Kodai Sano Ungkap Percakapan Sulit dengan Pelatih NEC Sebelum Gabung PSV

Kodai Sano Ungkap Percakapan Sulit dengan Pelatih NEC Sebelum Gabung PSV
Kodai Sano Ungkap Percakapan Sulit dengan Pelatih NEC Sebelum Gabung PSV

Cakrawala News – 16 September 2026 | Kodai Sano mengungkapkan pengalaman berat yang harus dilaluinya sebelum resmi bergabung dengan PSV Eindhoven pada bursa transfer musim panas lalu. Gelandang asal Jepang itu menceritakan bagaimana ia harus menyampaikan kabar tidak mengenakkan kepada staf teknis NEC Nijmegen, klub yang membesarkan namanya di Eredivisie.

Dalam wawancara dengan Voetbal International, Sano mengaku kepindahannya ke PSV senilai 15 juta euro, di luar bonus, bertepatan dengan laga penting NEC melawan Olympiakos di babak kualifikasi Liga Champions. Kesepakatan antara kedua klub tercapai tepat sebelum kick-off, membuat sang pemain memutuskan tidak tampil demi menjaga proses transfernya.

Keputusan itu memaksa Sano menyampaikan langsung kepada staf pelatih di hotel pemain di Yunani. Ia mengakui momen tersebut menjadi salah satu percakapan tersulit dalam kariernya.

“Bahwa saya harus memberi tahu pelatih bahwa saya tidak bisa bermain, sungguh sangat sulit bagi saya. Karena saya mencintai NEC,” kata Sano. “Saya juga ingin memainkan pertandingan itu dan berterima kasih kepada semua orang di klub dengan cara itu, tetapi karier saya juga sangat penting. Saya harus pergi.”

Pelatih NEC kala itu, Dick Schreuder, disebut sangat kecewa pada hari pertandingan. Namun, menurut Sano, Schreuder kemudian menunjukkan pengertian atas keputusan yang diambil pemain berusia 22 tahun tersebut.

Rekam Jejak di NEC dan Adaptasi di PSV

Sano menegaskan bahwa ia selalu memberikan segalanya untuk NEC selama beberapa musim membela klub asal Nijmegen itu. Ia menyebut pencapaian bersama NEC sebagai bagian dari sejarah yang ditulis bersama-sama.

“Saya rasa semua orang telah melihat bahwa selama beberapa tahun terakhir saya memberikan segalanya untuk NEC. Kami menulis sejarah bersama,” ujarnya.

Kini, Sano mengaku sudah merasa nyaman berada di PSV. Ia bahkan menyoroti kemiripan filosofi permainan antara NEC dan PSV. Menurutnya, kedua tim sama-sama menginginkan penguasaan bola, menyerang, dan berusaha merebut kembali bola secepat mungkin ketika kehilangan penguasaan.

Pemain berposisi gelandang itu mengaku telah berbicara dengan pelatih PSV dan menilai tidak ada perbedaan besar dalam cara pandang bermain antara kedua klub. Hal itu membantunya beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan baru di Eindhoven.

Ambisi di Liga Champions dan Mimpi Piala Dunia

Bersama PSV, Sano akan menghadapi jadwal berat di Liga Champions. Ia mengaku antusias menyambut pertemuan dengan tim-tim besar seperti Real Madrid, Atlético Madrid, Porto, dan RB Leipzig.

“Saat melihat undian, saya merasakan banyak hal. Banyak emosi. Saya juga tertawa dan berpikir: Wow, apa ini? Atlético Madrid. Real Madrid. Bermain di Bernabéu, sejujurnya saya belum bisa membayangkannya,” tuturnya.

Sano mengakui bisa saja ia merasa gugup menjelang laga-laga besar tersebut, meski biasanya ia tidak mudah tegang. Ia penasaran apakah bisa cepat beradaptasi dengan level yang dibutuhkan di kompetisi elite Eropa itu.

Meski begitu, ia menegaskan tidak ingin menghitung-hitung poin di kepalanya. Menurutnya, peluang menang selalu ada di setiap pertandingan, tetapi tim juga bisa kalah dari lawan yang seharusnya diatasi jika tampil tidak maksimal. Karena itu, ia selalu berusaha masuk lapangan dengan pola pikir yang sama.

Di sisi lain, Sano menyimpan mimpi besar bersama tim nasional Jepang. Ia tidak masuk dalam skuad Jepang pada Piala Dunia musim panas lalu, sementara sang adik, Kaishu, ikut terpilih bersama beberapa mantan rekan setimnya seperti Koki Ogawa dan Kento Shiogai.

Sano mengaku hanya sesaat merasa kecewa dan lebih memilih berbahagia untuk adik serta rekan-rekannya. Ia menilai keputusan tidak memanggilnya adalah hak pelatih, bukan sesuatu yang perlu disesali berkepanjangan.

Ia bertekad tampil di Piala Dunia empat tahun mendatang, bahkan berharap bisa berdiri di lini tengah Jepang bersama sang adik. Menurutnya, Jepang memiliki banyak pemain berkualitas yang berkarier di Eropa dan terus berkembang.

“Kami memiliki banyak pemain bagus yang bermain di Eropa dan semakin membaik. Dan empat tahun lagi saya ingin berada di Piala Dunia bersama adik saya di lini tengah Jepang. Sano dan Sano. Itu yang sekarang saya perjuangkan,” pungkasnya.

Perjalanan Sano bersama PSV dan ambisinya di pentas internasional akan menjadi salah satu hal yang layak dicermati musim ini. Adaptasi cepat di klub barunya, ditambah pengalaman di Liga Champions, bisa menjadi batu loncatan menuju target besarnya bersama tim nasional Jepang.

Exit mobile version