Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Rumah Tasya Farasya yang mewah dan baru dihuni belum genap setahun ternyata menyimpan persoalan serius. Bangunan empat lantai bergaya Eropa Klasik Modern itu mengalami retakan di sejumlah bagian, termasuk penurunan permukaan di area kolam, dan kini harus menjalani perbaikan struktur dengan perkiraan biaya mencapai Rp5 miliar hingga Rp6 miliar.
Angka tersebut disampaikan kontraktor baru, Wiryawan Chandra, dalam unggahan di Instagram Tasya, sebagaimana dikutip Detikcom. Menurutnya, perkiraan itu baru menghitung perbaikan struktur bangunan saja, belum termasuk kebutuhan interior dan finishing pada lahan yang luasnya hampir 3.000 meter persegi.
“Sekitar Rp5 miliar hingga Rp6 miliar. Itu hanya untuk perbaikan struktur doang ya,” kata sang kontraktor, seperti dikutip Media Kampung.
Temuan Kontraktor di Balik Kerusakan
Pemeriksaan yang dilakukan kontraktor baru tidak hanya menyoroti retakan. Dalam unggahan yang dibagikan Tasya, kontraktor memperlihatkan hasil pengujian mutu beton di sejumlah titik menggunakan metode non-destructive testing (NDT), termasuk hammer test, untuk mengevaluasi kondisi beton tanpa merusak struktur secara langsung.
Dokumen yang ditunjukkan mencantumkan mutu beton K-300. Namun, hasil pemeriksaan di beberapa titik disebut menunjukkan angka yang lebih rendah dari standar tersebut. “Mutu yang ditulis di situ adalah K-300 ya. Ini beberapa ada yang masuk, ada yang enggak masuk,” ujar sang kontraktor.
Temuan lain yang disorot adalah keberadaan kayu bekisting yang diduga masih tertinggal di dalam struktur bangunan. Kayu bekisting seharusnya dibongkar setelah beton cukup mengeras, tetapi sisa material itu disebut tidak dilepas dan kemudian membusuk di dalam bangunan. Temuan ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat kondisi bangunan dievaluasi.
Kekhawatiran Tasya tidak berhenti pada kerusakan yang sudah terlihat. Ia menilai retakan bisa muncul lagi di bagian lain setelah renovasi dilakukan, sehingga seluruh bangunan perlu diperiksa secara menyeluruh. Pemeriksaan menyeluruh itu penting agar perbaikan tidak hanya bersifat tambal sulam.
Latar Belakang Pembangunan dan Perceraian
Rumah bergaya Eropa Klasik Modern itu dibangun sekitar enam tahun lalu, saat Tasya masih menikah dengan Ahmad Assegaf. Keduanya kini sudah resmi bercerai setelah gugatan Tasya dikabulkan Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Lewat media sosial, Tasya meluapkan kekesalannya karena masih harus membereskan persoalan rumah tersebut. “Ternyata yang selesai cuma pernikahannya, masalahnya masih gue yang tanggung,” tulisnya, sebagaimana dikutip Viva.
Nama Ahmad Assegaf ikut disebut dalam pembahasan kerusakan rumah itu. Sumber menyebut ia terlibat dalam proses pembangunan saat keduanya masih menikah. Namun, informasi yang beredar mengenai dugaan penurunan mutu bahan bangunan masih berupa dugaan dan belum terbukti secara hukum.
Tasya sendiri memilih tidak menempuh jalur hukum terkait persoalan ini. “Aku tidak akan menuntut, aku menuntut di akhirat saja,” ujarnya, dengan anak-anak sebagai pertimbangan utama.
Menolak Bongkar Ulang, Ungkap Biaya Pembangunan
Di tengah sorotan publik, sejumlah netizen menyarankan agar rumah Tasya dibongkar dan dibangun kembali dari nol. Saran itu muncul setelah ia membagikan hasil pemeriksaan kontraktor baru yang menemukan sejumlah persoalan pada struktur bangunan.
Melalui Threads, Tasya menegaskan tidak ingin membangun ulang rumahnya dari awal. Ia mengungkapkan bahwa biaya pembangunan rumah tersebut selama ini sudah sangat besar. “Yang nyuruh gua bangun ulang rumah dari awal… inalillahi wainna ilaihi raajiun. Untuk rumah ini aja udah hampir nyentuh Rp50-70 miliar. Aku tak akan gentar, aku akan perbaiki rumah ini, alhamdulillah ada solusinya kok,” tulis Tasya, dikutip Okezone.
Keputusan itu menunjukkan bahwa perbaikan, bukan pembangunan ulang, menjadi jalan yang dipilih pemilik rumah Tasya Farasya. Meski biaya struktur diperkirakan mencapai miliaran rupiah, ia memilih memperbaiki bangunan yang sudah ada.
Pelajaran soal Mutu Material dan Pengawasan
Kasus kerusakan rumah Tasya Farasya menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membangun hunian. Mutu material dan pengawasan konstruksi sebaiknya dicek sejak awal proses pembangunan, bukan setelah bangunan dihuni.
Pemeriksaan struktur oleh ahli juga disebut dapat mencegah biaya perbaikan yang membengkak di kemudian hari. Dengan pengujian seperti hammer test dan pencocokan terhadap dokumen as-built, kualitas beton serta detail konstruksi bisa dievaluasi lebih awal.
Hingga kini, persoalan rumah Tasya Farasya masih dalam tahap perbaikan oleh kontraktor baru. Publik menantikan perkembangan lanjutan, termasuk hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh bagian bangunan dan apakah perbaikan yang dilakukan benar-benar tuntas.
Yang perlu dicermati ke depan adalah sejauh mana temuan kontraktor berdampak pada rencana renovasi dan apakah dugaan terkait keterlibatan pihak lain dalam proses pembangunan akan memperoleh kejelasan. Sampai saat itu, Tasya memilih fokus memperbaiki huniannya tanpa menempuh jalur hukum.












