Cakrawala News – 02 November 2026 | Pengalaman 2 kali cerai, Larissa Chou ungkap ketakutan terbesar jadi single mom: harus urus anak sembari pulih. Lewat podcast di kanal YouTube Oki Setiana Dewi, selebgram yang akrab disapa Cici Larissa itu menceritakan bagaimana ia harus menanggung beban sebagai orang tua tunggal bagi dua anaknya sambil memulihkan kondisi dirinya sendiri setelah melalui perjalanan rumah tangga yang berat.
Pengakuan tersebut ia sampaikan dalam perbincangan yang dikutip detikcom pada Sabtu (31/10/2026) dan Minggu (1/11/2026). Bagi Larissa, menjadi single mom bukan sekadar soal mengasuh anak seorang diri, melainkan juga soal bertahan secara emosional ketika luka dari pernikahan sebelumnya belum sepenuhnya sembuh.
Ia menegaskan tidak ada seorang perempuan pun yang bercita-cita mengakhiri ikatan pernikahan. Menurutnya, keputusan untuk kembali sendiri diambil demi mencari ketenangan dan kebahagiaan hidup.
“Kalau boleh jujur, gak ada perempuan yang ingin hidup sendiri. Jadi ketika kita memutuskan untuk memilih hidup sendiri, berarti sebenarnya jauh lebih bahagia saat sendiri sepertinya,” kata Larissa Chou.
Perjuangan Dua Arah dalam Pernikahan
Larissa menyatakan setiap orang berhak memperoleh perlakuan yang baik serta dihargai dalam sebuah ikatan rumah tangga. Ia memegang prinsip bahwa perjuangan dalam pernikahan semestinya berjalan dua arah, bukan hanya ditanggung oleh satu pihak saja.
“Karena menurut Rissa, hidup hanya satu kali, Rissa layak untuk dicintai dengan baik, dibahagiakan, diperjuangkan, dan diusahakan karena Rissa juga melakukan hal itu,” tuturnya.
Keputusan berpisah, menurutnya, diambil setelah melalui berbagai pertimbangan batin. Ia merasa kelangsungan rumah tangganya saat itu sudah berada di titik yang tidak lagi membawa kebaikan bersama.
“Jadi saat Rissa merasa ini sudah tidak baik, lebih banyak air matanya dan takutnya malah lebih banyak mudaratnya, jadinya tidak berkah, karena Rissa pengin kan rumah tangga yang sama-sama berjuang. Jadi saat Rissa merasa sepertinya Rissa sudah tidak kuat, Rissa enggak mau lebih menyakiti diri sendiri,” terangnya.
Alih-alih memaksakan diri bertahan dalam situasi yang penuh kesedihan, perempuan berdarah Tionghoa ini memilih menyelamatkan kondisi emosionalnya. Baginya, mencintai pasangan tidak boleh sampai mengorbankan keutuhan diri sendiri.
“Karena ketika kita mencintai seseorang, bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri. Jadi Rissa ngerasa Rissa akan lebih memilih diri Rissa sendiri walaupun Rissa harus sakit, tapi setidaknya tidak berkepanjangan,” tegasnya.
Perjuangan Menjadi Mualaf dan Titik Terendah
Di sisi lain, Larissa juga mengenang perjuangannya menjadi mualaf pada 2016. Ia mengaku ujian hidup yang bertubi-tubi sempat membuat keistiqomahannya sebagai seorang muslimah bergoncang. Rasa sepi dan beratnya memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal sempat membuatnya teringat pada penerimaan hangat dari keluarga besarnya.
Ia pun terbuka soal penolakan yang dialaminya saat pertama kali memutuskan memeluk Islam. Menurut ceritanya, ia sempat diusir dari rumah dan sempat berselisih dengan orang tuanya, meski akhirnya diterima kembali.
“Jadi kalau Rissa ingat pas perjuangan masuk Islam itu sampai diusir dari rumah. Rissa waktu itu sampai ribut sama orang tua besar, sampai sempat diusir dari rumah walaupun akhirnya diterima kembali,” tuturnya.
Perjalanan awal memahami ajaran agama juga dilaluinya secara mandiri dengan penuh keterbatasan. Ia mengaku sempat mengandalkan konten di internet, termasuk YouTube, hanya untuk mencari tahu tata cara pelaksanaan salat, hingga akhirnya memanggil guru ngaji.
“Dulu ingat banget awal belajar salat aja tuh dari YouTube, jadi Rissa kira tuh seluruh salat itu empat rakaat. Subuh juga Rissa kira empat rakaat, karena belajarnya waktu itu dari YouTube sampai akhirnya panggil guru ngaji,” kenangnya.
Mengingat kembali seluruh proses panjang tersebut membuatnya sadar bahwa langkah mundur bukanlah jalan keluar. Ia memilih bertahan dengan sisa iman yang masih dimilikinya, sekaligus jujur bahwa dirinya masih dalam proses berjuang.
“InsyaAllah dengan sisa iman yang masih saya punya. Jangan berekspektasi tinggi karena, saya juga sedang berjuang,” kata Larissa Chou.
Pesan soal Karakter Pasangan
Pengalaman hidupnya itu rupanya sejalan dengan pesan yang ia sampaikan lewat unggahan di Instagram pada 22 Oktober lalu. Di tengah ramainya tren konten “Stop The Wedding”, Larissa membagikan pesan menohok terkait karakter pria yang perlu dipertimbangkan matang sebelum menikah.
Dalam unggahan bernuansa emosional itu, ia menyoroti kenyataan bahwa banyak orang terjebak dalam harapan palsu bahwa pasangan yang kurang bertanggung jawab atau emosional akan berubah menjadi pribadi lebih baik setelah menikah.
“Pernikahan tidak mengubah karakter. Kalau pasangan kamu seperti ini, STOP THE WEDDING!!!” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia menegaskan bahwa laki-laki yang mudah marah dan selalu ingin menang saat berdebat tidak akan otomatis menjadi sabar dan pengertian setelah menikah. Begitu pula mereka yang tidak bertanggung jawab tidak akan serta-merta bisa diandalkan.
Unggahan itu langsung menjadi perbincangan hangat netizen, mengingat perjalanan rumah tangga Larissa yang penuh lika-liku. Pesannya pun dibaca sebagai bentuk saran emosional bagi mereka yang sedang bersiap membangun keluarga.
Dari rangkaian ceritanya, terlihat bahwa persoalan yang dihadapi Larissa bukan hanya soal perpisahan, melainkan juga soal bagaimana ia harus tetap hadir sebagai ibu bagi dua anaknya sambil memulihkan diri. Pengalaman 2 kali cerai, Larissa Chou ungkap ketakutan terbesar jadi single mom: harus urus anak sembari pulih menjadi cermin bahwa pemulihan emosional kerap luput diperhatikan dalam pembahasan tentang perceraian.
Ke depan, perhatian publik kemungkinan tetap tertuju pada bagaimana ia menjalani peran sebagai orang tua tunggal sekaligus menjaga kesehatan mentalnya. Kisahnya juga menambah konteks perbincangan yang lebih luas soal pentingnya mengenali karakter pasangan dan menghargai diri sendiri dalam sebuah hubungan.
