Iran Ancam Keras Korea Selatan soal Pengiriman Pasukan Selat Hormuz

Iran Ancam Keras Korea Selatan soal Pengiriman Pasukan Selat Hormuz
Iran Ancam Keras Korea Selatan soal Pengiriman Pasukan Selat Hormuz

Cakrawala News – 10 September 2026 | Iran ancam keras Korea Selatan soal pengiriman pasukan Selat Hormuz. Peringatan tersebut disampaikan Teheran setelah Seoul mengisyaratkan tengah menimbang kontribusi militer untuk mengamankan jalur pelayaran di selat strategis itu, yang kini berada di bawah kendali utama Iran sejak perang melawan Amerika Serikat pecah pada 28 Februari 2026.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan ancaman itu melalui platform media sosial X pada Senin (7/9/2026). Ia menegaskan bahwa setiap pengerahan atau partisipasi militer negara lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai dukungan langsung bagi pihak yang bertanggung jawab atas agresi terhadap Iran.

“Setiap pengerahan atau partisipasi militer dalam operasi oleh negara-negara lainnya di Teluk (Persia) atau Selat Hormuz, hanya dapat dianggap sebagai dukungan langsung bagi pihak yang bertanggung jawab atas agresi tersebut dan akan membawa konsekuensi serius,” kata Baghaei, dikutip dari Anadolu Agency.

Peringatan ini muncul tiga hari setelah otoritas Seoul, pada Jumat (4/9/2026), menyatakan sedang mempertimbangkan bentuk “kontribusi” terhadap upaya keamanan AS di sepanjang selat tersebut. Pemerintah Korea Selatan menegaskan langkah itu hanya akan diambil jika tidak mengganggu kesiapan pertahanan nasional mereka.

Hubungan 64 Tahun dan Tekanan AS

Dalam pernyataannya, Baghaei menyinggung hubungan bilateral Iran dan Korea Selatan yang telah terjalin lebih dari 64 tahun. Menurut dia, hubungan itu berkembang secara konsisten atas dasar saling menghormati, dan Iran sangat menghargai persahabatan dengan Seoul.

Namun, ia mengingatkan Korea Selatan agar tidak tunduk pada apa yang disebutnya sebagai tekanan dan intimidasi Amerika Serikat. Baghaei menyatakan rakyat Iran saat ini tengah membela diri dari agresi militer AS dan merespons apa yang disebutnya sebagai kejahatan perang AS terhadap perempuan dan anak-anak.

“Tidak ada negara yang berdaulat dan bertanggung jawab yang patut tunduk pada tekanan dan intimidasi AS, dan menjadi kaki tangan dalam tindakan agresi dan kejahatan mengerikan terhadap bangsa Iran yang besar,” tegasnya.

Dalam unggahan lain di X pada hari yang sama, Baghaei menyatakan Selat Hormuz selalu terbuka lebar hingga 28 Februari lalu. Ia menilai situasi berubah seketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang menurutnya melanggar hukum dan brutal serta mengganggu arus normal pelayaran komersial.

Tekanan dari Washington datang langsung dari Presiden AS Donald Trump, yang meminta Seoul ikut mengamankan jalur pelayaran di Timur Tengah. Korea Selatan berstatus sebagai sekutu perjanjian AS dan menampung sekitar 39 ribu tentara Amerika di Semenanjung Korea, menurut klaim Trump.

Seoul Belum Putuskan, Komunikasi dengan Teheran Tetap Terbuka

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengonfirmasi pada Senin (7/9/2026) bahwa pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan komunitas internasional mengenai situasi Timur Tengah. Laporan Yonhap News menyebutkan Seoul tetap mempertahankan saluran diplomatik terbuka langsung dengan Teheran.

“Kami berkomunikasi secara erat dengan komunitas internasional, termasuk negara-negara terkait, untuk membantu memulihkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah secepat mungkin dan memastikan lintasan bebas bagi semua kapal, termasuk milik negara kami, melalui Selat Hormuz,” papar kementerian itu.

Sebelumnya, seorang pejabat kepresidenan Seoul mengungkapkan bahwa opsi bantuan militer hanya akan dipertimbangkan apabila tidak mengganggu kesiapan pertahanan nasional. Saluran penyiaran lokal SBS sempat mengabarkan bahwa persiapan yang dirancang mencakup pengerahan pesawat patroli maritim P-8, tim penjinak bahan peledak, dan kapal pendukung logistik.

Namun, keputusan penempatan pasukan ke luar negeri tetap mewajibkan restu Dewan Keamanan Nasional, persetujuan kabinet, serta izin dari Majelis Nasional. Otoritas pertahanan Korea Selatan juga menyatakan telah mengirim tim untuk meninjau langsung situasi di Hormuz, seraya menegaskan belum ada keputusan mengenai pengerahan pasukan.

Demo Warga Seoul dan Kekhawatiran Publik

Penolakan tidak hanya datang dari Teheran. Puluhan warga Korea Selatan pada Rabu (9/9/2026) berunjuk rasa di seberang kompleks Kedutaan Besar AS di Seoul, mendesak pemerintah agar tidak mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Mereka mengecam apa yang disebut sebagai perang ilegal Amerika Serikat.

Para demonstran membawa poster bertuliskan “Jangan ikut perang agresi”. Aksi yang berlangsung di tangga depan Sejong Center for the Performing Arts itu diperkirakan diikuti sekitar 60 orang, menurut perkiraan AFP.

“Kita tidak bisa mengirim anak-anak muda kita ke lautan kematian!” seru para demonstran, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Jung Kyung-jik dari kelompok masyarakat sipil People’s Solidarity for Participatory Democracy mengatakan kepada AFP bahwa ia memahami alasan di balik sikap Iran. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran sebagian publik Korea Selatan bahwa keterlibatan militer di kawasan konflik berisiko menyeret negara mereka ke dalam perang yang bukan kepentingan nasionalnya.

Dampak pada Energi Global

Selat Hormuz memegang peranan krusial bagi perekonomian internasional karena biasanya mengalirkan sekitar seperlima dari total ekspor minyak mentah dan gas alam cair dunia. Imbas perang yang berlarut-larut, lalu lintas kapal di perairan itu lumpuh dan memicu guncangan pada pasar energi global.

Pihak Teheran kini mewajibkan seluruh kapal yang melintas untuk mengajukan izin pelayaran terlebih dahulu. Kebijakan kontrol sepihak ini ditolak mentah-mentah oleh Washington serta beberapa negara kawasan, sementara Iran berkeras menolak kembali ke skema navigasi bebas tanpa batas.

Dilansir Al Arabiya, aksi saling serang antara kedua kubu terus berlanjut di perairan tersebut kendati gencatan senjata sempat disepakati pada April 2026. Kondisi ini membuat Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling rawan dalam peta geopolitik energi dunia saat ini.

Dengan ancaman Iran yang eksplisit, posisi Korea Selatan kini berada di antara dua tekanan besar: permintaan sekutu utamanya, Amerika Serikat, dan peringatan keras Teheran yang menyebut keterlibatan militer sebagai dukungan terhadap agresi. Keputusan akhir Seoul masih menunggu proses domestik yang panjang, termasuk persetujuan parlemen.

Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah Seoul akan tetap menjaga jarak dari operasi militer di Hormuz atau menyesuaikan sikapnya dengan tuntutan Washington. Setiap langkah yang diambil berpotensi memengaruhi hubungan bilateral dengan Iran yang telah terbangun lebih dari enam dekade, sekaligus menentukan arah stabilitas pelayaran di jalur minyak paling vital di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *