Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Data center AI butuh 400 liter air per detik, PDAM: Tak kuras Waduk Jatiluhur menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mempertanyakan ketersediaan air baku di tengah rencana operasional pusat data kecerdasan buatan milik BDx Data Center di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Dalam dialog bersama Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso dan pihak PDAM Purwakarta, Dedi meminta penjelasan mengenai alokasi air baku untuk masyarakat dan kebutuhan proyek tersebut. Pihak pengelola air memastikan kebutuhan operasional data center tidak akan menguras pasokan Waduk Jatiluhur.
Pertanyaan itu muncul karena proyek bernama AI Campus 2 (CGK4) tersebut diproyeksikan menyedot air hingga 384 liter per detik, atau sekitar 400 liter per detik, setara 33.000 meter kubik per hari saat beroperasi pada kapasitas penuh. Angka itu menjadi perhatian publik, terutama karena Waduk Jatiluhur selama ini menjadi tulang punggung irigasi sawah di lumbung padi Jawa Barat.
Alokasi Air dan Klaim Jasa Tirta II
Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso menjelaskan, alokasi air baku untuk Kabupaten Purwakarta mencapai 3.000 liter per detik atau setara 3 meter kubik per detik. Dari alokasi tersebut, pemakaian saat ini disebut sekitar 300 liter per detik, sehingga masih terdapat sekitar 2.700 liter per detik yang belum digunakan.
Menurut Imam, kebutuhan air untuk operasional data center AI BDx yang diperkirakan mencapai 384 hingga 400 liter per detik masih dapat dipenuhi dari alokasi air untuk Purwakarta melalui PDAM. Dedi kemudian menanyakan apakah kebutuhan BDx berpotensi mengurangi ketersediaan air Jatiluhur, termasuk ketika terjadi kemarau panjang.
“Karena sudah dialokasikan, rencana alokasinya 3.000 liter per detik untuk Purwakarta, jadi tidak akan terkuras,” jawab Imam.
Dengan perhitungan itu, Jasa Tirta II dan PDAM Purwakarta menyatakan pasokan untuk pertanian dan warga tidak akan terganggu. Namun, Pemprov Jawa Barat tetap meminta konsultan proyek membuka hasil kajian teknis secara transparan kepada publik serta berkoordinasi erat dengan Perum Jasa Tirta II dan PDAM Purwakarta.
Proyek Disetop karena Izin Belum Terbit
Wacana konsumsi air itu berkembang di tengah penghentian sementara pembangunan pusat data AI tersebut. Gubernur Dedi Mulyadi menghentikan pengerjaan proyek setelah melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pada 28 September 2026. Alasannya, dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum diterbitkan Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
“PBG dan AMDAL belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya. Berhentikan dulu pembangunannya,” kata Dedi Mulyadi dalam keterangan di Bandung.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Mas Adi Komar mengonfirmasi bahwa kepastian belum keluarnya izin lingkungan dan bangunan tersebut diklarifikasi langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta di lapangan. Menurutnya, proses perizinan yang dikeluarkan Purwakarta, baik AMDAL maupun PBG, masih dalam proses.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun itu dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi sebagai bagian dari kawasan pengembangan seluas 11 hektare. Fasilitas tahap awal memiliki kapasitas 120 megawatt (MW), dengan rencana pengembangan hingga 640 MW. Peletakan batu pertama dilakukan pada 22 September 2026, dan penghentian terjadi enam hari setelahnya.
Dorongan Kajian Dampak dan Aturan Investasi
Institute for Essential Services Reform (IESR) mendukung langkah Pemprov Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan proyek tersebut. Lembaga kajian energi itu juga meminta pemerintah pusat segera menyusun aturan bagi investasi data center di Indonesia.
“Kami menghargai ketegasan Gubernur Jawa Barat,” kata CEO IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026). Menurut dia, investasi data center memang bagian penting dari pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, namun pembangunan harus tetap berjalan dengan menghormati keberlanjutan sumber daya air, keandalan listrik, dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.
IESR menyoroti kebutuhan sumber daya proyek itu. Pada tahap pengembangan berikutnya, kebutuhan air diperkirakan mencapai 384 liter per detik, atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari. Dalam setahun, jumlahnya lebih dari 12 juta meter kubik. Untuk listrik, beban 640 MW yang beroperasi penuh sepanjang tahun setara konsumsi sekitar 5,6 terawatt-jam (TWh) per tahun. “Satu fasilitas 640 MW membutuhkan listrik sebesar keluaran pembangkit besar,” kata Fabby.
Mengapa Data Center AI Haus Air
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, menjelaskan bahwa pusat data AI menggunakan air sebagai salah satu media untuk menjaga suhu perangkat keras agar tidak terlalu panas ketika memproses perintah pengguna.
“Menggunakan AI akan mengurangi air minum kita? Betul, data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ujar Prof Zulys melalui unggahan video edukasi di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (2/10/2026).
Dia menjelaskan, setiap kali pengguna memberikan pertanyaan kepada AI, proses tersebut melibatkan ribuan chip di pusat data. Chip bekerja melakukan miliaran operasi komputasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas. Menurut Prof Zulys, kondisi itu dapat dianalogikan seperti manusia yang sedang berpikir keras ketika menghadapi ujian. Semakin berat beban komputasi, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat.
“Jadi gampangnya, AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya. Kalau tidak segera didinginkan, mesin data bisa rusak. Prosesnya menggunakan air. Kenapa air? Air sebagai materi menakjubkan yang punya kapasitas panas tinggi,” ucapnya. Ia merujuk penelitian University of California, Riverside bersama University of Colorado mengenai konsumsi air dalam pemrosesan model AI.
Kronologi dan Sikap Pemprov
Dedi Mulyadi menegaskan dirinya sejak awal tidak sekadar hadir dalam agenda seremonial. Ia mengaku menerima rombongan pengusaha yang akan membangun pusat data tersebut sebelum memutuskan mengecek langsung kondisi proyek.
“Kemudian saya terima di Gedung Sate, dan saya selalu memastikan aspek administratifnya harus terpenuhi dan harus lancar karena ini investasi. Kemudian beberapa hari setelah itu, saya telepon, ‘Besok saya mau ke situ.’ Saya mau mengecek ke lapangan bagaimana kondisinya. Dan kemudian saya datang,” kata Dedi saat diwawancarai di Bandung, Jumat (2/10/2026).
Dari pengecekan itu, ia menyebut dua persyaratan, yakni AMDAL dan PBG yang dikeluarkan Pemkab Purwakarta, belum terbit. Ketiadaan dua dokumen krusial tersebut dinilai berpotensi memicu sengketa hukum dan dampak lingkungan serius, terlebih proyek itu memicu keresahan publik terkait potensi gangguan kebisingan serta ancaman krisis air bagi petani lokal.
Pemprov Jawa Barat memastikan tidak akan menghambat masuknya investasi infrastruktur digital skala besar. Namun, pihak konsultan dan manajemen BDX Data Centers diwajibkan menyelesaikan seluruh persyaratan perizinan di Pemkab Purwakarta sesuai kaidah hukum sebelum mengoperasikan kembali kegiatan konstruksi.
Ke depan, publik menantikan hasil kajian teknis yang dibuka secara transparan, kepastian izin lingkungan dan bangunan, serta jaminan bahwa alokasi air baku 3.000 liter per detik untuk Purwakarta tetap aman bagi petani dan warga, termasuk pada musim kemarau panjang. Penghentian sementara ini menjadi ujian bagi tata kelola investasi data center AI di Indonesia, yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi digital dan keberlanjutan sumber daya air.






