut asosiasi pengendara AAA, harga rata-rata solar di AS mencapai level tertinggi baru sebesar 6,53 dolar AS per galon pada Selasa, melonjak dari 3,76 dolar AS per galon pada awal perang Amerika Serikat-Iran akhir Februari. Lonjakan ini mengancam posisi Partai Republik yang dipimpin Trump untuk mempertahankan kendali atas Kongres dalam pemilu sela November.

“Saya sudah bilang, mari kita jangan kirim solar ke luar,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip dari pernyataannya. Ia mengaku telah meminta hal tersebut kepada jajaran pemerintahannya dan telah membicarakannya.

Dorongan Politik di Tengah Rekor Harga

Solar memegang peran penting dalam angkutan darat, pertanian, dan konstruksi. Karena itu, kenaikan harganya dapat dengan cepat menyebar ke berbagai sektor ekonomi dan mendorong inflasi. Tekanan politik terhadap pemerintahan Trump pun meningkat menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.

Sejumlah tokoh Partai Republik telah menyerukan pembatasan ekspor solar. Politico sebelumnya melaporkan pemerintahan Trump tengah menyiapkan rencana untuk melarang ekspor solar selama 90 hari. Namun, Gedung Putih membantah laporan tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintah lebih mempertimbangkan pembatasan ekspor daripada larangan total. Ia bahkan menyatakan bahwa larangan ekspor diesel tidak akan efektif.

Pertanyaan mengenai larangan ekspor tersebut masih tampaknya memecah pandangan di dalam pemerintahan Trump. Pemerintah AS masih mengkaji apakah larangan akan diberlakukan secara penuh atau hanya sebagian.

Dampak terhadap Harga di Dalam Negeri

Dalam jangka pendek, jika ada larangan ekspor, akan ada lebih banyak pasokan di AS dan karena itu harga akan turun di dalam negeri. Hal itu disampaikan analis Rystad Energy, Jorge Leon, kepada AFP.

Amerika Serikat memproduksi lebih banyak solar daripada yang dikonsumsinya, dengan mengekspor 1,3 juta barel per hari dan mengimpor 0,2 juta barel per hari, menurut analis Morgan Stanley. Solar dimurnikan dari minyak mentah bersama bahan bakar transportasi lainnya, terutama bensin dan minyak tanah yang digunakan untuk menggerakkan pesawat.

Namun, larangan ekspor akan membuat tangki penyimpanan produk olahan di sepanjang Pantai Teluk AS penuh dalam waktu sekitar tiga minggu, kata analis Morgan Stanley. Kondisi ini dapat memaksa kilang mengurangi produksi karena kehilangan akses ke pasar ekspor.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan stok diesel AS berada pada level terendah untuk periode tersebut. Sementara itu, EIA memperkirakan persediaan distilat tetap berada di bawah 100 juta barel hingga akhir 2026. Karena itu, tambahan pasokan dari penghentian ekspor berpotensi memberikan ruang bagi pasar domestik dalam jangka pendek.

Meski demikian, penurunan harga belum tentu berlangsung lama. Pasar diesel AS tetap terhubung dengan harga energi global, sehingga pembatasan ekspor tidak otomatis menghilangkan faktor eksternal. Analis menilai larangan tersebut dapat memberikan bantuan terbatas terhadap harga domestik.

Risiko bagi Pasar Global dan Negara Importir

Dampak jika Trump melarang ekspor diesel dari Amerika Serikat juga dirasakan negara importir. AS merupakan pemasok penting diesel bagi pasar internasional, sehingga penghentian ekspor dapat mengurangi jumlah bahan bakar yang tersedia bagi negara-negara pengimpor, terutama Eropa.

Reuters melaporkan ekspor diesel dari kawasan Timur Tengah telah turun tajam, sementara persediaan diesel di pusat perdagangan Eropa juga berada pada level rendah. Kondisi ini membuat pasar diesel global semakin sensitif terhadap gangguan pasokan.

Industri minyak AS pun memperingatkan bahwa larangan ekspor justru dapat menjadi bumerang. CEO American Petroleum Institute (API) Mike Sommers menegaskan pembatasan ekspor energi AS hanya akan memperburuk masalah dan memperparah tantangan di sektor pengolahan minyak serta pada akhirnya merugikan konsumen.

“Solusinya adalah meningkatkan pasokan dan fleksibilitas, bukan membuat pembatasan baru yang berisiko memperburuk situasi yang sudah sulit,” ujar Sommers.

Peringatan serupa datang dari kalangan analis yang menilai kebijakan semacam itu hanya akan memberikan sedikit dampak terhadap tingginya harga energi, serta berpotensi memperburuk pasokan global dan mengganggu perekonomian.

Reaksi pasar pun terlihat. Saham perusahaan pengolahan minyak AS seperti Valero, Marathon Petroleum, dan Phillips 66 turun pada Rabu setelah muncul laporan rencana larangan ekspor solar selama 90 hari. Kontrak berjangka diesel ultra-low-sulfur juga sempat turun sekitar 5 persen dalam perdagangan tengah hari.

Konteks Geopolitik yang Memperumit

Kebijakan ini muncul di tengah ketegangan AS-Iran yang kembali memanas. Harga minyak mentah Brent sempat ditutup naik hampir 4 persen menjadi 103,08 dolar AS per barel, sementara WTI naik menjadi 92,16 dolar AS per barel, setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tidak akan pernah menyerah menghadapi AS.

Namun, harga minyak mentah dunia kemudian kompak melemah setelah Iran menyatakan masih terbuka terhadap diplomasi untuk mengakhiri perang dengan AS. Kontrak berjangka Brent turun ke level 102,48 dolar AS per barel, sedangkan WTI berada di level 91,86 dolar AS per barel.

Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut Washington terhadap Iran menjadi salah satu topik yang dibahas dalam perundingan tidak langsung. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama persyaratan yang diajukan Iran belum dipenuhi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kesepakatan dengan Iran membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu, dan menambahkan bahwa Presiden Trump juga memiliki opsi militer.

Dengan latar belakang tersebut, dampak jika Trump melarang ekspor diesel dari Amerika Serikat tidak hanya soal harga di dalam negeri, tetapi juga keseimbangan pasokan energi global. Keputusan akhir masih menunggu kajian pemerintah, sementara pasar terus mencermati sinyal dari Gedung Putih dan perkembangan perundingan AS-Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *