Cakrawala News – 01 November 2026 | Gempa bumi 5,4 magnitudo guncang Gunungkidul DIY, getaran terasa hingga ke Blitar dan Lumajang pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa tektonik tersebut terjadi pukul 21.43.13 WIB dengan pusat di perairan laut barat daya Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski guncangannya terasa luas, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Berdasarkan informasi BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 9,20 derajat Lintang Selatan dan 110,39 derajat Bujur Timur, atau sekitar 136 hingga 137 kilometer barat daya Gunungkidul. Gempa tergolong dangkal dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG menyebut peristiwa ini dipicu oleh dinamika subduksi lempeng Indo-Australia yang menghunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Perlu dicatat, data awal BMKG sempat mencatat magnitudo 5,4 sebelum diperbarui menjadi M5,1 pada parameter termutakhir. Sejumlah laporan juga mencantumkan koordinat pusat gempa yang sedikit berbeda, yakni 9,47 derajat Lintang Selatan dan 110,33 derajat Bujur Timur dengan jarak sekitar 166 kilometer dari Gunungkidul. BMKG menegaskan informasi awal gempa mengutamakan kecepatan penyampaian kepada masyarakat, sehingga data masih dapat berubah setelah analisis lebih lanjut.
Getaran Dirasakan di 14 Wilayah
Guncangan gempa dilaporkan dirasakan di 14 kabupaten dan kota. Berdasarkan laporan BMKG, getaran tercatat pada skala II Modified Mercalli Intensity (MMI) di Bantul, Sleman, dan Kulon Progo di DIY; Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, dan Banjarnegara di Jawa Tengah; serta Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Blitar, dan Lumajang di Jawa Timur.
Luasnya wilayah yang merasakan getaran menunjukkan guncangan gempa dapat menjangkau daerah yang jauh dari pusatnya. Namun, tingkat guncangan di setiap lokasi berbeda, bergantung pada jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, kedalaman gempa, dan karakteristik bangunan. Skala MMI sendiri menggambarkan tingkat guncangan yang dirasakan manusia, berbeda dari magnitudo yang menunjukkan ukuran kekuatan gempa pada sumbernya.
Pada skala II MMI, getaran tergolong ringan. Guncangan biasanya dirasakan oleh beberapa orang, terutama yang berada di dalam rumah atau di lantai atas bangunan. Benda ringan yang digantung, seperti lampu, dapat terlihat bergoyang perlahan. Getaran pada tingkat ini juga dapat terasa seperti kendaraan berat yang melintas di dekat bangunan. Secara umum, guncangan skala II MMI tidak menimbulkan kerusakan bangunan.
Warga Merasakan Getaran hingga Terbangun
Sejumlah warga mengaku merasakan getaran cukup jelas. Wahyu Suciningsih, warga Kecamatan Wonogiri Kota, mengaku merasakan getaran saat berada di lantai 3 sebuah rumah sakit. Menurutnya, gempa terasa cukup besar dan berlangsung lama, bahkan sempat membuat beberapa keluarga pasien panik.
Di Ponorogo, Erna Aminin, warga Desa Ringinputih Kecamatan Sampung, terbangun dari tidurnya akibat guncangan. Ia menyebut getaran terasa dua kali, dengan jeda beberapa detik. Meski merasakan dua kali getaran, Erna memilih tidak beranjak dari tempat tidurnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menyatakan pihaknya memantau kondisi wilayah yang berbatasan dengan kawasan perairan selatan Jawa. Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG maupun BPBD. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Gempa Susulan dan Imbauan BMKG
Hingga pukul 22.20 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya empat aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo terbesar M4,9. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG serta mematuhi arahan pihak berwenang apabila terdapat informasi lanjutan terkait kondisi wilayah terdampak.
Sementara itu, aktivitas kegempaan juga tercatat di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya gempa berkekuatan Magnitudo 4,9 yang mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada 26 Oktober 2026. Hingga informasi ini disusun, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa Gunungkidul.
Peristiwa gempa bumi 5,4 magnitudo guncang Gunungkidul DIY, getaran terasa hingga ke Blitar dan Lumajang ini menjadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa yang perlu terus diwaspadai. Kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap arahan petugas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi gempa susulan atau perkembangan situasi lainnya. Masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta memastikan informasi kebencanaan diperoleh dari sumber resmi.












