2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Upah Buruh Naik 6,5 Persen

2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Upah Buruh Naik 6,5 Persen
2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Upah Buruh Naik 6,5 Persen

Cakrawala News – 26 Oktober 2026 | Memasuki 2 tahun pemerintahan Prabowo: ekonomi tumbuh, gaji buruh naik menjadi sorotan utama dalam evaluasi kinerja pemerintah. Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Syahganda Nainggolan menilai dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, capaian itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen serta kenaikan upah buruh yang signifikan.

Syahganda menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen, bahkan menyentuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Angka tersebut disebut sebagai pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak 2012 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut Syahganda, capaian itu ditopang belanja pemerintah pada awal tahun yang turut memancing aktivitas sektor swasta. Pernyataan tersebut sekaligus menjawab keraguan sejumlah ekonom terhadap data pertumbuhan.

“Nah kalau misalkan beberapa ekonom yang meragukan data 5,6 persen tadi, pemerintah sudah menjelaskan bahwa itu ada front loading, itu memang government spending di awal tahun itu besar-besaran sehingga memancing swasta dan lain-lain itu chip in dan itu memang menghasilkan 5,6 persen,” ujar Syahganda, Rabu (21/10).

Kesejahteraan Petani hingga Upah Buruh

Syahganda menegaskan pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat, termasuk siapa yang menikmati hasilnya. Ia menyebut pemerintah mulai mengarahkan kebijakan agar manfaat pertumbuhan turut dirasakan kelompok berpenghasilan rendah.

Salah satu indikatornya adalah nilai tukar petani (NTP) yang meningkat dari 124 pada akhir 2024 menjadi 131 pada September 2026. Menurut data BPS, nilai tukar nelayan (NTN) pada September 2026 tercatat 108,85.

Di sektor ketenagakerjaan, Syahganda menyatakan upah buruh naik rata-rata 6,5 persen selama dua tahun terakhir. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan upah sebelumnya yang sekitar 1 persen. Klaim tersebut menjadi salah satu poin utama dalam narasi 2 tahun pemerintahan Prabowo: ekonomi tumbuh, gaji buruh naik.

Rekor Pertumbuhan dan Penurunan Kemiskinan

Lembaga kajian GREAT Institute menilai Presiden Prabowo memiliki keberanian politik dalam memperluas akses kesejahteraan rakyat sekaligus mengoreksi pemusatan manfaat ekonomi. Direktur Eksekutif GREAT Institute Sudarto menyatakan keberpihakan itu diterjemahkan ke dalam prioritas anggaran, perlindungan pekerja, dan penertiban penguasaan sumber daya.

Sudarto memaparkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025 dan melonjak hingga 5,61 persen pada triwulan I-2026. Sejalan dengan itu, angka kemiskinan nasional ditekan dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,07 persen pada Maret 2026.

Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, tetapi juga menjaga stabilitas fiskal dan meningkatkan kesejahteraan. Menurutnya, setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus memperkuat kualitas manusia dan produktivitas.

Pemerintah mencatat sejumlah program prioritas, antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga 31 Agustus 2026 menjangkau 56,99 juta penerima manfaat. Cek Kesehatan Gratis (CKG) disebut menjangkau 70,3 juta penduduk pada 2025 dan 99,1 juta penduduk hingga September 2026. Pemerintah juga mengalokasikan dukungan renovasi 10.000 puskesmas serta pembangunan fasilitas RSUD lengkap di berbagai daerah.

Catatan Kritis soal Daya Beli

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya diikuti perbaikan kesejahteraan. Dalam diskusi publik bertajuk “Evaluasi Ekonomi 2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo”, Selasa (20/10/2026), peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan menyebut kenaikan pertumbuhan pada kuartal I-2026 disertai inflasi bahan pangan bergejolak (volatile food).

Menurut Manap, upah riil pada 2026 cenderung datar, hanya tumbuh sekitar 1,7 persen, sementara inflasi pangan bergejolak naik di atas 5 persen. Ia menilai pendapatan buruh belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekanan juga terlihat dari rata-rata saldo rekening kelompok di bawah Rp100 juta yang turun dari Rp2,27 juta pada masa pandemi menjadi Rp1,66 juta.

Manap juga menyoroti porsi pengeluaran untuk makanan di Indonesia yang masih sekitar 33 persen dan menilai kelas menengah terhimpit serta jauh dari program pemerintah. Di sektor keuangan, ia menyebut persoalan utama adalah kepercayaan pasar.

Perbedaan penilaian ini menunjukkan bahwa 2 tahun pemerintahan Prabowo: ekonomi tumbuh, gaji buruh naik masih menyisakan pekerjaan rumah, terutama dalam menjaga daya beli dan memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan merata. Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun berikutnya dengan tetap mengedepankan disiplin fiskal, sementara publik akan menantikan apakah kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan benar-benar terasa di tingkat rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *