Cakrawala News – 09 September 2026 | Menteri Energi AS Chris Wright sebut arus minyak Hormuz rata-rata lebih dari 9 juta barel per hari, angka tertinggi yang pernah tercatat dalam rata-rata tujuh hari. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik vital bagi distribusi energi global.
Menurut Wright, pengiriman minyak melalui selat tersebut dalam rata-rata tujuh hari kini mencapai lebih dari 9 juta barel per hari, seperti dikutip dari wawancaranya dengan ABC News pada Minggu (6/9). Ia juga menyebutkan bahwa jika memperhitungkan aliran minyak melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, total arus minyak yang keluar dari kawasan Teluk mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel per hari.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan energi akibat konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran. Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran sebagai balasan atas serangan rudal balistik terhadap kapal perang AS. Salah satu kapal tanker, Kylo, dilaporkan tenggelam di Teluk Oman, sementara dua lainnya, Stark I dan Downy, berhasil dilumpuhkan di dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Iran Umumkan Zona Larangan Baru
Menanggapi serangan tersebut, Iran menyatakan akan mengumumkan zona larangan baru di kawasan Teluk dalam beberapa hari mendatang. Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan bahwa zona tersebut akan membentang dari titik awal blokade AS terhadap Iran hingga ke wilayah-wilayah di Teluk. Setiap kapal yang memasuki zona baru itu akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Selain itu, Iran juga akan segera menyetujui peta koridor pelayaran baru yang melintasi Selat Hormuz. Rezaei menyebutkan bahwa peta tersebut telah disepakati dan dijadwalkan untuk ditandatangani dalam beberapa hari ke depan. “Kami hanya akan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka jika mereka (pihak Amerika) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” ujarnya, seperti dikutip dari televisi pemerintah Iran.
Ketegangan Meningkat dan Harga Minyak Naik
Ketegangan yang meningkat ini memicu kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik 0,8 persen hingga melampaui US$97 per barel pada Senin (7/9), sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$92 per barel. Lonjakan harga ini merupakan kelanjutan dari kenaikan besar pekan lalu, dengan harga minyak kini naik lebih dari 30 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Data pelayaran menunjukkan bahwa rata-rata 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz setiap harinya selama 10 hari terakhir, angka terendah sejak Mei. Kondisi ini semakin memperkuat kekhawatiran akan gangguan pasokan, terutama jika konflik berlarut-larut.
Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, mengatakan bahwa jika kondisi pelayaran semakin memburuk atau mulai terlihat gangguan yang lebih berkelanjutan terhadap pasokan minyak, maka harga US$100 per barel akan lebih mudah tercapai.
Situasi Nuklir dan Diplomasi
Di tengah ketegangan ini, Wright juga menyampaikan pandangannya mengenai kesepakatan nuklir dengan Iran. Ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum tentu terwujud dan AS mungkin harus mengandalkan penghancuran kemampuan nuklir Teheran. “Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir,” kata Wright. “Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu.”
Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak serangan AS-Israel dimulai. Namun, sistem pemerintahan Iran tetap bertahan di bawah pemimpin tertinggi yang baru.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Nota tersebut memuat langkah menuju penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyelesaian pembatasan ekonomi. Namun, kedua pihak saling menuduh gagal menjalankan komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman tersebut.
Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan karena AS dan Iran menyampaikan klaim yang bertolak belakang mengenai keterbukaan jalur tersebut, pihak yang mengendalikannya, serta tingkat keamanannya bagi pelayaran komersial. Pejabat AS menyatakan bahwa jalur pelayaran internasional di selat itu telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal melintas setiap hari. Sementara itu, Teheran bersikeras selat tersebut masih berada di bawah kendali Iran dan belum terbuka atau aman dari ancaman ranjau.
Dengan kondisi yang masih dinamis, perkembangan di Selat Hormuz akan terus menjadi perhatian utama pasar energi global. Menteri Energi AS Chris Wright sebut arus minyak Hormuz rata-rata lebih dari 9 juta barel per hari, namun angka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu jika konflik semakin memanas. Para pelaku pasar akan mencermati setiap langkah AS dan Iran, serta dampaknya terhadap pasokan minyak dunia.
