KPK Geledah 8 Lokasi Kasus Pajak Adaro, Boy Thohir Jadi Sorotan

KPK Geledah 8 Lokasi Kasus Pajak Adaro, Boy Thohir Jadi Sorotan
KPK Geledah 8 Lokasi Kasus Pajak Adaro, Boy Thohir Jadi Sorotan

Cakrawala News – 12 Oktober 2026 | Nama pengusaha Garibaldi Thohir alias Boy Thohir kembali menjadi sorotan publik seiring penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap dugaan korupsi perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perusahaan tambang yang terafiliasi dengan Adaro, kelompok usaha yang dipimpin Boy Thohir, turut menjadi perhatian dalam pengusutan perkara tersebut. Penyidikan ini mencuat setelah KPK melakukan serangkaian penggeledahan di sejumlah lokasi di Kalimantan Selatan.

KPK menggeledah delapan lokasi di Banjarmasin dan Banjarbaru pada 26 hingga 28 Agustus 2026. Penggeledahan tersebut menyasar rumah dan kantor pihak swasta. Dari lokasi-lokasi itu, penyidik menyita sejumlah dokumen yang diduga berkaitan dengan perkara untuk mendalami konstruksi kasus sekaligus menguji keterlibatan pihak-pihak yang mengetahui transaksi terkait.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan dokumen yang ditemukan akan dianalisis dan dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang dinilai mengetahui substansi perkara. KPK juga menegaskan bahwa setiap fakta dan alat bukti harus memiliki keterkaitan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Perusahaan Tambang dan Pemeriksaan Mantan Petinggi Pajak

Perkembangan ini menjadi penting karena penyidikan tersebut bersinggungan dengan perusahaan di sektor pertambangan. Pada 2 September 2026, KPK mengonfirmasi bahwa salah satu dari delapan lokasi penggeledahan merupakan perusahaan pertambangan. Namun, keterangan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan pribadi Boy Thohir dalam tindak pidana yang sedang disidik.

Sebelum penggeledahan, KPK telah memeriksa mantan Kepala Divisi Pajak PT Adaro Energy Tbk, Jul Seventa Tarigan, pada 19 Agustus 2026. Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik mendalami dugaan pemberian kepada pemeriksa pajak. Informasi yang tersedia belum menjelaskan secara terperinci bentuk pemberian, nilai transaksi, ataupun pihak yang diduga menerima dan memberikan uang tersebut.

KPK juga belum menjelaskan apakah seluruh lokasi yang digeledah memiliki hubungan langsung dengan Jul Seventa Tarigan. Karena itu, pemeriksaan mantan petinggi pajak perusahaan dan penggeledahan sejumlah lokasi harus dipahami sebagai bagian dari proses pengumpulan bukti, bukan sebagai bukti final kesalahan seseorang.

Meski demikian, pemeriksaan tersebut menempatkan aktivitas perpajakan perusahaan sebagai salah satu aspek penting yang perlu ditelusuri. Penyidik perlu mengungkap apakah terdapat transaksi yang menyimpang, siapa saja yang terlibat, dan apakah ada keuntungan yang diperoleh melalui dugaan praktik korupsi.

Kinerja Saham Terafiliasi Boy Thohir

Di sisi lain, saham-saham yang terafiliasi dengan Boy Thohir justru mencatatkan kinerja cemerlang di pasar modal sepanjang tahun ini. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melonjak 73,48 persen secara year to date, jauh mengalahkan saham konglomerasi lain yang justru anjlok. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melesat 44,20 persen sejak awal Januari, sementara PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terkoreksi tipis 3,53 persen.

Kinerja tiga saham terafiliasi Boy Thohir itu berbeda tajam dengan emiten konglomerasi lain. Grup Barito milik Prajogo Pangestu mencatatkan penurunan dalam: PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok 54,13 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) keok 69,59 persen, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) rontok 74,86 persen. Sementara itu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) hanya naik 1,48 persen, PT Amman Mineral Tbk (AMMN) terperosok 30,74 persen, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot 49,45 persen.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry, menilai penguatan saham-saham Grup Adaro bukan semata efek Santa Rally di akhir tahun. Menurutnya, ada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan, yakni fundamental grup, harga komoditas, dan ekspektasi capital flow ke saham energi.

Dari sisi laba, AADI membukukan laba bersih US$ 473,76 juta atau setara Rp 8,47 triliun pada semester pertama tahun ini, naik 10,51 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 428,68 juta. Pendapatan AADI naik menjadi US$ 2,54 miliar dari US$ 2,39 miliar secara tahunan. Pendorong utamanya adalah penjualan batu bara domestik yang meningkat 16,49 persen menjadi US$ 400,43 juta, sedangkan penjualan batu bara ekspor turun sekitar 2,03 persen menjadi US$ 1,82 miliar.

ADRO mencatat pertumbuhan laba paling agresif di antara ketiganya. Laba bersih ADRO melesat 76,83 persen menjadi US$ 309,36 juta dari US$ 174,94 juta pada periode sebelumnya. Lonjakan itu seiring kenaikan pendapatan perseroan menjadi US$ 999,24 juta dari US$ 857,69 juta. Penjualan hasil tambang ke pihak ketiga mencapai US$ 370,27 juta, melonjak 58,15 persen dari US$ 234,11 juta.

Elandry memperkirakan AADI menjadi saham yang paling menarik dari sisi arus kas dan potensi dividen, dengan target harga di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per saham. ADRO memiliki katalis dari diversifikasi bisnis, terutama pengembangan bisnis aluminium, dengan target harga Rp 3.000 hingga Rp 3.300. Adapun ADMR lebih mengandalkan prospek pertumbuhan dari bisnis batu bara metalurgi dan smelter aluminium, dengan perkiraan harga Rp 1.900 hingga Rp 2.100 meski memiliki tingkat volatilitas lebih tinggi.

Dua Sisi yang Perlu Dicermati

Perkembangan yang menyangkut Boy Thohir kini berjalan di dua jalur yang berbeda. Di satu sisi, penyidikan KPK terhadap dugaan korupsi perpajakan di lingkungan KPP Madya Banjarmasin masih berlangsung dan menyentuh entitas pertambangan yang terafiliasi dengan kelompok usahanya. Di sisi lain, pasar modal justru memberikan respons positif terhadap emiten-emiten yang berada di bawah naungan grup tersebut.

KPK menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan berdasarkan alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Publik perlu menunggu hasil analisis dokumen serta konfirmasi kepada pihak-pihak yang mengetahui substansi perkara sebelum menarik kesimpulan mengenai keterlibatan pihak tertentu. Sejauh yang terungkap, status Boy Thohir belum dijelaskan sebagai tersangka dalam perkara ini.

Ke depan, dua hal layak dicermati. Pertama, arah penyidikan KPK, termasuk kemungkinan pemeriksaan saksi tambahan dan pengungkapan konstruksi dugaan korupsi perpajakan tersebut. Kedua, keberlanjutan kinerja saham AADI, ADRO, dan ADMR hingga akhir tahun, yang menurut analis masih ditopang fundamental grup, harga komoditas, dan ekspektasi aliran modal ke sektor energi. Keduanya akan menjadi indikator penting bagi publik dalam menilai dampak perkembangan ini terhadap Grup Adaro dan entitas usaha yang dikaitkan dengan Boy Thohir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *