Jawa  

Dramatis, Pemakaman Jenazah Pemuda 200 Kg di Gresik Butuh Crane dan Gotong Royong Warga

Cakrawala News – 11 September 2026 | Prosesi dramatis, pemakaman jenazah pemuda 200 kg di Gresik butuh crane & gotong royong warga menjadi sorotan setelah Abdul Ghoni (25), warga Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, meninggal dunia pada Senin (7/9). Bobot tubuh almarhum yang mencapai sekitar 200 kilogram membuat proses evakuasi dan pemakaman tidak bisa dilakukan dengan cara biasa.

Keluarga sempat mengalami kesulitan ketika hendak memindahkan jenazah dari rumah duka menuju lokasi pemakaman. Kondisi itu membuat warga bersama petugas gabungan bergerak cepat mencari solusi agar seluruh rangkaian penghormatan terakhir tetap berjalan lancar.

Crane DPUTR hingga Tiga Mobil Operasional Dikerahkan

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Gresik diterjunkan untuk membantu proses pemindahan jenazah. Selain itu, satu unit crane milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Gresik dikerahkan ke lokasi, disertai tiga unit kendaraan operasional yang disiagakan.

“Mengerahkan satu unit crane milik DPUTR, serta menyiagakan tiga unit mobil operasional lainnya,” kata Perwira Piket Damkar Gresik, Farhan Dzulkifli, Rabu (9/9).

Menurut Farhan, warga memang kesulitan saat hendak memindahkan jenazah karena bobot tubuh almarhum. Karena itu, bantuan alat berat dan petugas dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar proses evakuasi berjalan aman.

Gotong Royong Warga dari Pemandian hingga Pemakaman

Keterlibatan petugas tidak berhenti pada pemindahan jenazah. Puluhan warga Desa Bedanten turut bahu-membahu menyelesaikan setiap tahapan, mulai dari proses pemandian jenazah, salat jenazah, hingga pemakaman.

Warga dan petugas terlihat bekerja sama di lokasi. Meski prosesnya jauh lebih lama dari pemakaman pada umumnya, seluruh rangkaian akhirnya dapat diselesaikan tanpa halangan berarti.

“Proses pemakaman berlangsung 5 jam, tapi alhamdulillah selesai tanpa halangan,” ujar Farhan.

Rangkaian pemakaman dimulai sekitar pukul 09.27 WIB dan baru rampung sekitar pukul 14.30 WIB. Artinya, prosesi berlangsung sekitar lima jam sejak tahap awal hingga jenazah dikebumikan.

Penyebab Kematian dan Keterangan Kepolisian

Abdul Ghoni disebut meninggal dunia setelah mengalami komplikasi penyakit yang berkaitan dengan obesitas. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi pihak keluarga.

Kanit Reskrim Polsek Bungah, Aipda Triyadi, menyatakan polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum. Menurutnya, kematian pemuda tersebut murni karena sakit.

“Murni karena sakit, semoga keluarga diberikan ketabahan,” tandasnya.

Perbedaan Informasi soal Berat Jenazah

Dalam sejumlah pemberitaan, terdapat perbedaan penyebutan berat jenazah. Beberapa sumber menyebut bobot almarhum sekitar 200 kilogram, sementara sumber lain menyebut 250 kilogram.

Perbedaan angka itu tidak mengubah inti peristiwa: proses pemakaman tetap memerlukan penanganan khusus dan bantuan alat berat. Hingga berita ini ditulis, tidak ada penjelasan resmi yang merinci penyebab perbedaan penyebutan berat tersebut.

Pelajaran soal Penanganan Jenazah dengan Obesitas

Kasus ini memperlihatkan bahwa penanganan jenazah dengan berat badan ekstrem membutuhkan koordinasi lintas instansi. Damkar, DPUTR, kepolisian, dan warga harus bekerja bersama agar proses evakuasi tidak membahayakan petugas maupun keluarga.

Kesiapan alat berat seperti crane menjadi faktor penting ketika jalur dan tenaga manusia tidak lagi memadai. Selain itu, kehadiran warga yang bergotong royong membantu mempercepat setiap tahapan prosesi.

Peristiwa dramatis, pemakaman jenazah pemuda 200 kg di Gresik butuh crane & gotong royong warga ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran kesehatan, terutama terkait risiko komplikasi penyakit akibat obesitas.

Bagi keluarga yang menghadapi kondisi serupa, koordinasi awal dengan petugas setempat dapat membantu memastikan proses pemakaman berjalan lebih tertib dan aman. Peran pemerintah desa dan instansi terkait pun menjadi kunci dalam situasi darurat seperti ini.

Hingga kini, proses pemakaman Abdul Ghoni telah selesai. Duka masih menyelimuti keluarga dan warga Desa Bedanten, namun kerja sama yang ditunjukkan menjadi cermin solidaritas warga di tengah situasi yang tidak mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *