Cakrawala News – 11 September 2026 | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum mereda di Indonesia membuat asap menyebar hingga ke negara tetangga dan menurunkan kualitas udara di banyak wilayah. Merujuk data Sistem Pemantauan Karhutla per Rabu, 9 September 2026, daftar 35 daerah kualitas udara tidak sehat dan bahaya akibat karhutla mencakup 23 daerah berstatus tidak sehat, tujuh daerah sangat tidak sehat, dan lima daerah berstatus berbahaya.
Wilayah terdampak terbanyak berada di Pulau Sumatra, sedangkan status kualitas udara berbahaya hanya teridentifikasi di Pulau Kalimantan. Kondisi ini berbanding lurus dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dilaporkan Kementerian Kesehatan.
Rincian Daerah Berstatus Tidak Sehat
Sebanyak 23 daerah masuk kategori kualitas udara tidak sehat. Di Pulau Sumatra, daerah tersebut meliputi Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Tebo, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kota Jambi, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Lahat.
Sementara di Pulau Kalimantan, status tidak sehat tercatat di Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Barito Selatan, Kota Palangkaraya, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Barito Kuala, dan Kota Banjar Baru.
Kualitas udara Kota Singkawang, Kalimantan Barat, juga dilaporkan masuk kategori tidak sehat dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 180. Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, mengatakan data tersebut berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup setempat per 7 September 2026.
Sekarang ini kondisi udara sudah tidak sehat karena kabut asap pekat. Maka dari itu, wajib bagi warga menggunakan masker saat keluar rumah untuk mengurangi risiko dampak buruk paparan asap terhadap kesehatan.
Selain kewajiban bermasker, Pemkot Singkawang meminta warga mengurangi aktivitas fisik berat di ruang terbuka, menutup jendela rumah dan kantor, serta memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi. Masker dibagikan secara gratis, sementara tim gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Barisan Pemadam Kebakaran Swasta, dan Masyarakat Peduli Api terus melakukan pemadaman serta pendinginan di lokasi terbakar.
Tujuh Daerah Sangat Tidak Sehat dan Lima Daerah Berbahaya
Terdapat tujuh daerah dengan status kualitas udara sangat tidak sehat. Di Sumatra, kategori ini meliputi Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Abab Lematang Ilir. Adapun di Kalimantan, status serupa tercatat di Kabupaten Sekadau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Kapuas.
Lima daerah berstatus kualitas udara berbahaya seluruhnya berada di Kalimantan, yakni Pontianak, Kubu Raya, Gunung Mas, Katingan, dan Kotawaringin Timur. Kementerian Kesehatan menyebut kualitas udara kategori berbahaya atau warna hitam teridentifikasi mulai dari Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah, sedangkan status sangat tidak sehat atau merah meliputi wilayah Baning Kota di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dan Kabupaten Tebo di Jambi.
113 Ribu Kasus ISPA di Tujuh Provinsi
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengungkapkan akumulasi kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 mencapai 113.336 orang. Sebaran kasus mencakup warga di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Laporan kasus terbagi dalam kelompok usia, dengan 26.545 kasus menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun dan 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Widyawati menjelaskan lonjakan kasus pernapasan ini berbanding lurus dengan memburuknya ISPU di sejumlah daerah.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang namun waspada. Kemenkes menekankan pentingnya disiplin memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, dan segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala sesak napas.
Upaya Pemadaman dan Peringatan WMO
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla masih terjadi di enam provinsi. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa di Kalimantan Barat tercatat 36 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 350 hektare pada Senin, 7 September 2026, dan kualitas udara berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer.
Sebanyak 15.091 personel dikerahkan untuk operasi darat di Kalimantan Barat dan memadamkan sekitar 102 hektare lahan. Operasi udara melalui patroli dan water bombing menjatuhkan 172 ribu liter air serta memadamkan sekitar tiga hektare. Modifikasi cuaca dilakukan dengan tiga armada udara dan bahan semai sekitar 4.400 kilogram garam.
Di Kalimantan Tengah tercatat 47 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 100 hektare, dan lebih dari 67 hektare telah dipadamkan. Kualitas udara di wilayah itu berada pada kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar 2,8 kilometer. Adapun Kalimantan Selatan mencatat 21 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 260 hektare, dan 163 hektare di antaranya berhasil dipadamkan.
Persoalan ini juga mendapat perhatian global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melalui Air Quality and Climate Bulletin edisi keenam yang dirilis 7 September 2026 menekankan perubahan iklim dan kualitas udara tidak bisa lagi dinilai sebagai dua persoalan terpisah. Peneliti WMO, Lorenzo Labrador, menilai keduanya memiliki hubungan sangat erat sehingga penanganannya harus dilakukan bersamaan.
WMO menyoroti bahwa kebakaran hutan menyumbang berbagai polutan, termasuk partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia. Artinya, capaian perbaikan kualitas udara dapat kembali terancam oleh suhu ekstrem, gelombang panas, dan kebakaran yang diperparah perubahan iklim.
Dengan situasi yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, daftar 35 daerah kualitas udara tidak sehat dan bahaya akibat karhutla menjadi peringatan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan terbakar. Kesehatan puluhan ribu warga, jarak pandang penerbangan, hingga kualitas udara lintas negara turut terdampak.
Pemantauan ISPU secara berkala dan kepatuhan warga terhadap imbauan kesehatan menjadi kunci menekan risiko jangka pendek. Dalam jangka panjang, penanganan karhutla dan perubahan iklim perlu dilihat sebagai satu kesatuan agar perbaikan kualitas udara tidak terus berulang kali digagalkan oleh asap.












