John Herdman Sebut Kemenangan 9-2 atas Bangladesh Sangat Spesial, Ungkap Bullying hingga Ancaman Pembunuhan

Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menyebut kemenangan 9-2 atas Bangladesh pada laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai pertandingan yang sangat spesial. Menurutnya, keistimewaan laga tersebut bukan semata soal skor, melainkan tingginya komitmen dan daya juang yang ditunjukkan para pemainnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026) malam.

Kemenangan besar itu memastikan Indonesia memuncaki klasemen akhir Grup A berkat keunggulan produktivitas gol atas Malaysia, sekaligus mengamankan tiket ke partai final untuk menghadapi Thailand. Laga penentu tersebut berlangsung menegangkan hingga masa injury time.

“Saya belum pernah terlibat dalam pertandingan seperti itu di mana saya melihat sekelompok pria yang begitu berkomitmen pada satu tujuan untuk meloloskan tim ini ke final. Malam ini sangat spesial,” kata John Herdman usai pertandingan, seperti dikutip dari laporan media.

Jalannya Pertandingan dan Drama 11 Gol

Sembilan gol kemenangan Indonesia masing-masing dilesakkan oleh Mitchell Baker yang memborong lima gol, ditambah sumbangan gol dari Rizky Ridho, Justin Hubner, Luke Vickery, dan Kevin Diks. Sementara Bangladesh sempat memperkecil kedudukan melalui Sahariar Emon dan Farhaan Ali Wahid.

Di saat bersamaan, Malaysia menang 6-0 atas Singapura. Kondisi itu membuat Indonesia wajib menjaga keunggulan produktivitas gol, sehingga dua gol tambahan di menit-menit akhir lewat Kevin Diks dan Mitchell Baker menjadi sangat krusial.

Herdman mengaku terharu melihat perjuangan anak asuhnya yang bertarung habis-habisan dalam situasi tekanan tinggi. Ia menilai respons cepat para pemain setelah gol balasan Bangladesh menjadi bukti kematangan skuad di tengah turnamen.

Sorotan soal Perundungan dan Ancaman

Di balik kesuksesan tersebut, Herdman mengungkap persoalan serius yang dialami para pemain di luar lapangan. Ia menyebut sejumlah pemain menjadi korban bullying atau perundungan di media sosial, bahkan beberapa di antaranya menerima pesan berisi ancaman pembunuhan.

Herdman pun meminta masyarakat lebih bijak dalam memberikan komentar terhadap pemain Timnas Indonesia. Ia menilai kata-kata kasar yang dilontarkan ketika pemain tidak tampil sesuai harapan dapat memberikan tekanan tersendiri bagi para pemain.

“Dan saya berharap kalian memperlakukan orang dengan lebih baik. Ketika situasinya sulit, saya berharap kalian memperlakukan orang dengan lebih baik,” kata Herdman, dikutip dari pernyataannya kepada media.

Masih Ada yang Harus Dibenahi

Meski menang telak, John Herdman menegaskan proses pembentukan keterikatan dan pemahaman taktik tim masih memerlukan waktu. Ia menjelaskan para pemain saat ini masih berada dalam fase adaptasi karena baru menjalani beberapa sesi latihan bersama secara komprehensif.

“Tim sedang membangun chemistry. Mereka baru menjalani enam sesi latihan bersama. Beberapa pemain ini baru mulai mendapatkan ritme bersama. Anda berkembang melalui turnamen. Saya tahu bagaimana tim berkembang melalui turnamen. Itu membutuhkan waktu, dan chemistry itu akan datang,” ujarnya.

Herdman juga menyoroti perbedaan tantangan dalam dua laga terakhir. Jika pada pertandingan sebelumnya tim diuji dalam menjaga pertahanan, maka saat menghadapi Bangladesh fokus utama bergeser ke efektivitas mencetak gol dan kerapatan skema bertahan.

“Di pertandingan ini, Anda melihat perjuangan untuk mencetak gol. Secara taktis, kita kadang berganti ke tiga pemain bernomor 10 yang menciptakan celah. Namun butuh waktu bagi mereka untuk menyadari bahwa jika kita bertahan lebih rapat, kita bisa melakukan counter-press bersama dan merebut bola lebih cepat,” tutur Herdman.

Waspadai Thailand di Partai Final

Menjelang final, Herdman mengaku tidak akan mudah mengalahkan Thailand. Ia menilai Thailand akan bermain semaksimal mungkin seperti skuad Garuda demi bisa menjuarai turnamen tersebut.

Pertemuan Timnas Indonesia vs Thailand dijadwalkan berlangsung di SUGBK, Jakarta, pada Senin (5/10/2026). Indonesia berstatus juara Grup A, sedangkan Thailand memuncaki klasemen Grup B.

Herdman mengatakan sudah mengenal pelatih Thailand, Anthony Hudson, saat dirinya menjadi arsitek Timnas Kanada. Hudson saat itu merupakan bagian staf kepelatihan atau asisten pelatih Timnas Amerika Serikat di bawah Gregg Berhalter antara Juli 2020 hingga Januari 2023.

“Sekarang kami akan menghadapi lawan berat, Thailand. Mereka memiliki pelatih yang saya kenal dari masa saya bersama Amerika Serikat,” kata Herdman.

“Dia merupakan asisten pelatih ketika kami bersaing dalam kualifikasi Piala Dunia. Jadi, ya, ini akan menjadi pertarungan yang luar biasa,” tambahnya.

Kedua pelatih sama-sama berasal dari Inggris. Rivalitas mereka mengakar sejak Hudson menjadi asisten pelatih Timnas Amerika Serikat. Saat itu, Herdman yang menukangi Timnas Kanada mencatatkan rekor seimbang dalam tiga pertemuan, yakni satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan.

“Dia tahu bagaimana saya bermain. Dia mempelajari Kanada ketika kami menghadapi Amerika Serikat dalam banyak pertandingan,” kata Herdman. Ia pun mengaku bersemangat menyambut duel tersebut. “Dan ya, saya bersemangat. Akan menyenangkan berjabat tangan dengannya di area teknis dan melihat dua orang Inggris saling beradu taktik. Ini akan bagus,” ujarnya.

Herdman menyambut positif tambahan waktu istirahat dan latihan satu hari jelang laga final. Waktu ekstra tersebut dinilainya sangat berharga untuk mematangkan kombinasi permainan serta memperbaiki kelemahan tim sebelum berhadapan dengan Thailand.

“Kita akan berkembang, kita punya waktu latihan ekstra satu hari, yang mana itu bagus. Semoga chemistry bisa lebih terbangun, dan kita terus berbenah. Ini adalah proses, butuh waktu,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, Herdman menegaskan target utamanya adalah membawa Indonesia ke Piala Dunia 2030. Namun untuk saat ini, fokusnya tertuju pada partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand.

Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana Herdman meracik strategi menghadapi Thailand, sekaligus bagaimana ia menjaga kondisi mental para pemainnya di tengah tekanan media sosial. Laga final di SUGBK akan menjadi pembuktian apakah proses yang dibangun timnas Indonesia sudah cukup matang untuk meraih gelar juara.

Exit mobile version