Cakrawala News – 01 November 2026 | Aktor senior asal Inggris, Patrick Stewart, meninggal dunia pada usia 86 tahun, dan kabar duka itu langsung memicu gelombang penghormatan dari berbagai kalangan, mulai dari sesama pekerja film hingga penggemar setia Star Trek. Stewart dikenal luas lewat perannya sebagai Kapten Jean-Luc Picard dalam serial Star Trek: The Next Generation, tetapi jejak kariernya jauh melampaui satu karakter ikonik tersebut.
Kepergiannya juga menghidupkan kembali kenangan atas momen-momen kecil yang memperlihatkan sisi hangat dan jenaka sang aktor. Salah satunya adalah penampilannya bersama maskot Philadelphia Flyers, Gritty, dalam sebuah sketsa di The Late Show with Stephen Colbert pada Februari 2019.
Momen dengan Gritty Kembali Mencuri Perhatian
Dalam sketsa tersebut, Stewart hadir di pesta Super Bowl di rumah Colbert. Aktor yang telah bergelar bangsawan itu tampil antusias soal sepak bola Amerika, lalu berseru meminta bir. Gritty, maskot yang tidak berbicara, datang beberapa saat kemudian dan sempat ditutup pintunya oleh Colbert, sebelum akhirnya muncul secara magis di dalam rumah.
Stewart lantas menjelaskan bahwa “Gritwald G. Grittington” dan dirinya adalah teman lama sejak masa mereka di Royal Shakespeare Company. Klip sketsa itu dibagikan ulang oleh sejumlah akun media sosial dan menuai ribuan suka serta repost setelah kabar kematian sang aktor tersiar.
Penulis lepas asal Philadelphia, Patrick Rapa, mengunggah tangkapan layar sketsa tersebut di Bluesky. Ia menyebut kombinasi keduanya sebagai hal yang lucu dan ingin mengingatkan publik bahwa Stewart bukan hanya identik dengan Star Trek. Rapa juga mencatat bahwa Stewart terakhir terlihat di Philadelphia pada 2023, saat melintas di Stasiun 30th Street dalam rangka tur buku.
Karier dari Panggung Shakespeare hingga Flotilla Bintang
Stewart lahir pada 1940 di Mirfield, Inggris, dan tumbuh dalam kondisi kekurangan pada masa Perang Dunia II. Ketertarikannya pada teater muncul sejak kecil berkat seorang guru bahasa Inggris yang melihat bakatnya serta sebuah buku kumpulan karya Shakespeare. Pada usia 15 tahun ia meninggalkan sekolah dan mulai berakting di teater lokal.
Bakatnya membawanya ke Bristol Old Vic Theatre School, kemudian ke Royal Shakespeare Company dan sejumlah panggung yang mendapat pujian publik maupun kritikus. Meski namanya melambung lewat film dan televisi, latar belakang teater klasik itu tetap terasa dalam hampir setiap perannya.
Selama pandemi pada 2020, Stewart membaca satu soneta Shakespeare setiap hari melalui media sosial. Pembacaan itu kemudian dihimpun menjadi sebuah audiobook. Bagi banyak orang, langkah tersebut menjadi penopang di tengah masa isolasi.
Picard dan Cara Baru Memandang Pahlawan Fiksi Ilmiah
Peran Picard disebut sebagai salah satu titik penting yang mengubah cara penonton memandang pahlawan dalam cerita fiksi ilmiah. Di tengah tradisi tokoh muda, energik, dan agresif seperti Captain Kirk atau Han Solo, Picard hadir sebagai sosok yang lebih tua, lebih tenang, dan lebih mengandalkan kecerdasan serta diplomasi.
Pengamat menilai karakter itu menonjolkan nilai-nilai rasionalisme, optimisme teknologi, kesetaraan ras dan etnis, serta komitmen pada perdamaian. Picard digambarkan sebagai pemecah masalah yang berpikir matang sebelum bertindak, dan hal itu terlihat dalam berbagai episode yang menempatkannya sebagai perunding dalam konflik antarbangsa galaksi.
Meski demikian, sejumlah pengamat juga mencatat sisi lain dari ideologi Star Trek yang diwakili Picard, termasuk kecenderungan yang kurang kritis terhadap sosialisme dan homogenitas ideologis di antara para tokoh manusia. Kritik semacam itu, menurut mereka, tetap perlu dibedakan dari penilaian terhadap Stewart sebagai aktor.
Stewart sendiri pernah mendorong sisi Picard yang lebih fisik dan penuh aksi, terutama dalam film-film Star Trek. Rekan mainnya, Gates McFadden, mengungkapkan bahwa perubahan itu memang merupakan keinginan Stewart.
Jasa di Balik Layar Film Green Room
Di luar Star Trek, Stewart juga dikenang karena keputusannya menerima peran sebagai pemimpin kelompok skinhead, Darcy Banker, dalam film Green Room (2015). Penulis dan sutradara Jeremy Saulnier mengungkapkan bahwa produksi film itu hampir dihentikan karena belum ada aktor yang mengisi peran tersebut.
Dalam sebuah pemutaran film itu di Los Angeles, Saulnier menyampaikan rasa terima kasihnya. Menurutnya, Stewart menyatakan minat pada proyek tersebut secara tiba-tiba, dan sekitar sepekan kemudian keduanya berbicara lewat telepon. Setelah Stewart menyatakan bersedia, film itu langsung mendapat lampu hijau.
Saulnier menyebut Stewart sebagai alasan ia masih bisa membuat film, serta menggambarkannya sebagai sosok yang baik hati dan pemimpin yang ramah bagi seluruh tim. Ia juga mengenang saat Stewart meminta menambahkan sesuatu pada sebuah adegan, permintaan yang sempat ia nilai menakutkan.
Warisan yang Melampaui Layar
Kematian Patrick Stewart menutup babak panjang seorang aktor yang berhasil menjembatani dunia teater klasik dan budaya populer modern. Dari panggung Shakespeare hingga dek USS Enterprise, ia membangun karier yang jarang dimiliki aktor lain.
Bagi penggemar, kenangan akan Picard, momen lucu bersama Gritty, dan pembacaan soneta di media sosial akan tetap hidup. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana industri hiburan dan komunitas penggemar akan mengenang salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah televisi dan film fiksi ilmiah.
