Cakrawala News – 30 Oktober 2026 | Mark Zuckerberg berupaya mempertahankan kuasa atas Meta, tak mau lepas kekuasaan bahkan setelah meninggal dunia, melalui skema penerbitan saham baru yang dirancang agar ia tetap mengendalikan perusahaan meski harus menghadapi potensi tagihan pajak miliaran dolar Amerika Serikat. Langkah ini muncul di tengah pembahasan Proposition 40 di California, usulan pajak kekayaan bagi miliarder yang membuat CEO Meta tersebut mempertimbangkan kemungkinan pindah dari negara bagian tempat perusahaan induk Facebook dan Instagram itu berkantor pusat.
Menurut informasi yang dihimpun, Zuckerberg berpotensi menghadapi pajak sekali bayar sebesar 5 persen atas kekayaannya jika Proposition 40 disetujui pemilih. Namun, hasil pemungutan suara untuk usulan tersebut masih belum pasti. Kekayaan bersih Zuckerberg diperkirakan sekitar 240 miliar dolar AS, atau setara Rp4.334,4 triliun dengan kurs Rp18.060 per dolar AS. Angka itu membuat potensi kewajiban pajaknya sangat besar.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Meta menyiapkan skema penerbitan saham Class C tanpa hak suara. Saham ini memungkinkan Zuckerberg memperoleh dana untuk membayar potensi tagihan pajaknya tanpa harus melepaskan kendali atas perusahaan. Skema tersebut disertai komitmen Zuckerberg untuk tinggal di California selama delapan tahun.
Rencana penerbitan saham Class C dijadwalkan mulai Januari 2027. Selain untuk keperluan pajak, langkah ini disebut turut mendukung strategi akuisisi dan retensi talenta di lingkungan Meta. Perusahaan menilai kebutuhan pendanaan besar untuk ekspansi kecerdasan artifisial atau AI membuat posisi Zuckerberg semakin penting sebagai pemimpin yang dianggap krusial bagi arah bisnis perusahaan.
Bagaimana Skema Saham Class C Bekerja
Dalam struktur korporasi, saham Class C tanpa hak suara memungkinkan pemegang saham memperoleh manfaat ekonomi, seperti dividen atau hasil penjualan saham, tanpa menambah pengaruh terhadap keputusan perusahaan. Bagi Zuckerberg, mekanisme ini menjadi jalan agar ia bisa mencairkan sebagian nilai kekayaannya untuk membayar pajak tanpa mengurangi hak suara yang membuatnya tetap mengendalikan Meta.
Dengan demikian, strategi ini memperlihatkan bagaimana kebijakan pajak dapat memengaruhi keputusan pribadi seorang miliarder sekaligus strategi bisnis perusahaan teknologi raksasa. Meta tampaknya memilih mengakomodasi kepentingan Zuckerberg agar tetap memimpin dari California, alih-alih menghadapi risiko kehilangan sosok yang dianggap sentral dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Penerbitan saham baru juga berkaitan erat dengan kebutuhan bisnis Meta. Perusahaan tengah membutuhkan dana besar untuk mengembangkan infrastruktur dan layanan berbasis AI, sehingga stabilitas kepemimpinan dinilai penting. Dalam konteks itu, upaya Zuckerberg mempertahankan kuasa atas Meta, tak mau lepas kekuasaan bahkan setelah meninggal dunia, dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan strategi jangka panjang perusahaan.
Dampak bagi Zuckerberg dan Miliarder Lain
Keputusan pajak California berpotensi memengaruhi langkah miliarder lainnya. Jika Proposition 40 disetujui, kebijakan serupa bisa menjadi preseden bagi negara bagian lain dalam menerapkan pajak kekayaan. Hal ini membuat perdebatan tentang keadilan pajak dan daya tarik iklim investasi di California semakin relevan.
Bagi Zuckerberg, pilihan yang tersedia cukup kompleks. Ia dapat tetap tinggal di California dengan konsekuensi menghadapi pajak besar, atau mempertimbangkan pindah ke wilayah lain. Namun, skema saham Class C yang disiapkan Meta tampaknya dirancang untuk mengurangi tekanan tersebut, sehingga ia dapat memenuhi kewajiban pajak tanpa kehilangan kendali atas perusahaan yang ia dirikan.
Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah hasil pemungutan suara Proposition 40 dan detail final penerbitan saham Class C pada Januari 2027. Kedua hal itu akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap struktur kepemilikan Meta, posisi Zuckerberg, serta arah strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan di bidang AI.












