Sosial  

Tak Hanya di Jalanan, Simbol Tiga Jari Kini Muncul di Forum Pemuda hingga CFD

Tak Hanya di Jalanan, Simbol Tiga Jari Kini Muncul di Forum Pemuda hingga CFD
Tak Hanya di Jalanan, Simbol Tiga Jari Kini Muncul di Forum Pemuda hingga CFD

Cakrawala News – 03 November 2026 | Tak hanya di jalanan, simbol tiga jari kini muncul di forum pemuda hingga CFD setelah gestur perlawanan itu kembali ramai digunakan dalam aksi unjuk rasa dan media sosial. Salah satu kemunculannya terlihat dalam Aksi Kamisan Bali ke-75 yang digelar di Patung Catur Muka, Denpasar, Kamis (29/10/2026). Ratusan peserta mengangkat tiga jari sambil menyuarakan beragam isu, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tingginya biaya hidup.

“Mari kita angkat tiga jari seperti yang dilakukan teman-teman kita di Jakarta dan kota lainnya,” ujar orator aksi, Farel Manurung, dalam aksi tersebut.

Patung Catur Muka di Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara, dipilih sebagai titik aksi sore itu karena ramai dilintasi masyarakat. Massa yang memadati perempatan di barat laut Lapangan Puputan Badung tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa. Pekerja hingga ibu rumah tangga turut hadir dalam aksi tersebut.

Salah seorang peserta, Diena, mengaku tergerak bergabung setelah melihat seruan Aksi Kamisan Bali di media sosial sehari sebelumnya. Ia datang sendiri karena ingin bergabung dengan orang lain yang juga merasakan tekanan biaya hidup.

“Datang sendiri, karena pengen gabung sama yang lain, yang juga merasa saat ini biaya hidup kok tambah tinggi, pajak tinggi, tapi gaji segitu saja,” kata Diena.

Dari Layar Fiksi ke Ruang Publik

Simbol tiga jari dikenal luas melalui seri film The Hunger Games yang diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins. Dalam cerita distopia itu, gestur mengacungkan jari telunjuk, tengah, dan manis awalnya digunakan sebagai bentuk penghormatan, rasa terima kasih, dan perpisahan. Maknanya kemudian berkembang menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap Capitol, pusat kekuasaan otoriter dalam cerita tersebut.

Di dunia nyata, gestur ini diadopsi sejumlah gerakan sosial dan pro-demokrasi. Di Thailand, simbol tiga jari digunakan demonstran setelah kudeta militer 2014, sementara di Myanmar muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kudeta 2021. BEM UI bahkan merujuk pada nilai-nilai Revolusi Prancis yang direpresentasikan setiap jari: liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan).

Ketua Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menegaskan gestur tersebut menjadi identitas bersama gerakan. “Penggunaan simbol ini adalah identitas kita bersama untuk merapatkan barisan, baik di jalanan maupun dalam aktivisme digital,” ujarnya.

BEM UI menjelaskan bahwa simbol itu telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas-batas fiksi. Dalam konteks Aksi Kamisan Bali, tiga jari dimaknai sebagai solidaritas, perlawanan terhadap kekuatan otoriter, serta perjuangan untuk kebebasan.

Menguat Setelah Aksi Hari Sumpah Pemuda

Perhatian terhadap simbol tiga jari menguat setelah aksi #IndonesiaSadar pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam aksi itu, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil mengacungkan tiga jari sambil membawa slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”.

Dalam konteks tersebut, salam tiga jari menjadi bagian dari pesan kritik terhadap berbagai persoalan yang disoroti peserta demonstrasi. Namun, penggunaan simbol ini tidak berhenti pada aksi di jalan. Ketika foto dan video demonstrasi beredar di media sosial, salam tiga jari berubah menjadi simbol visual yang dapat menyampaikan pesan tanpa perlu banyak kata.

Penyebaran di media sosial inilah yang membuat simbol tiga jari merambah ruang lain, termasuk forum-forum pemuda dan kegiatan car free day (CFD). Kemunculannya di ruang publik yang lebih luas menunjukkan bahwa gestur ini tidak lagi terbatas pada momentum demonstrasi, tetapi telah menjadi bahasa visual yang dipahami lintas kelompok.

Meski demikian, makna simbol tiga jari tetap bergantung pada konteks penggunaannya. Di satu sisi ia menjadi penanda solidaritas dan kritik sosial, di sisi lain ia juga berpotensi dipersepsikan berbeda tergantung siapa yang mengangkatnya dan isu apa yang disuarakan.

Yang Perlu Dicermati

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana simbol dari budaya populer dapat memperoleh makna baru ketika digunakan dalam situasi sosial dan politik yang berbeda. Dari layar film, tiga jari berpindah ke jalanan, lalu menyebar ke media sosial dan forum pemuda.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana simbol tersebut digunakan dan isu apa yang diusung di baliknya. Sebab pada akhirnya, sebuah gestur hanya bermakna sejauh pesan yang menyertainya dan konteks yang melingkupinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *