BEI Sanksi 70 Emiten dan Soroti Isu Akuisisi BUMI hingga bank bjb

BEI Sanksi 70 Emiten dan Soroti Isu Akuisisi BUMI hingga bank bjb
BEI Sanksi 70 Emiten dan Soroti Isu Akuisisi BUMI hingga bank bjb

Cakrawala News – 14 Oktober 2026 | Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan sejumlah perkembangan penting terkait emiten di pasar modal Tanah Air pada Selasa, 13 Oktober 2026. Mulai dari sanksi terhadap 70 perusahaan tercatat yang belum menyampaikan laporan keuangan interim, tanggapan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) soal isu akuisisi Kideco, hingga pencapaian bank bjb yang masuk jajaran Top 50 emiten berkapitalisasi pasar menengah dalam ajang IICD Corporate Governance Award 2026.

Dalam keterbukaan informasi BEI, otoritas bursa mencatat 70 perusahaan tercatat belum menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2026 hingga batas waktu 30 September 2026. Dari total 1.017 perusahaan tercatat, sebanyak 956 emiten diwajibkan menyampaikan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, sementara enam perusahaan tercatat memiliki tahun buku berbeda dan 55 efek serta perusahaan efek tidak wajib menyampaikan laporan tersebut.

Atas keterlambatan itu, BEI memberikan sanksi berupa peringatan tertulis hingga denda. Kewajiban penyampaian laporan keuangan interim mengacu pada Peraturan Bursa Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi serta Peraturan Bursa Nomor I-H tentang Sanksi. Selain itu, Surat Edaran Bursa Nomor SE-00006/BEI/10-2019 tanggal 28 Oktober 2019 mengatur tata cara penyampaian laporan secara elektronik oleh perusahaan tercatat. Bagi laporan keuangan interim per 30 Juni 2026 yang tidak disertai laporan akuntan publik, sanksi Peringatan Tertulis I dijatuhkan pada Selasa, 29 September 2026.

BUMI Buka Suara soal Isu Akuisisi Kideco

Di sisi lain, manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memberikan penjelasan kepada bursa mengenai kabar akuisisi Kideco milik Indika Energy (INDY). Direktur BUMI R.A. Sri Dharmayanti menuturkan, pemberitaan tersebut didasarkan pada narasumber yang tidak disebutkan identitasnya sehingga perseroan tidak dapat memverifikasi sumber maupun dasar informasi.

“Perseroan tidak dapat memberikan komentar atas rumor pasar, spekulasi maupun transaksi yang bersifat hipotesis, serta setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai dengan peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ujar Sri, mengutip keterbukaan informasi BEI.

Sri menambahkan, perseroan dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan arah strategisnya, yakni diversifikasi usaha ke luar batu bara termal. Adapun aset yang disebutkan dalam pemberitaan merupakan aset batu bara termal. Ia juga menegaskan tidak ada informasi atau kejadian penting yang material, dan apabila terdapat hal-hal bersifat material, perseroan akan menyampaikan keterbukaan kepada bursa sesuai ketentuan perundang-undangan di pasar modal.

Berdasarkan data RTI, harga saham BUMI ditutup naik 1,21 persen menjadi Rp 167 per saham. Saham BUMI dibuka turun satu poin ke Rp 164 per saham, dengan level tertinggi Rp 169 dan terendah Rp 161 per saham. Total frekuensi perdagangan tercatat 30.273 kali dengan volume 19.585.348 saham dan nilai transaksi harian Rp 323 miliar.

Sebelumnya, BUMI mengumumkan penyelesaian divestasi kepemilikan saham perseroan sebesar 3,03 persen di PT Citra Palu Mineral (CPM). Divestasi itu dilaksanakan dengan nilai transaksi US$ 9.056.800 atau setara Rp 151.991.223.923 sebagai bagian dari proses transisi strategis dan diversifikasi perseroan.

bank bjb Masuk Top 50 Emiten MidCap

Dari sektor perbankan, bank bjb masuk dalam jajaran Top 50 Emiten dengan Kapitalisasi Pasar Menengah (MidCap Public Listed Companies) dalam ajang The 17th IICD Corporate Governance Conference and Award 2026. Pengakuan ini diberikan Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) berdasarkan penilaian terhadap praktik tata kelola perusahaan.

Penghargaan diserahkan dalam acara bertema “Strengthening Market Confidence through Governance Excellence” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Direktur Utama bank bjb, Ayi Subarna, mengatakan penghargaan tersebut mendorong perusahaan menjaga kualitas tata kelola dan memastikan proses bisnis berjalan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta akuntabilitas.

“Bagi kami, tata kelola perusahaan yang baik bukan hanya mengenai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi merupakan fondasi dalam membangun kepercayaan. Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi bank bjb untuk menjaga keberlanjutan kinerja dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholders,” ujar Ayi.

Daftar HSC dan Sorotan Valuasi TEBE

BEI juga menyematkan 19 emiten ke dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi atau high shareholding concentration (HSC). Daftar itu mencakup PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA).

Dari sektor perbankan terdapat PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS), PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), dan PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD). Selanjutnya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), hingga PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY). Ada pula PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP), PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), PT Akasha Wira International Tbk (ADES), PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND), PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), dan PT Temas Tbk (TMAS).

BEI juga mencabut status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi dari dua emiten, yakni PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM). Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri, menyatakan perubahan metodologi ini bertujuan meningkatkan transparansi pasar, memperkuat perlindungan investor, serta menyediakan informasi yang lebih berkualitas sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. BEI sebelumnya menurunkan ambang batas kapitalisasi pasar emiten yang bisa masuk daftar HSC dari Rp 10 triliun menjadi Rp 5 triliun.

Sementara itu, sebagian analis menilai saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) terlalu mahal dibandingkan kompetitor atau peers. TEBE yang dikendalikan bos Jhonlin Group Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam bergerak di bisnis penyedia infrastruktur logistik batu bara di Kalimantan Selatan, dengan jalan angkut khusus sepanjang 46 kilometer, pelabuhan batu bara seluas 30 hektare di Sungai Barito berkapasitas muat 18 juta ton per tahun, empat jalur jetty-konveyor, serta armada alat berat.

Riset Trimegah Sekuritas Indonesia menyebut saham TEBE telah melonjak sekitar 56 persen dalam satu bulan terakhir. Kenaikan itu dinilai terutama didorong respons positif pasar terhadap strategi diversifikasi bisnis di luar batu bara serta rencana penambahan usaha perdagangan bahan bakar.

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan dinamika yang tetap tinggi di pasar modal Indonesia, mulai dari kepatuhan pelaporan keuangan, transparansi kepemilikan saham, hingga aksi korporasi dan valuasi emiten. Bagi investor, perhatian pada keterbukaan informasi resmi dan hasil penilaian independen menjadi kunci dalam menyikapi setiap kabar yang beredar.

Exit mobile version