Sheikh Ahmed bin Rashid Al Maktoum Wafat, Dubai Berkabung 10 Hari

Sheikh Ahmed bin Rashid Al Maktoum Wafat, Dubai Berkabung 10 Hari
Sheikh Ahmed bin Rashid Al Maktoum Wafat, Dubai Berkabung 10 Hari

Cakrawala News – 23 September 2026 | Sheikh Ahmed bin Rashid Al Maktoum wafat, tinggalkan warisan panjang untuk olahraga UEA dalam usia 76 tahun. Anggota keluarga penguasa Dubai itu mengembuskan napas terakhir pada Senin, 21 September 2026, demikian diumumkan Pengadilan Penguasa Dubai dan dilaporkan Kantor Berita Emirates (WAM). Kabar duka ini tidak hanya mengguncang istana, tetapi juga dunia olahraga Uni Emirat Arab yang selama lebih dari empat dekade tumbuh bersama sosoknya.

Pemerintah Dubai langsung menetapkan masa berkabung resmi selama 10 hari sejak Senin. Selama periode itu, bendera di seluruh wilayah emirat dikibarkan setengah tiang sebagai tanda penghormatan terakhir.

Sheikh Ahmed merupakan putra keempat sekaligus putra bungsu mendiang Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum. Ia lahir di Dubai pada 1950 dan merupakan adik kandung Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA sekaligus Penguasa Dubai.

Kiprah di Dunia Olahraga

Bagi Dubai, Sheikh Ahmed bukan sekadar anggota keluarga penguasa. WAM menyebut perjalanannya sebagai salah satu bagian penting dalam perkembangan gerakan olahraga UEA di tingkat regional dan internasional, mulai dari sepak bola, olahraga air, hingga pacuan kuda.

Kecintaannya pada olahraga tumbuh sejak usia muda. Pada 1962, ia menjadi pelindung sekaligus presiden Klub Al Zamalek yang kemudian berganti nama menjadi Al Wasl Sports Club. Hubungannya dengan klub tersebut bahkan bermula sejak masa awal berdirinya pada 1960, ketika organisasi yang kelak menjadi Al Wasl masih bermarkas di sebuah rumah kecil di kawasan Zabeel.

Di bawah kepemimpinannya selama puluhan tahun, Al Wasl berkembang menjadi salah satu institusi olahraga terkemuka dan kekuatan penting sepak bola Uni Emirat Arab.

Jejaknya di dunia pacuan kuda juga menjadi bagian penting dari warisannya. Pada 1983, kuda balapnya, Wassl, meraih kemenangan di Irish 2,000 Guineas dengan warna balap kuning-hitam khas Sheikh Ahmed. Kesuksesan itu berlanjut melalui Mtoto yang memenangi sejumlah balapan bergengsi, termasuk Eclipse Stakes pada 1987 dan 1988 serta King George VI and Queen Elizabeth Stakes pada 1988.

Sheikh Ahmed turut membantu merancang dan mendirikan Arena Balap Jebel Ali bersama pelatih Dhruba Selvaratnam. Lintasan dan tribun arena tersebut dibangun pada 1990, sebelum musim balap pertamanya dimulai pada 1991.

Kontribusinya di olahraga air pun tak kalah besar. Pada 1988, ia memainkan peran utama dalam mendirikan Dubai International Marine Club dan menjadi ketua pertamanya. Klub itu kemudian memperoleh pengakuan internasional dalam olahraga air kompetitif.

Pengabdian di Bidang Keamanan

Selain olahraga, Sheikh Ahmed menjalani karier panjang dalam pengabdian kepada negara. Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, Inggris, ia bergabung dengan Komando Militer Pusat Dubai pada 1975.

Kariernya di bidang keamanan terus berkembang. Ia dipercaya menjadi komandan Komando Militer Pusat Dubai dan menjabat sebagai Wakil Ketua Kepolisian dan Keamanan Publik Dubai.

Ucapan Duka dari Keluarga dan Negara

Sheikh Mohammed menyampaikan duka atas kepergian adiknya melalui unggahan di media sosial. Dalam pesannya, ia memohon rahmat bagi almarhum dan menyebut Sheikh Ahmed tetap hadir dalam doa serta hati keluarga, seraya mengutip kalimat bahwa sesungguhnya manusia milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.

Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan turut menyampaikan belasungkawa kepada Sheikh Mohammed. Ia menilai pengabdian panjang Sheikh Ahmed dalam pembangunan UEA sejak negara itu berdiri akan terus menginspirasi perjalanan bangsa menuju kemajuan.

Putra Mahkota Dubai Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum pun ikut mengenang mendiang pamannya. Ia menyebut Sheikh Ahmed sebagai sosok yang sangat dicintai keluarga dan menegaskan bahwa pamannya akan tetap berada dalam hati, kenangan, dan doa mereka.

Kepergian Sheikh Ahmed menutup satu babak panjang dalam sejarah olahraga Dubai. Warisan yang ia tinggalkan terlihat pada klub, arena, dan cabang olahraga yang tumbuh dari fondasi yang ia bangun sejak masa awal berdirinya UEA.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana lembaga-lembaga yang pernah ia pimpin, terutama Al Wasl dan Dubai International Marine Club, melanjutkan peran tersebut di panggung regional maupun internasional. Sheikh Ahmed bin Rashid Al Maktoum wafat, tinggalkan warisan panjang untuk olahraga UEA yang akan dikenang sebagai bagian dari fondasi kebangkitan olahraga Dubai.

Exit mobile version