TNI: Dua Anggota KKB Tewas saat Kontak Tembak di Nduga, Rp88 Juta hingga 18 HP Disita

TNI: Dua Anggota KKB Tewas saat Kontak Tembak di Nduga, Rp88 Juta hingga 18 HP Disita
TNI: Dua Anggota KKB Tewas saat Kontak Tembak di Nduga, Rp88 Juta hingga 18 HP Disita

Cakrawala News – 27 Oktober 2026 | TNI: Dua anggota KKB tewas saat kontak tembak di Nduga, Papua Pegunungan, dalam baku tembak dengan personel Satgas Rajawali VI Den 1 Koops TNI Habema pada Jumat (23/10/2026). Insiden tersebut terjadi di sekitar Kampung Nonggoloit, Distrik Kenyam, dan turut menyisakan sejumlah barang bukti yang diamankan aparat dari lokasi kejadian.

Menurut Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, kontak tembak bermula dari laporan masyarakat mengenai keberadaan kelompok KKB Kodap III/Ndugama-Nderakma di kawasan permukiman. Saat tim patroli melakukan pemeriksaan, kelompok tersebut disebut melepaskan tembakan ke arah aparat sehingga terjadi baku tembak.

“Saat tim patroli melakukan pemeriksaan, kelompok tersebut melepaskan tembakan ke arah aparat sehingga terjadi baku tembak,” ujar Riyanto di Jayapura, Sabtu (24/10/2026).

Dua orang yang diduga anggota kelompok bersenjata dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara anggota lainnya melarikan diri ke kawasan hutan. Hingga Sabtu (24/10), proses identifikasi terhadap kedua jenazah masih berlangsung.

Barang Bukti yang Diamankan

Dalam penindakan tersebut, prajurit mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. Barang bukti itu meliputi dua pucuk senapan angin, busur dan anak panah, serta senjata tajam. Aparat juga menyita 18 unit telepon seluler, perangkat komunikasi handy talky (HT), dokumen dan atribut kelompok, serta uang tunai sebesar Rp88 juta.

Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, menyampaikan bahwa kontak tembak terjadi saat prajurit melakukan patroli untuk memastikan keselamatan warga. Menurutnya, situasi memanas setelah kelompok bersenjata disebut melepaskan tembakan ke arah personel TNI yang sedang menyisir lokasi.

“Saat tim patroli menyisir lokasi untuk memastikan keselamatan warga, pihak lawan justru melancarkan provokasi tembakan terarah yang memicu pertempuran frontal,” kata Wirya, Sabtu (24/10/2026).

Wirya menambahkan, setelah kontak tembak, aparat melakukan penyisiran dan mengamankan sejumlah barang yang ditemukan di lokasi. Barang-barang tersebut kini menjadi bagian dari hasil pengamanan setelah bentrokan.

Keprihatinan dan Penegasan Aparat

Brigjen TNI Riyanto menyampaikan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Ia menegaskan setiap nyawa memiliki nilai yang harus dihormati, namun aparat tetap harus mengambil tindakan tegas dan profesional ketika menghadapi ancaman bersenjata yang dinilai membahayakan keselamatan masyarakat maupun personel di lapangan.

“Kami menyayangkan adanya korban jiwa dalam peristiwa ini. Setiap nyawa memiliki nilai yang harus dihormati,” kata Riyanto.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama aparat adalah menjaga keamanan agar masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut. Upaya penindakan dilakukan untuk menjaga situasi tetap kondusif di wilayah tersebut.

“Tujuan utama kami adalah menjaga keamanan agar masyarakat dapat menjalani kehidupannya tanpa rasa takut,” ujarnya.

Versi Berbeda soal Korban

Di sisi lain, peristiwa pada hari yang sama di Kampung Yosema, Distrik Kenyam, juga meninggalkan korban jiwa dari kalangan warga. Tiga orang dilaporkan menjadi korban penembakan, dengan dua di antaranya meninggal dunia, yakni Masut Serer (25) dan Elkia Kerebea (14). Seorang korban selamat, Kambara Kerebea (18), mengalami luka tembak pada lengan kanan.

Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, menyatakan Kambara merupakan pelajar kelas VI sekolah dasar di salah satu sekolah di Kenyam. Berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada YKKMP, Kambara mengaku tidak pernah terlibat dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Korban anak sekolah, kelas 6 SD di salah satu sekolah di Kenyam. Korban menyampaikan dia tidak pernah terlibat dengan OPM. Dia murni anak sekolah,” kata Theo saat dikonfirmasi, Senin (26/10/2026).

Menurut keterangan korban yang selamat, sebelum penembakan terjadi, sebuah drone terlihat memantau wilayah kampung sekitar pukul 07.00 WIT. Sekitar dua jam kemudian, sejumlah anggota TNI disebut tiba di Kampung Yosema menggunakan kendaraan antipeluru. Kambara bersama dua rekannya disebut ketakutan dan berusaha melarikan diri dari rumah, namun terdengar tembakan dari arah belakang.

Theo mengungkapkan, Masut dan Elkia meninggal akibat peluru yang menembus tubuh mereka. Salah satu korban mengalami luka tembak di bagian dada hingga tembus, sedangkan korban lainnya mengalami luka tembak di bagian belakang tubuh yang juga tembus.

Sejumlah warga dan keluarga korban mendatangi Mapolres Nduga pada Sabtu (24/10/2026) sambil membawa kedua jenazah untuk menyampaikan protes dan tuntutan. Mereka menyatakan para korban adalah warga sipil, bukan anggota KKB atau TPNPB-OPM.

Perbedaan keterangan antara aparat dan pihak keluarga korban mengenai status para korban menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Hingga berita ini ditulis, proses identifikasi kedua jenazah yang diduga anggota kelompok bersenjata masih berlangsung, sementara penanganan medis dan pendampingan terhadap korban selamat terus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *