Pulau Sertung di Kompleks Anak Krakatau Disebut Masih Rawan, Tim SAR Terkendala Abu Vulkanik

Cakrawala News – 11 September 2026 | Upaya pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda menyoroti kawasan pulau anak krakatau, khususnya Pulau Sertung yang berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Pulau itu disebut masih masuk kategori rawan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sehingga tim SAR belum bisa menyisirnya secara langsung. Kondisi diperparah abu vulkanik yang menutupi kawasan dengan jarak pandang hanya berkisar 10 hingga 20 meter.

Pencarian yang memasuki hari keempat pada Jumat, 11 September 2026, tetap diwarnai kendala alam. Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan alasan pihaknya belum dapat melakukan pencarian langsung di Pulau Sertung. Menurutnya, pulau tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau sehingga tergolong daerah rawan berdasarkan data PVMBG.

“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” kata Amrad.

Meski belum bisa masuk, tim SAR telah memantau Pulau Sertung secara visual menggunakan teropong. Sebelumnya, tim gabungan juga telah menyisir Pulau Rakata dan Pulau Panjang di sekitar Gunung Anak Krakatau pada Kamis, 10 September 2026.

Pulau Sertung dan Sejarah Kaldera Krakatau

Pulau Sertung merupakan bagian dari kompleks Krakatau dan menjadi dinding sebelah barat Anak Krakatau. Informasi yang dihimpun menyebutkan, Sertung awalnya merupakan fragmen bibir kaldera yang ikut terbentuk akibat letusan dahsyat Krakatau di masa lalu.

Aktivitas vulkanik tersebut membentuk wajah Krakatau seperti yang dikenal saat ini, yaitu Krakatau kecil yang berada di tengah, dikelilingi oleh Krakatau Besar, Krakatau Kecil, dan Sertung. Pada zaman Hindia Belanda, pulau ini disebut verlaten yang berarti tertinggal atau terbuang.

Pemahaman atas karakter kawasan inilah yang membuat otoritas tidak serta-merta mengizinkan tim masuk ke Pulau Sertung. Kawasan pulau anak krakatau dan sekitarnya memang dikenal aktif secara vulkanik, sehingga setiap pergerakan tim harus mempertimbangkan keselamatan personel.

Kondisi di Laut dan Hambatan Abu Vulkanik

Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, yang memimpin pencarian menggunakan RIB 02 Bakauheni, menyatakan tim awalnya bergerak menuju titik yang diduga berkaitan dengan lokasi terakhir rombongan. Titik itu disebut terkait dengan pengambilan foto terakhir yang dikirim oleh istri salah satu jurnalis.

“Untuk tim RIB 02 Bakauheni Lampung, yang diduga posisi saat pengambilan foto terakhir yang dikirim oleh istrinya, kami berada di sekitar posisi tersebut,” kata Rezie dalam laporan langsung dari tengah laut, Jumat (11/9/2026).

Menurut Rezie, kondisi di sekitar kawasan Krakatau saat tim tiba tidak bersahabat. Kabut, asap, hingga abu vulkanik membuat pandangan petugas sangat terbatas. Tim berupaya menyisir area di depan Sertung yang diduga memiliki tanda-tanda keberadaan rombongan.

Kendala serupa juga dialami operasi pemantauan udara. Basarnas memperluas pencarian menggunakan drone di Pulau Sangiang dengan Kapal Negara Search and Rescue (KN SAR) Tetuka, tetapi hasilnya belum maksimal karena wilayah masih tertutup asap. Amrad menyebut kabut asap yang sangat tebal menjadi penyebabnya.

Basarnas menegaskan tetap mengacu pada informasi BMKG dan PVMBG terkait perkembangan cuaca serta kondisi lapangan demi keselamatan proses pencarian. Menurut Amrad, laporan dari kedua lembaga itu disampaikan setiap jam, dan apabila ada urgensi akan langsung diteruskan ke tim di lapangan.

Nelayan Pulau Sebesi dan Harapan Keluarga

Selain tim SAR, sebanyak 130 nelayan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, ikut membantu pencarian. Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar, mengatakan pihak desa mengerahkan jaringan kelompok nelayan setelah mendapat informasi mengenai hilangnya rombongan yang sebelumnya melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

“Kami sudah share ke grup-grup kelompok nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut melihat keberadaan speedboat tersebut atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, diminta segera melapor,” kata Syamsiar.

Desa Tejang memiliki 13 kelompok nelayan dengan total sekitar 130 anggota. Mereka diminta membantu pemantauan di sela aktivitas mencari ikan. Pihak desa juga sempat menerima informasi dari Bhabinkamtibmas mengenai titik koordinat sinyal telepon seluler yang disebut terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, sekitar 200 meter dari bibir pantai dan tidak jauh dari dermaga. Aparat desa mendatangi titik tersebut, tetapi tidak menemukan rombongan maupun speedboat.

Lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau adalah Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira dari iNews, dan Daus dari Anadolu. Mereka hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, saat melakukan perjalanan menuju kawasan perairan Selat Sunda.

Keluarga para jurnalis berdatangan ke Posko di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, menanti kepastian keberadaan para korban. Salah satunya Desi Purnama, istri jurnalis Antara M Bagus Khoirunnas, yang sudah tiga hari berada di Posko SAR Nasional di Pantai Marina Carita. Ia sebelumnya menyampaikan langsung permintaan agar kawasan Pulau Sertung menjadi salah satu fokus pencarian kepada petugas dan Gubernur Banten Andra Soni.

Dalam perkembangan pencarian, Kapal TNI Angkatan Laut menemukan jaket pelampung (life vest) dan pelampung pinggang di perairan Selat Sunda pada hari ketiga. Enam tim yang dikerahkan juga masih belum menemukan titik terang terkait keberadaan para jurnalis dan kru kapal.

Hingga hari keempat, kombinasi antara status rawan kawasan pulau anak krakatau, abu vulkanik, kabut tebal, serta gelombang besar dan angin kencang menjadi tantangan utama operasi pencarian. Tim SAR menyatakan akan terus berupaya menembus kawasan Pulau Sertung dengan mempertimbangkan data cuaca dan rekomendasi PVMBG demi keselamatan seluruh personel. Perkembangan kondisi gunung dan cuaca di Selat Sunda akan menentukan apakah penyisiran di titik yang paling dinanti keluarga korban itu akhirnya dapat dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *