Pelajar Hanyut di Pesisir Barat Lampung Ditemukan Tewas Usai Tiga Hari Pencarian

Pelajar Hanyut di Pesisir Barat Lampung Ditemukan Tewas Usai Tiga Hari Pencarian
Pelajar Hanyut di Pesisir Barat Lampung Ditemukan Tewas Usai Tiga Hari Pencarian

Cakrawala News – 28 September 2026 | Penemuan jenazah pelajar di Manggar Balikpapan, pintu rumah sempat terkunci dan didobrak paksa [titlebase] mencuat ke publik setelah Tim SAR Gabungan menemukan Rangga Adriana, pelajar berusia 17 tahun asal Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, dalam kondisi meninggal dunia di bibir Pantai Pesisir Barat, Lampung, Jumat (25/9/2026) pagi. Jenazah korban pertama kali dilihat warga sekitar pukul 07.00 WIB, mengakhiri pencarian maraton selama tiga hari sejak korban dilaporkan hilang pada Selasa (22/9/2026) malam.

Penemuan jenazah pelajar di Manggar Balikpapan, pintu rumah sempat terkunci dan didobrak paksa [titlebase] ini menjadi titik akhir dari rangkaian pencarian yang melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Tim Rescue Pos SAR Tanggamus, Polairud Polda Lampung, Polres Pesisir Barat, Polsek Pesisir Utara, BPBD, hingga ratusan nelayan lokal. Korban ditemukan sekitar 0,9 kilometer ke arah barat laut dari titik yang diduga menjadi lokasi awal ia tersapu gelombang.

Komandan Tim Rescuer Basarnas Lampung, Afriandi, menyatakan tim langsung bergerak ke lokasi begitu menerima laporan dari warga. Menurutnya, korban berhasil dievakuasi sekitar pukul 07.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia, lalu jenazah langsung dibawa menuju rumah duka di Lampung Barat untuk proses pemakaman.

“Setelah menerima informasi dari masyarakat, Tim SAR Gabungan langsung bergerak menuju lokasi. Korban akhirnya berhasil ditemukan pukul 07.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia,” kata Afriandi, Jumat (25/9/2026).

Informasi awal menyebutkan, Rangga dilaporkan hilang sejak Selasa malam. Kepergiannya sempat meninggalkan tanda tanya besar setelah sepeda motornya ditemukan teronggok di kebun arah pantai. Ponsel dan celananya tersimpan rapi di dalam jok motor, sementara sepasang sandal hitam miliknya tertinggal di batas pasir dan ombak. Temuan itu menjadi petunjuk pertama yang mengarahkan tim pencarian ke perairan sekitar Pekon Balam, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat.

Tim SAR gabungan yang tengah bersiap menggelar pencarian hari ketiga langsung beralih melakukan evakuasi kilat setelah mendapat laporan warga. Titik penemuan jenazah berada di koordinat 5°1’56.45″ LS dan 103°46’58.26″ BT. Lokasi itu berjarak sekitar 0,9 kilometer dari titik awal korban diperkirakan terseret ombak.

Operasi SAR Resmi Ditutup

Dengan ditemukannya jasad korban, operasi pencarian dan pertolongan resmi dinyatakan selesai. Seluruh personel SAR yang terlibat dikembalikan ke satuannya masing-masing. Afriandi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh unsur SAR gabungan, nelayan, serta masyarakat yang telah mendukung proses pencarian hingga korban berhasil ditemukan.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh unsur SAR gabungan, nelayan, serta masyarakat yang tak kenal lelah membantu pencarian di tengah ombak ekstrem. Dengan ini, operasi SAR resmi dinyatakan selesai dan ditutup,” tutup Afriandi.

Penemuan jenazah pelajar di Manggar Balikpapan, pintu rumah sempat terkunci dan didobrak paksa [titlebase] turut menyita perhatian publik, terutama karena kronologi kejadiannya sempat membingungkan. Korban yang masih berstatus pelajar itu diduga hanyut tenggelam di perairan sekitar Pekon Balam setelah meninggalkan sepeda motor dan barang-barang pribadinya di daratan. Sejumlah pihak menilai kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko arus laut dan gelombang ekstrem di kawasan pesisir.

Bagi keluarga dan warga Pekon Hanakau, penemuan jasad Rangga menjadi akhir dari penantian yang menegangkan. Jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka di Kabupaten Lampung Barat untuk dimakamkan. Proses evakuasi yang berlangsung cepat disebut tidak lepas dari peran warga yang sigap melaporkan keberadaan jenazah di kawasan pantai.

Kasus ini juga menyoroti koordinasi lintas instansi dalam operasi pencarian dan pertolongan di wilayah perairan Lampung. Keterlibatan ratusan nelayan lokal menjadi salah satu faktor yang mempercepat proses pencarian di tengah kondisi ombak yang disebut ekstrem. Meski operasi resmi telah ditutup, imbauan kepada masyarakat pesisir untuk berhati-hati saat beraktivitas di laut tetap relevan, terutama pada musim gelombang tinggi.

Dengan berakhirnya operasi SAR, perhatian kini tertuju pada proses pemakaman korban serta dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa ini menegaskan bahwa keselamatan di kawasan pesisir membutuhkan kewaspadaan bersama, baik dari warga, nelayan, maupun pengunjung pantai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *