Energi  

Saudi Aramco Disebut Pertimbangkan Jual Aset di Polandia, Termasuk Saham Rafineriya Gdanska

Saudi Aramco Disebut Pertimbangkan Jual Aset di Polandia, Termasuk Saham Rafineriya Gdanska
Saudi Aramco Disebut Pertimbangkan Jual Aset di Polandia, Termasuk Saham Rafineriya Gdanska

Cakrawala News – 23 Oktober 2026 | Raksasa minyak asal Arab Saudi, Saudi Aramco, dikabarkan sedang menimbang untuk mengurangi jejak bisnisnya di Polandia, bahkan tidak menutup kemungkinan sepenuhnya keluar dari pasar negara tersebut. Informasi ini pertama kali dilaporkan harian Polandia, Rzeczpospolita, pada Jumat, 23 Oktober 2026, dan disebut telah dikonfirmasi melalui sejumlah sumber independen di industri. Menurut laporan itu, Saudi Aramco telah menunjuk bank investasi JPMorgan Chase untuk mengkaji pasar terkait kemungkinan penjualan aset.

Kabar tersebut langsung memicu reaksi politik dan bisnis di Polandia, mengingat posisi strategis Aramco dalam rantai pasok energi negara itu. Perusahaan ini disebut memasok sekitar 40 persen kebutuhan minyak mentah untuk grup energi milik negara, Orlen.

Tiga Aset Utama di Polandia

Saudi Aramco memiliki tiga aset utama di Polandia. Pertama, kepemilikan penuh atas Aramco Fuels Poland, perusahaan perdagangan grosir bahan bakar yang mencatat pendapatan 18,2 miliar zloty pada 2025. Kedua, 50 persen saham di Air BP Aramco Poland yang bergerak di bidang bahan bakar penerbangan. Ketiga, 30 persen saham di Rafineria Gdanska, sementara 70 persen sisanya dikuasai Orlen.

Menurut laporan Rzeczpospolita, ada dua skenario yang tengah dipertimbangkan. Skenario pertama adalah penarikan total Saudi Aramco dari Polandia. Skenario kedua, yang dinilai lebih mungkin terjadi, adalah penjualan Aramco Fuels Poland, yang disebut sebagai aset paling berharga perusahaan di negara itu. Nama-nama calon pembeli belum dapat dipastikan.

Seluruh aset tersebut diperoleh Aramco pada 2022 sebagai bagian dari langkah remedi yang ditetapkan Komisi Eropa sebagai syarat persetujuan merger Orlen dan Lotos. Saat itu, Aramco juga memperoleh hak untuk membeli hingga 50 persen produksi kilang Gdansk dan 50 persen bagian dalam perdagangan produknya. Transaksi ini sempat menuai kontroversi, termasuk temuan Najwyższa Izba Kontroli (NIK) yang menyatakan saham yang diambil alih Aramco dinilai terlalu rendah sekitar 5 miliar zloty.

Dorongan Strategi dan Konteks Geopolitik

Munculnya wacana ini dinilai berkaitan dengan perubahan lanskap geopolitik di Timur Tengah. Saudi Aramco, yang lebih dari 97 persen dimiliki pemerintah Arab Saudi, dana kekayaan negara, dan entitas terkait, merupakan sumber pendapatan terbesar bagi kerajaan. Perusahaan menguasai cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, melebihi 270 miliar barel.

Meski konflik bersenjata di kawasan justru mendongkrak harga komoditas dan laba perusahaan, kondisi keamanan menjadi perhatian. Pada kuartal kedua 2026, laba bersih Saudi Aramco tercatat 122,6 miliar riyal Saudi atau setara 32,7 miliar dolar AS, naik 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang disesuaikan mencapai 33,4 miliar dolar AS pada kuartal tersebut dan 67,2 miliar dolar AS pada semester pertama. Harga rata-rata penjualan minyak naik menjadi 108,1 dolar AS per barel dari 66,7 dolar AS setahun sebelumnya.

Namun, serangan terhadap infrastruktur perusahaan turut mewarnai situasi. Pada 2 Maret, drone Iran menyerang kilang Ras Tanura. Meski serangan berhasil dicegat, serpihan memicu kebakaran dan operasi kilang dihentikan sementara demi alasan keamanan. Ekspor propana dan butana Saudi juga sempat terhenti beberapa pekan. Dalam laporan terpisah, Saudi Aramco bahkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran di tengah meningkatnya pertempuran dengan Houthi dari Yaman, yang turut mendorong harga minyak Brent ke level tertinggi lebih dari lima bulan, yakni 114,99 dolar AS per barel.

Reaksi Pemerintah dan Mantan Petinggi Orlen

Rencana penjualan saham di Rafineria Gdanska tidak akan berjalan mulus. Menurut Kementerian Aset Negara Polandia (MAP), Rafineria Gdanska termasuk dalam daftar entitas yang dilindungi berdasarkan regulasi kontrol investasi dan undang-undang khusus terkait kewenangan menteri pada sektor energi. Artinya, setiap niat pengambilalihan dominasi atau kepemilikan signifikan wajib dilaporkan kepada menteri, yang berhak mengeluarkan keputusan penolakan bila syarat hukum terpenuhi.

Kementerian Energi Polandia menyatakan belum menerima sinyal apa pun terkait rencana tersebut. Sementara itu, Orlen disebut terus memantau pasar tempatnya beroperasi untuk memastikan keamanan pasokan minyak dan bahan bakar, sekaligus mengkaji peluang akuisisi dan kemitraan.

Di sisi lain, mantan CEO Orlen, Daniel Obajtek, yang membangun kerja sama dengan Aramco, menanggapi tajam pemberitaan itu melalui media sosial. Ia menuding manajemen Orlen saat ini telah merusak kerja sama dengan raksasa minyak Saudi tersebut. Kritik Obajtek muncul di tengah pembicaraan yang lebih luas, tidak hanya soal saham Rafineria Gdanska, tetapi juga rencana investasi petrokimia bernilai miliaran dolar.

Hingga kini, Saudi Aramco belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan tersebut. Perkembangan ini layak dicermati karena menyangkut keamanan pasokan energi Polandia, posisi strategis kilang Gdansk, serta arah kerja sama ekonomi Riyadh dan Warsawa di tengah ketegangan kawasan. Keputusan akhir Aramco, termasuk soal apakah benar-benar meninggalkan Polandia atau hanya merampingkan portofolio, akan menjadi sinyal penting bagi pasar energi Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *