Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Novak Djokovic kembali menegaskan dominasinya di Beijing setelah keluar sebagai juara China Open 2026. Petenis Serbia berusia 39 tahun itu mengalahkan Alex de Minaur di partai final, namun gelar ke-102 dalam kariernya tersebut diraih dengan cara yang tidak biasa karena sang lawan harus menghentikan pertandingan akibat cedera.
Laga final di Beijing berlangsung dramatis sejak set pertama. Djokovic harus bekerja keras untuk menutup set pembuka melalui tiebreak dengan skor 7-6 (7-3) setelah pertarungan sengit yang berlangsung selama 67 menit. Kedua pemain bahkan membutuhkan perawatan medis di tengah pertandingan.
Djokovic meminta bantuan tim medis untuk menangani masalah fisik yang terus membayanginya. Tidak lama setelah perawatan di lapangan, giliran De Minaur yang harus menjalani medical timeout di luar lapangan karena cedera pangkal paha.
Petenis nomor satu Australia itu sempat kembali ke lapangan dengan paha kiri dibalut tebal. Ia bahkan mampu memenangi gim pertama set kedua untuk menyamakan kedudukan menjadi 0-1. Namun, setelah gim tersebut, De Minaur berjalan ke arah net dan menyalami Djokovic, memberi tahu bahwa ia tidak sanggup melanjutkan pertandingan.
Kekecewaan De Minaur
Pengunduran diri De Minaur menjadi akhir yang pahit dari pertandingan yang sebelumnya berjalan sangat kompetitif. Dalam sesi penyerahan trofi, ia menyampaikan permintaan maaf kepada para penonton yang telah hadir menyaksikan laga final.
“I don’t feel great … I want to say sorry to all the amazing fans,” ujar De Minaur dalam pidato runner-upnya.
De Minaur tidak memberikan keterangan rinci mengenai jenis cederanya. Ia hanya menyampaikan permintaan maaf kepada penonton dan mengaku sangat kecewa karena harus mengakhiri pertandingan dengan cara tersebut.
Bagi De Minaur, ini merupakan final pertamanya di ibu kota China tersebut. Sepanjang perjalanan menuju partai puncak, ia berhasil mengalahkan Hubert Hurkacz, Andrey Rublev, Quentin Halys, dan Mariano Navone.
Permintaan Maaf Djokovic
Di sisi lain, Djokovic juga menjadi sorotan karena sikapnya dalam sesi penyerahan trofi. Pada awalnya, ia lebih dulu membahas perasaannya setelah meraih gelar ketujuh China Open dan trofi pertamanya dalam hampir 12 bulan terakhir.
Namun, Djokovic kemudian menyadari kesalahannya karena tidak langsung menyebut De Minaur dalam pidatonya. Ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“I just realised, it was rude for me not to start with Alex and his team. Congratulations for a great week,” kata Djokovic.
Petenis yang kini menempati peringkat ke-11 dunia itu juga mendoakan kesembuhan cepat bagi De Minaur. Ia menyebut petenis Australia tersebut sebagai salah satu pemain paling menarik untuk ditonton di tur profesional.
“I’m really sorry for the way it has finished today. I really hope you can recover quickly. You’re definitely one of the most exciting players to watch on the tour,” tambahnya.
De Minaur merespons pernyataan tersebut dengan ucapan terima kasih kepada Djokovic.
Rekor dan Pencapaian
Kemenangan ini memperpanjang catatan sempurna Djokovic di China Open menjadi 34-0. Sepanjang turnamen, ia juga mengalahkan Daniil Medvedev, Alexander Zverev, Bu Yunchaokete, dan Nuno Borges.
Gelar di Beijing merupakan trofi ATP Tour ke-102 bagi Djokovic. Ia kini hanya terpaut satu gelar dari mantan rivalnya, Roger Federer. Ini menjadi gelar pertamanya sejak menjuarai ATP 250 di Athena pada November tahun lalu.
Menariknya, Djokovic melaju ke final setelah diuntungkan oleh diskualifikasi Daniil Medvedev di semifinal. Petenis Rusia itu didiskualifikasi karena memukul bola ke arah tribun hingga mengenai wajah seorang penonton. Insiden surealis tersebut membuat Djokovic melenggang ke partai puncak.
Dari sisi perolehan poin, Djokovic mendapatkan 500 poin ATP ranking sebagai juara, sementara De Minaur mengumpulkan 330 poin sebagai runner-up. Hasil ini menjadi modal penting bagi keduanya dalam menjaga posisi di persaingan ranking dunia.
Kontroversi Seputar Kebangsaan
Nama Djokovic juga sempat menjadi perbincangan di luar lapangan. Dalam sebuah audiensi di Istana Apostolik, Vatikan, Presiden Montenegro Jakov Milatović menyerahkan sebuah raket tenis kepada Paus Leo. Saat memberikan raket tersebut, ia menyebut bahwa Djokovic berasal dari Montenegro.
Paus Leo yang dikenal sebagai penggemar tenis dan pernah bermain tenis secara rutin langsung mengoreksi pernyataan tersebut. Ia menegaskan bahwa Djokovic adalah warga Serbia.
Milatović yang tampak gugup kemudian menambahkan bahwa Djokovic juga sangat menyukai Montenegro, dan Paus hanya menjawab singkat sebelum meletakkan raket di atas meja. Djokovic sendiri belum memberikan komentar mengenai pertukaran tersebut.
Paus Leo memang dikenal memiliki ketertarikan besar pada tenis. Ia pernah menyambut Jannik Sinner di Vatikan tak lama setelah terpilih sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik.
Yang Perlu Ditunggu
Bagi Djokovic, gelar di Beijing menjadi sinyal kebangkitan setelah tahun yang penuh tantangan. Ia mengakui bahwa musim ini berjalan naik turun dengan berbagai masalah fisik dan kesehatan. Kemenangan ini setidaknya memberi modal kepercayaan diri menjelang turnamen-turnamen berikutnya.
Sementara itu, kondisi De Minaur akan menjadi perhatian. Cedera pangkal paha yang memaksanya mundur bisa memengaruhi jadwal dan performanya di sisa musim. Ia berharap bisa segera pulih dan kembali bersaing di level terbaiknya.
Final China Open tahun ini akan dikenang bukan hanya karena kualitas permainannya, tetapi juga karena drama cedera, permintaan maaf, dan momen kemanusiaan yang menyertainya.










