Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Artis Luna Maya mengadakan upacara melaspas untuk rumah barunya di Bali pada 1 Oktober 2026. Upacara adat Bali tersebut digelar sebagai bentuk penyucian bangunan sekaligus doa agar hunian baru membawa keselamatan dan kebaikan bagi penghuninya. Momen ini dibagikan Luna melalui akun Instagram pribadinya dan langsung menarik perhatian publik, termasuk sejumlah warganet yang memperdebatkan keterlibatannya dalam ritual tersebut.
Dalam prosesi itu, Luna tampil mengenakan kebaya Bali berwarna putih dengan riasan sederhana. Ia didampingi suaminya, Maxime Bouttier, yang mengenakan kemeja putih dan pengikat kepala khas Bali. Acara berlangsung khidmat dan dipandu oleh sejumlah pemangku serta pendeta agama Hindu.
Kehadiran keluarga besar turut mewarnai momen tersebut, termasuk ibu Luna Maya, Desa Maya. Menurut pemberitaan, kebersamaan keluarga membuat acara ini terasa istimewa karena menjadi kesempatan berkumpul bersama orang-orang terdekat di tengah rangkaian prosesi adat.
Rangkaian Prosesi Melaspas
Melaspas merupakan tradisi masyarakat Bali yang dilakukan berkaitan dengan rumah atau bangunan baru. Secara etimologis, istilah melaspas berasal dari dua kata, yakni “melas” yang berarti pisah dan “pas” yang berarti cocok. Maknanya menggambarkan proses penyatuan berbagai unsur berbeda, seperti kayu, tanah, dan batu, menjadi sebuah bangunan yang layak dihuni.
Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, bangunan baru dianggap belum siap ditempati sebelum menjalani prosesi ini. Melaspas bertujuan menyeimbangkan kekuatan positif dan negatif di lingkungan sekitar agar kehidupan baru yang dimulai di hunian tersebut penuh berkah.
Prosesi biasanya dipimpin oleh seorang pemangku, sementara untuk tempat suci atau pura dilakukan oleh sulinggih. Sebelum rangkaian utama dimulai, digelar upacara mecaru yang bertujuan mempersembahkan sesajen berupa labaan kepada bhuta kala. Tahap ini dimaknai sebagai upaya menetralisasi dan mengembalikan energi negatif yang mendiami bangunan agar kembali ke tempat asalnya.
Rangkaian berlanjut dengan menancapkan orti pada mudra bangunan sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pemasangan ulap-ulap, yakni kain putih bertuliskan aksara suci, juga dilakukan sesuai jenis bangunan. Setelah itu, ada prosesi pangurip-urip atau menggoreskan arang bunga di tiap bangunan sebagai lambang Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Iswara. Prosesi terakhir adalah ngayab banten ayaban, ngayabang pras pamelaspas, serta ngayabang caru perabot ngeteg-linggih, khususnya jika yang dipelaspas adalah tempat suci atau pelinggih.
Rumah Baru Bernuansa Hangat
Selain prosesi adat, suasana rumah baru Luna dan Maxime turut menjadi perhatian. Hunian tersebut mengusung nuansa hangat melalui dominasi warna cokelat, elemen kayu, dan pencahayaan alami. Bagian belakang rumah juga dilengkapi kolam renang. Dalam unggahannya, Luna memperlihatkan sejumlah sudut rumah yang dinilai indah dan nyaman.
Melalui keterangan pada unggahannya, Luna menuliskan pesan yang menyebut rumah sebagai tempat hati menemukan kedamaian, berakar pada tradisi dan dirangkul oleh keanggunan abadi. Unggahan itu telah disukai lebih dari 21.000 kali dan memicu beragam respons dari warganet.
Perdebatan Warganet soal Tradisi dan Agama
Respons publik terbelah. Sebagian warganet menyoroti keterlibatan Luna dalam ritual keagamaan yang berbeda dari latar belakang agamanya yang diketahui sebagai seorang Muslim. Sejumlah komentar menilai adat dan budaya boleh dihormati, tetapi ritual keagamaan sebaiknya tidak dicampuradukkan.
Beberapa akun menyampaikan pandangan tersebut secara terbuka di kolom komentar. Ada yang mengingatkan agar tradisi Bali tidak dicampuradukkan dengan agama Islam, ada pula yang mempertanyakan alasan Luna tidak menggelar pengajian sebagai ungkapan syukur atas rumah barunya. Kritik serupa juga muncul di sejumlah pemberitaan media daring.
Di sisi lain, melaspas sendiri merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat Bali yang lazim dilakukan berkaitan dengan bangunan baru. Tradisi ini tidak hanya soal ritual, tetapi juga menjadi bentuk ungkapan syukur atas rumah yang telah dimiliki.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Luna Maya maupun Maxime Bouttier terkait perdebatan yang muncul. Keduanya sejauh ini hanya membagikan momen prosesi melalui media sosial tanpa menanggapi komentar warganet secara khusus.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal, budaya, dan keyakinan pribadi kerap bersinggungan ketika seorang figur publik membagikan momen privatnya ke ruang publik. Publik tampaknya masih akan menantikan apakah Luna dan Maxime akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pilihan menjalani prosesi adat tersebut.












