Hujan Mendadak di Tengah Kemarau Panjang, Warga Kalsel Histeris

Hujan Mendadak di Tengah Kemarau Panjang, Warga Kalsel Histeris
Hujan Mendadak di Tengah Kemarau Panjang, Warga Kalsel Histeris

Cakrawala News – 08 September 2026 | Sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan (Kalsel) mendadak dilanda hujan di tengah kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena ini membuat warga histeris dan bersyukur, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat masih tingginya titik panas di wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, di Banjarbaru, Jumat (4/9/2026), mengatakan bahwa pemantauan karhutla dan titik panas terus dilakukan setiap hari. Hujan yang turun secara tiba-tiba ini diharapkan dapat membantu upaya pemadaman, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi prioritas penanganan.

Karhutla di Kalsel Capai 12 Ribu Hektare

Berdasarkan data BPBD Kalsel, luas lahan yang terdampak karhutla di provinsi ini telah mencapai sekitar 12 ribu hektare. Angka tersebut dihimpun dari 13 kabupaten dan kota yang melaporkan kejadian kebakaran. Kota Banjarbaru mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 474 kejadian dan luas lahan terdampak 1.831,80 hektare. Sementara itu, Kabupaten Banjar mencatat 441 kejadian dengan luas lahan terdampak terbesar, yakni 2.737,51 hektare.

Kabupaten Tanah Laut mencatat 359 kejadian dengan luas lahan terdampak 2.072,35 hektare. Hulu Sungai Selatan mencatat 324 kejadian seluas 2.203,97 hektare, dan Tapin 183 kejadian seluas 1.244,68 hektare. Barito Kuala mencatat 168 kejadian seluas 971,70 hektare, Hulu Sungai Utara 98 kejadian seluas 532,85 hektare, serta Tanah Bumbu 69 kejadian seluas 197,60 hektare.

Kabupaten Balangan mencatat 66 kejadian dengan luas lahan terdampak 196,51 hektare. Hulu Sungai Tengah 58 kejadian seluas 156,11 hektare, Kotabaru 48 kejadian seluas 58,07 hektare, Tabalong 29 kejadian seluas 135,13 hektare, dan Kota Banjarmasin 15 kejadian seluas 1,45 hektare.

17 Ribu Titik Panas Terdeteksi

BPBD Kalsel juga mencatat 17.093 titik panas di wilayah Kalimantan Selatan berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan. Data tersebut bersumber dari pemantauan satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.

Ronny menegaskan bahwa pemantauan titik panas menjadi instrumen penting dalam pengendalian karhutla. “Pengendalian karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak. Pemantauan data, kesiapsiagaan personel dan respons cepat di lapangan menjadi bagian penting dalam menekan dampak kebakaran,” ujarnya.

Pada Rabu (2/9/2026), BMKG mendeteksi 1.299 titik panas di Kalsel. Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru, Adhitya Prakoso, merinci bahwa sebanyak 231 titik berada pada kategori rendah, 993 titik pada kategori sedang, dan 75 titik pada kategori tinggi. Seluruh wilayah Kalsel didominasi kategori sangat mudah terbakar berdasarkan sistem peringatan kebakaran hutan dan lahan.

Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 286 titik. Disusul Hulu Sungai Selatan dengan 254 titik, Barito Kuala 179 titik, Tapin 149 titik, Hulu Sungai Utara 120 titik, Tanah Laut 73 titik, Tanah Bumbu 63 titik, Kota Banjarbaru 59 titik, Hulu Sungai Tengah 49 titik, Kotabaru 34 titik, Balangan 26 titik, dan Tabalong tujuh titik. Kota Banjarmasin tidak ditemukan titik panas.

Adhitya menjelaskan bahwa indikator Fire Weather Index menunjukkan seluruh wilayah Kalsel berwarna merah, yang menandakan potensi kebakaran berada pada kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar.

Hujan di Tengah Kemarau

Fenomena hujan yang terjadi di tengah kemarau panjang ini menjadi kejadian yang tidak biasa. Warga di sejumlah kabupaten dan kota di Kalsel mendadak dilanda hujan, dan mereka pun histeris karena sebelumnya berbulan-bulan dilanda kekeringan dan asap karhutla. Meskipun demikian, hujan tersebut belum tentu mampu mengakhiri musim kemarau secara keseluruhan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari BMKG mengenai penyebab hujan mendadak tersebut. Namun, fenomena ini memberikan sedikit harapan bagi warga dan petugas pemadam kebakaran yang berjuang memadamkan api di lahan gambut dan hutan.

BPBD Kalsel terus mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan dan hutan, serta melaporkan segera jika melihat titik api. Sinergi antara pemerintah, TNI/Polri, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah meluasnya karhutla yang berdampak pada kesehatan dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *