Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Nilai tukar Rupiah tembus 18.100 per dolar AS, apa yang terjadi? menjadi pertanyaan yang mencuat di pasar keuangan pada Senin, 26 Oktober 2026. Rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.080. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp18.116 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.069.
Pelemahan ini terjadi setelah pengumuman usulan MSCI yang menurunkan status bursa saham Indonesia menjadi standalone market. Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal, menyebut derasnya arus dana asing yang keluar menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah.
Menurut Fithra, ada multifaktor di balik tembusnya nilai tukar rupiah di level Rp18.100 per dolar AS. Ia menyebut adanya akumulasi tekanan global, mulai dari kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat, sentimen arus keluar modal asing di pasar saham, hingga pengumuman MSCI tersebut.
Tekanan Global dan Domestik yang Bertumpuk
Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman, menuturkan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan global dan risiko domestik. Harga minyak yang masih tinggi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus menjaga risiko inflasi global, sehingga suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Faiz menambahkan, investor cenderung berhati-hati menjelang keputusan The Federal Reserve pada pekan tersebut. Indeks dolar (DXY) berada di sekitar 101,8 dan masih menunjukkan resiliensi, sementara ketidakpastian MSCI menambah risiko penjualan saham asing dan repatriasi dana.
Dari sisi domestik, surplus perdagangan yang menyempit turut mengurangi bantalan pasokan devisa, sehingga rupiah lebih sensitif terhadap perubahan arus modal. Faiz menilai koreksi rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan kondisi eksternal dan meningkatnya premi risiko Indonesia, tetapi ia menegaskan tekanan tersebut tetap tidak boleh diabaikan.
“Investor membutuhkan kompensasi lebih besar untuk memegang aset rupiah, yang penyesuaiannya dapat terjadi melalui kenaikan imbal hasil maupun pelemahan kurs,” ujar Faiz.
Ia menyebut hal yang perlu dicermati adalah kecepatan pelemahan, likuiditas pasar valas, dan keberlanjutan arus keluar modal.
Aksi Jual Asing Meluas ke SBN dan SRBI
Selain berdampak pada pasar saham akibat usulan MSCI, aksi jual asing juga terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kombinasi keluarnya dana dari pasar saham dan surat utang menambah tekanan terhadap mata uang garuda.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa rupiah melemah di tengah kekhawatiran fiskal yang meningkat seiring kenaikan harga minyak global. Hal ini mengingat Indonesia berstatus sebagai importir neto minyak.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina. Dari sisi eksternal, pasar juga mencermati konflik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Ia menambahkan, agenda ekonomi AS pada pekan itu menjadi perhatian, mulai dari pertemuan The Fed hingga rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti pada Kamis.
Respons Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memastikan pihaknya selalu memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi volatilitas akibat situasi global. Ia menyebut pergerakan tersebut sebagai volatilitas biasa, namun bank sentral tetap melihat akar persoalannya.
Hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada pekan sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat rupiah melemah, salah satunya kondisi global yang masih diwarnai volatilitas tinggi akibat inflasi AS yang berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging. Destry juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta stabilitas mata uang garuda diupayakan.
Fithra meyakini tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara. Ia memastikan pemerintah dan otoritas moneter terus berkoordinasi demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pertanyaan Rupiah tembus 18.100 per dolar AS, apa yang terjadi? pada akhirnya bermuara pada sejumlah faktor yang saling terkait: arus keluar modal asing, ketidakpastian status pasar saham Indonesia di mata MSCI, harga minyak, dan arah kebijakan The Fed. Kombinasi ini membuat premi risiko aset rupiah meningkat.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati keputusan The Fed, rilis data inflasi PCE inti AS, serta perkembangan arus keluar modal dari pasar saham dan SBN. Kecepatan pelemahan dan likuiditas pasar valas menjadi indikator yang perlu diperhatikan untuk menilai apakah tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.
Sejauh mana Rupiah tembus 18.100 per dolar AS, apa yang terjadi? akan berlanjut masih bergantung pada koordinasi pemerintah dan BI serta respons pasar terhadap perkembangan global. Stabilitas nilai tukar menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat dan iklim investasi di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung.












