Cakrawala News – 25 Oktober 2026 | Survei Matriks: Dua menteri ini dinilai memiliki kinerja terburuk dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Lembaga survei Matriks Politik Indonesia menempatkan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid sebagai dua menteri dengan penilaian terburuk di jajaran Kabinet Merah Putih.
Hasil survei yang dirilis pada Rabu (21/10/2026) itu menempatkan Natalius Pigai di urutan pertama dengan persentase penilaian negatif 82,6 persen. Nusron Wahid menyusul di posisi kedua dengan 78,3 persen.
“Natalius Pigai dan Nusron mendapat penilaian sebagai menteri terburuk di jajaran kabinet pada dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,” ujar Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia Supriyadi di Jakarta.
Di bawah keduanya, sejumlah nama lain turut masuk daftar penilaian terburuk. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mencatat 75,2 persen, disusul Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto sebesar 68,2 persen.
Selanjutnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memperoleh 65,7 persen, serta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait sebesar 60,7 persen.
Sorotan Terkait Nusron Wahid
Menurut Supriyadi, Nusron Wahid memiliki tingkat popularitas yang cukup tinggi, yakni 72,9 persen. Meski demikian, namanya menjadi sorotan publik terkait perkara dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor yang terungkap setelah operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian ATR/BPN turut ditangkap dalam perkara tersebut, bersama pihak dari kalangan politik dan pengusaha. KPK juga disebut tengah menelusuri dugaan penerimaan gratifikasi lainnya serta praktik jual-beli jabatan di lingkungan ATR/BPN.
Dalam pemberitaan ini, status hukum para pihak yang disebut tetap mengacu pada proses yang berjalan di KPK. Penilaian publik dalam survei tidak serta-merta menyatakan seseorang bersalah secara hukum.
Sementara itu, tingkat pengenalan publik terhadap Natalius Pigai tercatat sebesar 54,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo yang berada di kisaran 27,7 persen.
Kontras dengan Menteri Berkinerja Terbaik
Temuan Survei Matriks: Dua menteri ini dinilai memiliki kinerja terburuk ini berbanding terbalik dengan penilaian terhadap sejumlah menteri yang dinilai positif. Dalam survei yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menempati urutan pertama sebagai menteri terbaik dengan angka 75,1 persen.
Posisi kedua ditempati Menteri Agama Nasaruddin Umar sebesar 70,4 persen, disusul Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebesar 68,8 persen. Nama lain yang masuk daftar penilaian terbaik adalah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebesar 65,5 persen, Seskab Teddy Indra Wijaya 63,8 persen, dan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono 60,2 persen.
Berikutnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperoleh 55,7 persen, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto 52,1 persen, Menteri Sosial Saifullah Yusuf 50,6 persen, serta Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid 45,7 persen.
Menurut Supriyadi, kinerja Amran mendapat apresiasi luas terutama dalam bidang ketahanan pangan. Ia menilai Amran berhasil mewujudkan target membawa Indonesia mencapai swasembada beras dalam setahun pemerintahan, menyederhanakan distribusi pupuk bersubsidi, serta mempertahankan kebijakan harga pembelian gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Dampaknya, nilai tukar petani tercatat mencapai rekor tertinggi sebesar 131,11 pada September 2026.
Popularitas Pejabat dan Metodologi Survei
Dari sisi popularitas, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjadi pejabat paling dikenal publik dengan 88,88 persen. Ia disusul Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebesar 85,3 persen dan Menko Infrastruktur AHY sebesar 79,5 persen.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mencatat popularitas 78,8 persen, diikuti Amran Sulaiman 77,7 persen dan Abdul Mu’ti 73,8 persen. Menurut Supriyadi, tingginya popularitas Teddy tidak terlepas dari kedekatannya dengan Presiden Prabowo dalam berbagai kegiatan kenegaraan serta kemunculannya saat menjelaskan kebijakan pemerintah.
Survei Matriks Politik Indonesia dilakukan pada 10-15 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Sampel diklaim mewakili seluruh provinsi di Indonesia, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sebagai pembanding, survei Voxpol Center Research and Consulting mencatat 63,3 persen responden menilai Prabowo-Gibran mampu menjalankan pemerintahan, sementara 35,5 persen menilai kurang mampu dan tidak mampu. Penilaian positif tertinggi tercatat di Bali, NTB, dan NTT sebesar 88,4 persen, sedangkan DKI Jakarta dan Banten menjadi wilayah dengan penilaian tidak mampu tertinggi, yakni 51,1 persen.
Hasil Survei Matriks: Dua menteri ini dinilai memiliki kinerja terburuk menjadi gambaran bahwa evaluasi publik terhadap kabinet tidak seragam. Kinerja sejumlah menteri diapresiasi, tetapi catatan negatif pada beberapa pos tetap menonjol, terutama yang berkaitan dengan isu HAM dan tata kelola pertanahan.
Ke depan, publik akan mencermati apakah pemerintah merespons temuan ini melalui perbaikan kinerja, termasuk langkah terhadap persoalan di Kementerian ATR/BPN yang tengah ditangani KPK. Perkembangan penanganan perkara dan sikap pemerintah terhadap hasil survei akan menjadi hal yang perlu diperhatikan.












