Cakrawala News – 09 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,21 persen ke 6.192 pada perdagangan Kamis (8/10/2026), berbalik arah dari tekanan yang sempat menyeret indeks ke zona merah pada sesi pagi. Penguatan ini menjadi penanda bahwa pasar saham domestik mampu bangkit di tengah fluktuasi yang cukup tajam sepanjang hari.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level terendah 6.137,66 setelah dibuka pada level 6.154,97. Namun, indeks kemudian berbalik menguat dan kembali berada di zona hijau. Pada pukul 09.05 WIB, IHSG sudah naik 13,42 poin atau 0,22 persen secara harian ke level 6.160,15, dengan penguatan sempat mencapai level 6.162,91.
Pergerakan saham pada sesi pagi tercatat relatif berimbang. Sebanyak 234 saham menguat, 214 saham melemah, dan 237 saham lainnya stagnan. Volume perdagangan mencapai 2,75 miliar saham dengan nilai transaksi Rp593,8 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 102.021 kali.
Penguatan IHSG hari ini juga sejalan dengan tren positif nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah dibuka menguat 33 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.866 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.899 per dolar AS.
Sentimen The Fed dan Data Inflasi AS
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari semakin kecilnya potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed. Menurut dia, sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan, terutama dari sisi ketenagakerjaan dan inflasi, telah mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, karena ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah dapat mengurangi daya tarik dolar AS. Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya. PCE Price Index tercatat berada di level 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan konsensus atau perkiraan pasar sebesar 3,7 persen yoy.
Meski IHSG ditutup menguat 1,21 persen ke 6.192, investor asing masih mencatatkan net sell. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh aksi beli investor domestik, sementara sebagian investor asing masih cenderung berhati-hati terhadap kondisi pasar.
Kinerja Sehari Sebelumnya
Penguatan pada Kamis ini terjadi setelah IHSG ditutup melemah pada Rabu (7/10/2026). Saat itu, IHSG berakhir di zona merah dengan penurunan 0,75 persen atau terpangkas 46,203 basis poin ke level 6.146,724. Indeks bergerak dari batas atas di level 6.214 hingga batas bawah pada level 6.136 setelah dibuka pada level 6.192.
Pada penutupan Rabu tersebut, mayoritas indeks sektoral berada di zona merah. IDXENERGY turun 1,56 persen, IDXBASIC 1,15 persen, IDXINDUST 1,11 persen, IDXCYCLIC 1,21 persen, IDXNONCYC 0,37 persen, IDXHEALTH 0,07 persen, IDXPROPERT 0,70 persen, IDXTECHNO 0,49 persen, IDXINFRA 0,85 persen, dan IDXTRANS 0,87 persen. Hanya IDXFINANCE yang naik tipis 0,02 persen.
Sejumlah saham tercatat menjadi top gainer pada Rabu, antara lain AKKU yang menguat 33,96 persen ke level 71, ASMI naik 33,33 persen ke level 44, PGLI menguat 24,52 persen ke level 396, MPXL naik 20,61 persen ke level 316, dan INCI menguat 20,58 persen ke level 1.025. Sementara itu, saham-saham top loser antara lain UANG yang turun 13,18 persen ke level 3.160, ROCK melemah 11,11 persen ke level 2.800, INTD turun 10,85 persen ke level 312, AGAR melemah 10,09 persen ke level 1.825, dan TGUK turun 10 persen ke level 108.
Pada saat yang sama, Indeks LQ45 tercatat turun 0,40 persen ke level 605,721, sedangkan JII turun 0,66 persen ke level 367,249.
Pergerakan Indeks dan Sektor
Pada perdagangan Kamis, mayoritas indeks sektoral masih berada di zona merah, meliputi sektor energi, konsumer non-siklikal, properti, bahan baku, keuangan, teknologi, konsumer siklikal, infrastruktur, dan industri. Hanya sektor transportasi dan kesehatan yang menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak merata di seluruh sektor, sehingga investor perlu mencermati pemilihan saham secara lebih selektif.
Adapun tiga saham yang memimpin jajaran top gainers pada Kamis adalah PT Atlas Resources Tbk (ARII) yang naik 24,86 persen ke Rp452, PT Penta Valent Tbk (PEVE) naik 24,85 persen ke Rp412, dan saham PT Steady Safe Tbk (SAFE) naik 24,83 persen ke Rp905.
Sementara itu, saham-saham yang masuk top losers antara lain PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) turun 14,67 persen ke Rp384, PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) turun 14,39 persen ke Rp238, dan PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) turun 12,12 persen di Rp29.
Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan pada Kamis mencapai Rp12,5 triliun dari 57,2 miliar saham yang diperdagangkan. Terdapat 187 saham menguat, 518 saham melemah, dan 258 saham stagnan.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Penguatan IHSG ke level 6.192 menjadi sinyal positif di tengah tekanan global yang masih membayangi. Namun, status net sell investor asing dan masih dominannya sektor-sektor di zona merah menunjukkan bahwa penguatan ini belum sepenuhnya merata. Pelaku pasar tampaknya masih menanti arah kebijakan The Fed pada pertemuan akhir Oktober 2026 serta perkembangan data ekonomi global lainnya.
Bagi investor, kombinasi antara penguatan indeks, pelemahan dolar AS, dan masih adanya tekanan di sejumlah sektor menjadi pertimbangan penting dalam menyusun strategi portofolio. IHSG ditutup menguat 1,21 persen ke 6.192, tetapi keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada sentimen eksternal dan arus modal asing dalam beberapa hari ke depan.












