Cakrawala News – 08 September 2026 | Fenomena El Niño yang diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah diperkirakan akan memicu dampak luas, mulai dari cuaca ekstrem di berbagai negara hingga krisis pangan yang mengancam jutaan jiwa. Badan-badan dunia dan para ahli meteorologi telah mengeluarkan peringatan dini mengenai konsekuensi serius dari pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini.
Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), probabilitas terjadinya El Niño sangat kuat pada musim gugur dan musim dingin 2026-2027 mencapai lebih dari 90 persen. Bahkan, dalam diskusi yang dirilis pada 13 Agustus, NOAA memperkirakan ada peluang 69 persen bahwa peristiwa ini akan melampaui kekuatan El Niño terkuat yang pernah tercatat sejak 1950.
Dampak Cuaca Ekstrem di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, El Niño diperkirakan akan membawa cuaca yang lebih basah dan berpotensi menyebabkan badai dahsyat, terutama di California dan wilayah Tenggara. Ahli meteorologi dari Pusat Prediksi Cuaca NOAA, Tony Fracasso, menjelaskan bahwa El Niño memengaruhi jalur badai di seluruh negeri dan dapat membawa lebih banyak udara hangat, sehingga musim dingin menjadi lebih hangat di sebagian besar wilayah.
“California kemungkinan akan melihat lebih banyak badai akibat fenomena ini, dan itu akan terbawa ke seluruh negeri,” ujar Fracasso. Wilayah Selatan, termasuk negara bagian di sepanjang Teluk dan mungkin Carolina, juga diperkirakan akan mengalami kondisi yang lebih basah dari biasanya. Sementara itu, beberapa daerah di sekitar Great Lakes mungkin mengalami kondisi yang lebih kering.
Meteorolog WFLA-TV di Tampa, Jeff Berardelli, bahkan menulis di platform X bahwa manusia belum pernah menyaksikan episode El Niño seperti ini, sehingga ia memperkirakan akan terjadi peristiwa yang belum pernah ada sebelumnya. Ia menyebut puncak kekuatan El Niño bisa mencapai sekitar 4,0 derajat Celsius di atas normal, memecahkan rekor tahun 2015.
Ancaman Krisis Pangan di Amerika Latin
Dampak El Niño tidak hanya dirasakan di Amerika Serikat. Direktur Regional Program Pangan Dunia (PMA) untuk Amerika Latin dan Karibia, Lena Savelli, memperingatkan bahwa fenomena ini akan menambah 16 juta orang di kawasan tersebut mengalami kerawanan pangan. Secara global, sekitar 49 juta orang tambahan akan terkena dampak kelaparan akibat kekeringan yang dipicu El Niño.
“Di Amerika Latin dan Karibia, kami memperkirakan sekitar 16 juta orang tambahan akan merasakan dampak El Niño dengan peningkatan kerawanan pangan,” kata Savelli dalam pertemuan dengan Presiden Honduras, Nasry Asfura, di Tegucigalpa, Senin (8/9/2026).
Savelli menekankan pentingnya dukungan jangka menengah dan panjang untuk memperkuat sistem pangan yang berkelanjutan dan memperluas program sosial. PMA juga mendukung Program Nasional Pangan Sekolah di Honduras yang menjangkau 1,2 juta anak. Hanya pada bulan Agustus lalu, lebih dari seratus komunitas di Honduras dinyatakan dalam status siaga merah akibat kekeringan, yang menyebabkan gagal panen jagung dan kacang-kacangan, bahan pangan pokok masyarakat.
Kekeringan ini sangat memprihatinkan di Koridor Kering Amerika Tengah, wilayah yang membentang dari selatan Meksiko hingga Kosta Rika, yang sangat rentan terhadap variasi iklim ekstrem.
Ancaman Kebakaran Hutan di Selandia Baru
Sementara itu, di Selandia Baru, El Niño juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan, terutama di wilayah Canterbury. Pemadam Kebakaran dan Tanggap Darurat Selandia Baru (FENZ) mengantisipasi kemungkinan memberlakukan musim larangan api lebih awal dari biasanya untuk mengelola risiko. Komandan asisten distrik FENZ, Kevin McCombe, mengatakan kombinasi angin kencang dan panas akibat El Niño dapat menyebabkan “perilaku api yang ekstrem”.
Para petani di Canterbury juga bersiap menghadapi potensi penurunan hasil panen karena berkurangnya pertumbuhan rumput, dan merencanakan strategi untuk mengelola pakan ternak serta memilih tanaman yang tepat jika kekeringan terjadi. Dewan kota setempat juga telah menerima pengarahan tentang risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan dampak kesehatan akibat panas ekstrem.
Fenomena “cuaca cambuk” juga mungkin terjadi, di mana kekeringan diikuti oleh hujan deras dan banjir, atau gelombang panas diikuti oleh cuaca dingin yang tiba-tiba.
Dengan berbagai prediksi dan peringatan yang dikeluarkan, El Niño tahun ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat di berbagai belahan dunia. Kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin ditimbulkan, baik dari segi bencana alam, ketahanan pangan, maupun kesehatan masyarakat.
