Cakrawala News – 10 Oktober 2026 | Dapat dukungan penuh dari CAF, Gianni Infantino janji tambah investasi untuk sepak bola Afrika. Presiden FIFA tersebut menyampaikan komitmen itu setelah memperoleh restu dari Konfederasi Sepak Bola Afrika dalam rangkaian kunjungannya ke benua tersebut, seiring persiapan pemilihan Presiden FIFA yang akan digelar pada Maret 2027.
Dukungan CAF menjadi modal penting bagi Infantino yang tengah berupaya mempertahankan jabatannya. Sebanyak 211 federasi anggota FIFA akan menentukan siapa yang memimpin badan sepak bola dunia hingga 2031. Dalam pemilihan tersebut, pemenang cukup meraih lebih dari separuh suara sah jika hanya ada dua kandidat.
Infantino telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA. Niat itu ia sampaikan dalam Kongres FIFA pada Mei 2026. Ia pertama kali menjabat pada 2016 dan kini berupaya memperpanjang kepemimpinannya hingga 2031.
Janji Investasi untuk Afrika
Dalam pernyataannya, Infantino menegaskan komitmen untuk meningkatkan investasi di sektor sepak bola Afrika. Ia menilai benua tersebut memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap, mulai dari pembinaan usia muda, pengembangan kompetisi domestik, hingga pembangunan infrastruktur stadion.
Komitmen itu sejalan dengan agenda global FIFA yang sebelumnya menuai kontroversi, yakni rencana menghimpun dana 20 miliar dolar AS melalui penjualan sebagian hak kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan hanya beberapa hari setelah kabar mengenai pembicaraan Infantino dengan investor asal New York, Josh Kushner, mencuat.
Meski rencana investasi itu gagal, Infantino tetap menggaungkan pentingnya suntikan dana bagi negara-negara berkembang. Afrika menjadi salah satu wilayah yang paling sering ia sebut dalam konteks pengembangan sepak bola global.
Peta Dukungan Menuju Pemilu FIFA
Dukungan CAF memperkuat posisi Infantino di tengah dinamika politik sepak bola dunia. Berdasarkan hitungan Associated Press, 87 dari 211 federasi anggota FIFA telah menyatakan dukungan kepadanya. Sementara itu, 49 federasi, sebagian besar berasal dari Eropa, menyatakan penolakan. Lebih dari sepertiga anggota FIFA masih belum menentukan sikap.
UEFA, AFC, dan Concacaf sebelumnya menyerukan agar Infantino mengundurkan diri terkait kontroversi rencana Football Forward Enterprise (FFE). Namun, sejumlah asosiasi sepak bola tetap menyatakan dukungan kepada Infantino. The Guardian melaporkan lebih dari 200 anggota FIFA telah memberikan dukungan untuk pencalonannya, meski terdapat sejumlah federasi yang menarik atau belum memberikan dukungan.
Peta dukungan itu berubah setelah rencana investasi Piala Dunia menuai polemik. Sejak saat itu, sejumlah federasi Eropa menarik dukungan mereka terhadap Infantino. Kondisi tersebut membuat posisinya tidak sekuat sebelumnya, meski ia masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan jabatannya.
Rival Terkuat Pilih Bertahan di Concacaf
Jalan Infantino menuju periode berikutnya kian mulus setelah Victor Montagliani memutuskan kembali mencalonkan diri sebagai presiden Concacaf. Keputusan tersebut membuat Montagliani tidak bisa maju untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA.
Sejumlah sumber mengonfirmasi kepada ESPN bahwa Montagliani telah menyampaikan rencananya kepada sejumlah kolega. Pria yang pernah memimpin Federasi Sepak Bola Kanada itu akan memburu masa jabatan baru di konfederasi yang menaungi kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Sebelumnya, ia dianggap sebagai kandidat paling potensial untuk menghadapi Infantino.
Dengan langkah Montagliani tersebut, hingga kini belum muncul penantang kuat yang mampu menggoyang posisi Infantino. Situasi ini memberi ruang lebih leluasa bagi orang nomor satu di FIFA itu untuk mengonsolidasikan dukungan dari berbagai konfederasi, termasuk Afrika dan Asia Tenggara.
Diplomasi Sepak Bola di Asia Tenggara
Upaya Infantino membangun dukungan juga terlihat di Asia Tenggara. Ia disebut tengah mendekati negara-negara kawasan tersebut menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Kehadirannya di Indonesia menjadi sorotan media Inggris, The Guardian.
Infantino menyaksikan langsung laga final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 5 Oktober 2026. Ia hadir bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Timnas Indonesia keluar sebagai juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2, setelah bermain imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu.
Dalam laporannya, The Guardian menilai keberhasilan turnamen tersebut juga memiliki dimensi lain bagi Infantino, yakni potensi dukungan dalam pemilihan Presiden FIFA. Turnamen itu merupakan yang pertama kali digelar di Asia Tenggara.
Di Jakarta, Presiden Prabowo menerima kunjungan Infantino dan Erick Thohir di Istana Merdeka. Menurut pernyataan Sekretariat Kabinet, Prabowo menyambut baik apresiasi FIFA dan menegaskan dukungan penuh Pemerintah Indonesia terhadap kemajuan sepak bola nasional, termasuk melalui penyelenggaraan kompetisi internasional dan penguatan ekosistem sepak bola di Tanah Air.
Erick Thohir menyatakan Prabowo memandang olahraga bukan sekadar sarana mengejar prestasi, melainkan juga berperan penting dalam membangun karakter generasi muda. Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan menjadi mitra FIFA dalam penyelenggaraan berbagai agenda sepak bola internasional mendatang.
Infantino memuji kemajuan sepak bola Indonesia serta menyatakan siap berkolaborasi meningkatkan investasi stadion, kompetisi, dan pembinaan usia muda. Tawaran kerja sama itu menjadi bagian dari strategi FIFA memperluas basis dukungan di kawasan Asia Tenggara.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Dengan dukungan CAF yang kini di tangan Infantino, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 diprediksi semakin terarah. Namun, lebih dari sepertiga anggota FIFA yang belum menentukan sikap masih menjadi faktor penentu. Federasi-federasi yang menarik dukungan akibat kontroversi rencana investasi juga berpotensi mengubah konfigurasi suara.
Bagi sepak bola Afrika dan Asia Tenggara, janji peningkatan investasi menjadi hal yang perlu ditagih realisasinya. Publik menantikan apakah komitmen tersebut berjalan menjadi program nyata atau hanya menjadi bagian dari manuver politik menjelang pemungutan suara pada Maret 2027.












