Cakrawala News – 01 November 2026 | Kontroversi mewarnai pekan ketiga kompetisi Australia A-League. Pelatih Macarthur FC, Sasa Ognenovski, angkat bicara membela para pendukung Western Sydney Wanderers yang memprotes tindakan kepolisian, sementara di lapangan, Wellington Phoenix mencatat sejarah dengan tiga kemenangan beruntun di awal musim meski dihantui kesalahan wasit.
Protes paling menonjol datang dari The Red and Black Bloc (RBB), kelompok suporter aktif Western Sydney Wanderers. Mereka menggelar aksi diam selama 20 menit pertama laga imbang tanpa gol melawan Macarthur di Campbelltown Sports Stadium, Sabtu lalu.
Menurut RBB, NSW Police meminta mereka menyerahkan drum, megafon, dan spanduk dua jam sebelum pertandingan dimulai. Permintaan itu memicu kekecewaan karena dianggap membatasi cara mereka mendukung tim.
Ognenovski, mantan pemain Socceroos yang sempat satu musim memperkuat Sydney FC pada 2014, mendukung penuh aksi tersebut. Ia menilai sepak bola menjadi cabang olahraga yang paling ketat diawasi di Australia.
“Saya tidak tahu cabang olahraga lain di Australia yang diawasi seketat ini,” kata Ognenovski.
Ia mempertanyakan apakah aparat kepolisian memahami posisi suporter dalam industri sepak bola. Menurutnya, pertandingan ada untuk para penggemar, sehingga pembatasan berlebihan berisiko membuat mereka enggan datang ke stadion.
“Permainan ini tentang mereka. Kami ingin suporter. Kami tidak ingin mereka dibatasi,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa kehadiran dan dukungan meriah dari tribun merupakan bagian penting dari atmosfer Australia A-League.
Kemenangan Bersejarah Phoenix dan Bayang-Bayang Kesalahan Wasit
Di sisi lain, Wellington Phoenix tampil impresif dengan mengalahkan Newcastle Jets 3-0 di McDonald Jones Stadium pada malam Halloween. Corban Piper membuka skor, sebelum gol-gol dari pemain pengganti Riley Bidois dan Nathan Walker memastikan kemenangan.
Hasil itu membuat Phoenix untuk pertama kalinya meraih tiga kemenangan beruntun di awal musim A-League Men dan tetap memuncaki klasemen menjelang laga melawan juara bertahan Auckland FC.
Pelatih Phoenix, Chris Greenacre, memuji ketahanan timnya. Menurut dia, para pemain harus bertahan jauh lebih dalam dari biasanya sebelum memanfaatkan momen transisi untuk mencetak gol.
“Kami harus menggali lebih dalam,” kata Greenacre kepada media seusai pertandingan. Ia menilai kemenangan itu bisa disebut sebagai hasil yang diraih dengan susah payah, tetapi tetap mengapresiasi kerja keras anak asuhnya.
Namun, laga tersebut tidak lepas dari kontroversi. Gol pembuka Piper pada menit ke-14 sempat diputuskan offside sebelum dibatalkan VAR. Rekaman ulang menunjukkan keputusan itu benar, tetapi kemarahan kubu Newcastle muncul karena asisten wasit Liam Smith lebih dulu mengangkat bendera saat serangan berlangsung.
Dalam laporan Paramount+, komentator Ben Homer menyebut pihak keempat mengakui adanya kesalahan. Ia menyebut insiden itu sebagai blunder besar, meski menekankan bahwa wasit juga manusia yang bisa keliru.
Pada jeda pertandingan, Kepala Wasit Football Australia Jon Moss memberi konteks bahwa Liam Smith baru menjalani laga pertamanya di A-League. Sebelumnya ia biasa memimpin pertandingan NPL dan Australian Championship, di mana ia terbiasa mengangkat bendera untuk offside dan belum terbiasa dengan prosedur VAR.
Kendati demikian, Moss menegaskan wasit Eric Saba berhak membiarkan permainan berjalan sebelum VAR melakukan pemeriksaan. Newcastle sendiri masih belum meraih kemenangan di semua kompetisi musim ini, dan tekanan kepada mereka kian bertambah setelah kekalahan ini.
Kiper Phoenix, Henry Gray, juga menjadi sorotan berkat penyelamatannya atas tembakan Xavier Bertoncello pada menit ke-71, sebelum dua gol pengganti memastikan kemenangan. Bagi Jets, kekalahan ini menjadi pukulan di tengah jadwal padat lima pertandingan dalam dua pekan.
Dua isu ini menunjukkan bahwa dinamika Australia A-League tidak hanya soal hasil di lapangan. Hubungan antara suporter, kepolisian, dan penyelenggara, serta kualitas pengambilan keputusan wasit, menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi agar kompetisi tetap menarik dan adil.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah lanjutan terkait pembatasan atribut suporter oleh kepolisian, sekaligus evaluasi terhadap kinerja wasit muda di kompetisi Australia A-League yang makin kompetitif.












