Daerah  

Analis ESDM Ungkap Dugaan Penyebab Suara Gemuruh dari Dalam Tanah yang Gegerkan Warga Sampang

Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Fenomena suara gemuruh dari dalam tanah gegerkan warga Sampang, analis ESDM ungkap dugaan penyebab [titlebase] menjadi sorotan setelah sejumlah warga melaporkan getaran dan bunyi keras yang berasal dari bawah permukaan tanah. Meski demikian, penjelasan resmi terkait fenomena ini masih merujuk pada mekanisme pelepasan tekanan gas yang biasa terjadi pada aktivitas vulkanik, sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati.

Dalam keterangan tertulisnya, Rita menjelaskan bahwa suara dentuman pada erupsi gunung api pada dasarnya dapat terjadi karena pelepasan tekanan secara sangat cepat di kawah atau saluran bagian atas. Saat gas vulkanik yang terperangkap dalam magma atau di bawah material penyumbat mengalami overpressure, tekanan tersebut kemudian dilepaskan secara tiba-tiba.

“Terjadi ekspansi gas yang cepat ke atmosfer. Ekspansi ini menghasilkan gelombang tekanan akustik yang pada kondisi tertentu dapat terdengar sebagai dentuman. Mekanisme umum ini memang khas pada erupsi eksplosif,” ujar Rita.

Kronologi dan Data Pemantauan

Penjelasan ini muncul setelah peristiwa erupsi Gunung Semeru yang disertai muntahan material vulkanik berupa kolom abu setinggi kurang lebih 600 meter di atas puncak, atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut. Erupsi tersebut terjadi pada pukul 21.01 WIB.

Berdasarkan rekaman video kamera CCTV pemantauan di sekitar kawasan Gunung Semeru, gemuruh dentuman terekam dengan jelas pada pukul 21.02.22 WIB. Laporan resmi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru PVMBG mencatat kolom abu berwarna putih hingga kelabu tersebut bergerak condong ke arah barat daya.

Di seismogram, erupsi terekam memiliki amplitudo maksimum 22 mm dengan durasi sementara sekitar 2 menit 9 detik. Data ini menjadi dasar bagi PVMBG untuk menegaskan bahwa suara dentuman yang terdengar murni berasal dari pelepasan energi akibat erupsi dan merupakan hal yang wajar terjadi saat gunung api meletus.

“Suara dentuman karena terjadinya erupsi,” jelas Rita Susilawati saat dikonfirmasi. Ia menambahkan bahwa kemunculan suara keras tersebut merupakan fenomena yang lumrah. “Biasa terjadi. Kadang erupsi gunung api dapat disertai dengan dentuman kadang tidak,” tuturnya.

Status Aktivitas dan Imbauan Zona Bahaya

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Semeru masih bertahan pada Status Level III (Siaga). PVMBG kembali memperingatkan warga dan wisatawan untuk mematuhi seluruh rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan.

Warga dan pengunjung dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak. Selain itu, batas aman 500 meter dari sempadan tepi sungai Besuk Kobokan wajib dipatuhi guna menghindari perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km.

Fenomena suara gemuruh dari dalam tanah gegerkan warga Sampang, analis ESDM ungkap dugaan penyebab [titlebase] ini menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik dapat menghasilkan bunyi yang terdengar hingga ke permukiman. Pemahaman terhadap mekanisme pelepasan tekanan gas diharapkan dapat mengurangi kepanikan warga saat mendengar suara serupa di kemudian hari.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan mengikuti arahan resmi dari otoritas vulkanologi. PVMBG menegaskan bahwa pemantauan berkelanjutan akan terus dilakukan untuk memastikan keamanan warga di sekitar kawasan rawan bencana.

Dengan status Siaga yang masih berlaku, koordinasi antara pemerintah daerah, pos pengamatan gunung api, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mitigasi risiko. Warga diimbau tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *