Cakrawala News – 02 November 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengecam pemilu Brasil, menyebut proses demokrasi di negara itu sebagai aib dan memalukan usai sekutunya, Flavio Bolsonaro, kalah dari Luiz Inacio Lula da Silva. Trump kecam pemilu Brasil, sebut aib dan memalukan usai sekutunya Flavio Bolsonaro kalah dari Lula [titlebase] itu disampaikan saat ia ditanya wartawan soal kemenangan tokoh sayap kiri tersebut. Pernyataan itu menjadi sorotan karena muncul hanya beberapa hari setelah putaran kedua pemilu Brasil yang dimenangkan Lula secara dramatis.
Menurut laporan kantor berita AFP, Kamis (29/10/2026), Trump menyampaikan kritiknya ketika ditanya apakah ia menerima kemenangan Lula. Ia mengaku belum ingin berkomentar lebih jauh, tetapi tetap menyebut pemilu tersebut sebagai hal yang memalukan bagi rakyat Brasil. “Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh saat ini, tetapi menurut saya pemilihan umum tersebut merupakan aib besar bagi rakyat Brasil,” kata Trump.
Dalam kesempatan lain, Trump bahkan menyebut pemilu Brasil tampak seperti pemilu curang. Ia mengklaim terdapat ketidaksesuaian dalam proses pemungutan suara, namun tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhannya. Trump juga menyinggung kinerja pasar sebagai alasan menyebut situasi di Brasil memalukan.
Kemenangan Dramatis Lula dan Kekalahan Flavio Bolsonaro
Kritik Trump muncul setelah Lula dinyatakan menang atas Flavio Bolsonaro dalam putaran kedua pemilu yang digelar pada Minggu. Berdasarkan hasil resmi otoritas pemilu di Brasilia, Lula meraih 51,75 persen suara, sementara Flavio Bolsonaro memperoleh 48,25 persen. Sejumlah sumber lain menyebut angka 51,79 persen berbanding 48,21 persen. Perbedaan angka ini muncul dari pembaruan penghitungan yang beredar di berbagai laporan, namun keduanya mengonfirmasi kemenangan Lula.
Kemenangan tersebut mematahkan prediksi banyak pihak. Flavio Bolsonaro, senator sayap kanan yang juga putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, sempat mengungguli Lula pada putaran pertama. Kemenangan Lula mengamankan masa jabatan keempatnya sebagai Presiden Brasil, yang tidak dijalani secara berturut-turut.
Flavio Bolsonaro sebelumnya mengklaim terjadi kecurangan pemilu tanpa menyertakan bukti. Ia juga meminta hasil pemilu dibatalkan dan berjanji akan memimpin oposisi dari negara bagian Florida, Amerika Serikat.
Flavio Bolsonaro Tiba di AS dan Bantahan Menlu AS
Usai kalah, Flavio Bolsonaro meninggalkan Brasil meski Mahkamah Agung negara itu telah memerintahkannya menyerahkan paspor. Perintah itu merupakan bagian dari penyelidikan dugaan korupsi, pencucian uang, dan penggelapan pajak yang tengah berjalan di Brasil. Ia diketahui mendarat di Miami pada Rabu (28/10/2026), sehari setelah pemerintah AS mengabulkan permohonan visanya. Menurut laporan media, ia menuju AS melalui Argentina dan Ekuador.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah pihaknya memfasilitasi kaburnya Flavio Bolsonaro. “Kami tidak memfasilitasi apa pun. Kami hanya mendengar kabar dia tiba di Amerika Serikat,” kata Rubio di sela KTT G20 di Atlanta, Georgia, Sabtu (31/10/2026). Ia menegaskan Flavio sebelumnya telah memiliki visa dan keputusan mengizinkannya masuk diambil oleh presiden.
Rubio menambahkan, pemerintah AS sama sekali tidak terlibat dengan manuver yang dilakukan Flavio Bolsonaro usai kalah pemilu. Departemen Luar Negeri AS juga mengonfirmasi bahwa Flavio beserta keluarga intinya memperoleh visa untuk memasuki negara tersebut. Meski demikian, sejumlah media AS melaporkan bahwa keberangkatan Flavio dibantu oleh seorang pejabat Gedung Putih, Jason Miller, klaim yang tidak dijelaskan lebih rinci dalam pernyataan resmi.
Simpati Trump dan Ketegangan Hubungan AS-Brasil
Trump sebelumnya menyatakan simpati kepada Flavio Bolsonaro. Ia mengeklaim pemilu Brasil dicurangi dan mengaku akan mengizinkan Bolsonaro tinggal tanpa batas waktu. “Saya kira dia diperlakukan dengan sangat, sangat buruk, jadi dia bisa tinggal di sini selama mungkin,” kata Trump, dikutip Al Jazeera.
Meski melontarkan kritik, Trump tidak sepenuhnya menyerang Lula. Ia mengaku menyukai Lula dan memiliki hubungan yang sangat baik dengannya. Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak berpihak kepada salah satu kandidat. “Saya tidak menjalankan Brasil. Saya menjalankan AS,” ujarnya.
Pernyataan Trump berisiko memperburuk hubungan bilateral yang sudah tegang. Analis dari Center for Strategic and International Studies, Evan Ellis, menilai sikap AS yang bersikeras pemilu Brasil tidak sah dapat meningkatkan permusuhan antara Trump dan Lula. Menurutnya, Lula yang tidak lagi dibatasi kebutuhan menghadapi pemilu mungkin akan semakin gencar menentang pemerintahan Trump dalam berbagai persoalan, mulai dari kampanye melawan kartel, Kuba, Iran, Israel, hingga tarif.
Di sisi lain, kedua negara tetap memiliki kepentingan strategis dan hubungan ekonomi yang signifikan. Brasil merupakan kekuatan perdagangan utama di Amerika Latin dan memasok bahan mentah, kopi, serta daging ke AS. Komoditas tersebut menjadi penting ketika Trump berupaya mengatasi inflasi di dalam negeri. Saat ini kedua pemerintahan berada dalam kebuntuan diplomatik, dengan AS belum memiliki duta besar di Brasilia dan status duta besar Brasil untuk Washington dalam ketidakpastian setelah visanya dicabut.
Kritik Trump atas pemilu Brasil menambah daftar gesekan antara Washington dan Brasilia di tengah kemenangan Lula. Publik kini menantikan bagaimana pemerintah Brasil merespons tuduhan kecurangan tersebut, sekaligus mengawasi kelanjutan status hukum Flavio Bolsonaro yang tengah diselidiki di negaranya. Perkembangan soal visa dan keberadaan Flavio di AS juga akan menjadi perhatian, terutama terkait bantahan pemerintah AS bahwa pihaknya tidak memfasilitasi kepergiannya.
