Cakrawala News – 29 Oktober 2026 | Perbincangan soal viral biaya hidup Indonesia vs Korsel, ini faktanya menurut ekonom, tengah ramai dibahas warganet di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Diskusi yang mencuat melalui forum daring Theqoo dan sejumlah akun Instagram itu menyoroti perbandingan harga kebutuhan sehari-hari dengan tingkat pendapatan di kedua negara, mulai dari telur, beras, bahan bakar minyak, hingga barang gaya hidup seperti tumbler Stanley.
Perdebatan tersebut tidak berhenti pada soal mahal atau murahnya suatu barang. Warganet juga mempersoalkan seberapa besar porsi penghasilan yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga perbandingan ini dinilai menjadi cerminan keresahan masyarakat terhadap kemampuan daya belinya di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Perbandingan Nominal yang Bikin Heboh
Dalam narasi yang beredar, disebutkan upah minimum regional (UMR) Korsel mencapai 2 juta won atau setara Rp 25 juta per bulan, sementara UMR Indonesia sekitar Rp 5 juta per bulan. Dengan asumsi tersebut, harga telur di Korsel tercatat 5.790 won per tray atau sekitar Rp 80 ribu, sedangkan di Indonesia berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 83 ribu per tray.
Perbandingan lain menyoroti harga beras di Korsel sebesar 4.460 won atau sekitar 0,21 persen terhadap UMR, sementara di Indonesia Rp 16 ribu per kg atau sekitar 0,46 persen terhadap UMR. Harga bahan bakar minyak di Korsel disebut 2.010 won per liter atau 0,09 persen terhadap UMR, sedangkan di Indonesia Rp 16.250 per liter atau sekitar 0,46 persen terhadap UMR.
Sejumlah unggahan juga menggunakan simulasi tanpa konversi mata uang, yakni gaji 2 juta won di Korsel dan Rp 2 juta di Indonesia. Dalam simulasi itu, harga beras di Korsel sekitar 4.500 hingga 5.000 won per kilogram hanya mengambil 0,23 sampai 0,25 persen penghasilan bulanan. Barang lain yang dibandingkan meliputi minyak goreng, gula, susu, mi instan, kopi sachet, anggur, melon, telur, dan pakcoy, dengan kisaran 0,1 hingga 0,45 persen dari penghasilan bulanan.
Barang gaya hidup juga menjadi sorotan. Tumbler Stanley disebut dijual sekitar 24.000 won di Korsel, setara 1,2 persen dari gaji 2 juta won. Sementara itu, Stanley seharga Rp 800 ribu di Indonesia disebut menghabiskan 40 persen dari gaji Rp 2 juta, atau sekitar 33 kali lebih besar berdasarkan simulasi tersebut.
Harga Nominal Tak Selalu Cerminkan Keterjangkauan
Ramainya diskusi ini memunculkan pertanyaan mengenai kondisi daya beli masyarakat Indonesia. Sebab, harga barang secara nominal tidak selalu mencerminkan tingkat keterjangkauannya. Harga yang lebih tinggi di suatu negara belum tentu lebih membebani masyarakat apabila pendapatan yang diterima juga jauh lebih tinggi. Sebaliknya, barang dengan harga relatif murah dapat tetap terasa mahal jika menyerap porsi penghasilan yang signifikan.
Untuk melihat gambaran pengeluaran masyarakat, data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta bisa menjadi pijakan. Pada 2025, rata-rata pengeluaran penduduk mencapai sekitar Rp 2,96 juta per kapita per bulan. Dari angka tersebut, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 1,15 juta dan non-makanan sekitar Rp 1,81 juta.
Pada kelompok pengeluaran makanan, rata-rata pengeluaran untuk daging tercatat sekitar Rp 70.168 per kapita per bulan, atau kira-kira setara 2 kilogram daging ayam. Angka itu mencakup kelompok daging secara keseluruhan, bukan hanya daging ayam. Data tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengkaji bagaimana masyarakat mengalokasikan penghasilannya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Beban Biaya Hidup dan Isu yang Menyertainya
Diskusi soal biaya hidup juga bersinggungan dengan isu lain yang tengah mencuat. Krisis iklim, misalnya, dinilai berpotensi membuat biaya hidup makin mahal. Perubahan pola hujan dan suhu ekstrem dapat mengganggu produksi pertanian dan memengaruhi pasokan bahan makanan. Data BPS menunjukkan produksi beras Indonesia turun dari 31,10 juta ton pada 2023 menjadi 30,62 juta ton pada 2024, atau berkurang sekitar 1,54 persen.
Selain pangan, suhu yang makin panas mendorong penggunaan kipas angin dan AC sehingga konsumsi listrik rumah tangga berpotensi meningkat. Panas ekstrem juga dikaitkan dengan kenaikan kunjungan fasilitas kesehatan. Studi yang terbit dalam jurnal Health Economics pada 2022 menemukan bahwa suhu rata-rata di atas 30 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia sebesar 8 persen, sementara kunjungan terkait diabetes naik 25 persen dan penyakit kardiovaskular naik 14 persen.
Di sisi lain, perdebatan publik tentang biaya hidup sempat tercampur dengan persoalan gaya hidup. Influencer Irenna Kristyn menjadi sorotan karena unggahannya yang dinilai menyindir masyarakat yang menyuarakan keresahan soal tingginya biaya hidup, termasuk melalui spanduk dalam aksi Greenpeace Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada 20 Oktober 2026. Polemik itu berujung pada pemutusan kerja sama oleh Samudra Management dan permohonan maaf dari Irenna.
Kasus tersebut memicu diskusi tentang perbedaan biaya hidup sebagai kebutuhan dasar dan gaya hidup sebagai pilihan pribadi. Biaya hidup mencakup pengeluaran untuk kebutuhan seperti tempat tinggal, makanan, pajak, layanan kesehatan, dan pendidikan, yang besarnya berbeda-beda bergantung pada lokasi, harga barang dan jasa, serta kebutuhan setiap individu atau keluarga.
Membaca viral biaya hidup Indonesia vs Korsel, ini faktanya menurut ekonom, publik perlu membedakan antara harga nominal dan porsi penghasilan yang terserap. Perbandingan angka mentah tanpa memperhitungkan pendapatan dan struktur pengeluaran berisiko menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan. Ke depan, data pengeluaran rumah tangga dan perkembangan harga pangan serta energi akan menjadi indikator penting untuk melihat arah daya beli masyarakat.












