Cakrawala News – 11 September 2026 | Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas menyetujui kurikulum studi sosial baru yang menuai kontroversi karena sekolah Texas diwajibkan mengajarkan Islam kejam dan radikal, sementara Kekristenan justru disajikan dari sisi positif. Keputusan itu diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 8 lawan 4 setelah anggota dewan mendengarkan kesaksian dari ratusan orang selama beberapa jam.
Kurikulum tersebut dijadwalkan mulai diterapkan secara bertahap pada tahun ajaran 2030-2031 dan diperkirakan berdampak terhadap sekitar lima juta siswa di sekolah negeri Texas. Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas didominasi oleh Partai Republik, dan keputusan itu menjadi salah satu perubahan materi pengajaran agama paling diperdebatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Isi Materi yang Dipersoalkan
Dalam materi yang dipersoalkan, siswa sekolah menengah atas akan diarahkan membaca sejumlah kutipan Alkitab serta mempelajari sisi positif Kekristenan. Sebaliknya, pembahasan mengenai sejarah awal Islam disebut akan menyoroti kampanye militer yang digambarkan sebagai tindakan kejam, termasuk isu perbudakan dan penawanan perempuan.
Pemberitaan Fox4 Dallas-Fort Worth juga menyebut serangan 11 September 2001 akan dikaitkan dengan Islam radikal, bukan dengan penyebab atau agenda politik di balik peristiwa tersebut. Istilah serupa, menurut pemberitaan itu, tidak digunakan untuk menggambarkan peperangan yang dilakukan pihak Kristen.
Kritik muncul karena pendekatan tersebut dinilai tidak memberikan ruang yang seimbang untuk membahas faktor politik, sejarah, dan konteks yang melatarbelakangi berbagai peristiwa. Penekanan pada aspek negatif sejarah Islam tanpa pembanding yang setara dinilai membuat pengajaran agama di ruang kelas kehilangan keseimbangan.
Penolakan dari Legislator dan Organisasi Muslim
Keputusan itu langsung mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Salman Bhojani, anggota legislatif Muslim Texas, mengatakan sejarah tidak seharusnya disajikan secara selektif. Melalui platform X menjelang pemungutan suara, ia menegaskan bahwa siswa di Texas berhak mendapatkan sejarah yang akurat, lengkap, dan adil.
Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi hak-hak sipil Muslim di Amerika Serikat, juga mengecam perubahan tersebut. Menurut CAIR, tidak ada pihak yang meminta Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas untuk menyensor sejarah.
CAIR menegaskan sekolah negeri memang harus mengajarkan sejarah agama-agama dunia. Namun, guru dan siswa tidak seharusnya diarahkan untuk secara khusus merendahkan agama tertentu. Organisasi itu juga mempertanyakan jika standar serupa diterapkan terhadap Kekristenan.
CAIR menyatakan akan menentang jika sekolah diwajibkan mengajarkan bahwa Kekristenan sebagai agama bertanggung jawab atas berbagai kekerasan dan kejahatan yang dilakukan sepanjang sejarah. Pernyataan itu menegaskan keberatan mereka terhadap standar ganda dalam penyusunan kurikulum.
Di sisi lain, Senator Texas dari Partai Republik, Ted Cruz, menyatakan siswa Texas berhak mengetahui kebenaran tentang Islam. Pernyataan Cruz menunjukkan bahwa perdebatan ini tidak hanya menyangkut isi buku pelajaran, tetapi juga pandangan politik yang saling bertentangan di negara bagian tersebut.
Konteks Kebijakan terhadap Komunitas Muslim
Perdebatan mengenai kurikulum tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kontroversi mengenai kebijakan pemerintah Texas terhadap komunitas Muslim. Gubernur Texas Greg Abbott sebelumnya menentang sejumlah bentuk akomodasi bagi umat Islam.
Salah satunya terkait rencana pembangunan fasilitas tempat wudu di Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW). Proyek tersebut dibatalkan setelah Abbott mengancam menahan dana hibah negara bagian bagi bandara yang terlibat dalam proyek serupa.
Kontroversi lainnya muncul terkait pembangunan kawasan perumahan komunitas Muslim di dekat Dallas. Abbott sebelumnya meminta penyelidikan federal terhadap proyek tersebut dan menyatakan bahwa hukum syariah tidak diperbolehkan di Texas.
Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai East Plano Islamic Community dan kini bernama The Meadow itu dirancang mencakup sekitar 1.000 unit rumah, masjid, dan sekolah. Pada Mei lalu, seorang hakim di Texas memenangkan pihak pengembang dalam sengketa tersebut dan menyatakan negara bagian wajib menghormati kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
Pada tahun yang sama, Abbott juga menetapkan CAIR dan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris asing sekaligus organisasi kriminal transnasional. Kebijakan tersebut mendapat penolakan dari CAIR yang membantah tuduhan tersebut.
Dampak dan Perdebatan yang Lebih Besar
Polemik kurikulum agama di Texas pada akhirnya tidak hanya menyangkut bagaimana sejarah Islam dan Kekristenan diajarkan di ruang kelas. Perdebatan tersebut juga menyentuh pertanyaan lebih besar mengenai batas antara pendidikan agama, penafsiran sejarah, dan kebijakan politik negara bagian.
Dengan penerapan bertahap yang baru dimulai pada tahun ajaran 2030-2031, masih terbuka ruang bagi berbagai pihak untuk mempersoalkan isi kurikulum sebelum buku-buku pelajaran baru digunakan secara luas. Pengawasan publik terhadap proses penyusunan materi, termasuk keterlibatan guru dan komunitas, akan menentukan seberapa besar pengaruh keputusan ini terhadap sekitar lima juta siswa Texas.
Isu sekolah Texas diwajibkan mengajarkan Islam kejam dan radikal ini juga menjadi ujian bagi keseimbangan antara kebebasan akademik dan kepentingan politik di negara bagian yang menjadi salah satu basis utama Partai Republik. Perkembangannya akan terus diperhatikan, terutama menjelang tahap implementasi kurikulum pada tahun-tahun mendatang.






