Cakrawala News – 11 September 2026 | Jakarta – Ada 4 alasan investor mulai khawatir dengan utang pemerintah AS atau Amerika Serikat setelah total utang nasional negara itu menembus US$40 triliun. Kekhawatiran tersebut bukan semata-mata karena besarnya angka utang, tetapi juga karena pemerintah harus membayar bunga atas utang itu sementara kebutuhan pembiayaan untuk menutup defisit anggaran masih terus berjalan. Tekanan ini mulai terlihat di pasar obligasi ketika imbal hasil atau yield surat utang AS jangka panjang berada di level tinggi, kondisi yang penting karena perubahan yield Treasury dapat memengaruhi biaya pinjaman pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat, serta berdampak pada pasar saham dan nilai dolar AS.
Pertanyaan utama yang kini menjadi perhatian pasar bukan sekadar apakah AS mampu membayar utangnya, melainkan bagaimana pemerintah dapat menjaga agar utang tidak tumbuh jauh lebih cepat daripada perekonomian. Berikut empat alasan yang membuat investor mulai gelisah terhadap kondisi fiskal Negeri Paman Sam tersebut.
1. Defisit Anggaran AS Jauh di Atas Rata-rata Historis
Alasan pertama, pemerintah AS masih mengalami defisit, yaitu kondisi ketika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan defisit anggaran AS mencapai US$1,9 triliun pada 2026 atau sekitar 5,8 persen dari ukuran ekonominya. Angka itu jauh di atas rata-rata defisit selama 50 tahun terakhir yang berada di sekitar 3,8 persen.
Masalahnya, utang yang terus bertambah berarti pemerintah harus menerbitkan lebih banyak surat utang untuk memperoleh dana. Ketika jumlah surat utang yang harus dijual meningkat, investor dapat meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko dan kondisi pasar. Karena itu, perhatian investor bukan hanya tertuju pada angka US$40 triliun, tetapi juga pada kemampuan pemerintah mengendalikan pertumbuhan utangnya dalam jangka panjang.
2. Tagihan Bunga Utang yang Terus Membengkak
Alasan kedua, utang yang besar memperbesar tagihan bunga yang harus dibayar pemerintah. CBO memperkirakan pembayaran bunga bersih pemerintah AS mencapai sekitar US$1 triliun pada 2026 dan dapat meningkat menjadi US$2,1 triliun pada 2036 jika kondisi kebijakan saat ini berlanjut.
Artinya, semakin banyak anggaran pemerintah yang harus digunakan untuk membayar bunga dibandingkan dengan membiayai kebutuhan lainnya. Situasi tersebut membuat investor memperhatikan arah suku bunga dan yield Treasury dengan lebih serius. Ketika bunga yang harus dibayar semakin besar, pemerintah menghadapi tekanan lebih tinggi setiap kali harus menerbitkan atau memperbarui surat utang dengan tingkat bunga yang mahal. Jika pertumbuhan ekonomi tidak cukup kuat untuk mengimbangi pertambahan utang, beban tersebut dapat semakin sulit dikendalikan.
3. Yield Treasury Jangka Panjang Melonjak
Alasan ketiga terlihat langsung dari pergerakan pasar obligasi pemerintah AS. Pada Agustus 2026, yield obligasi Treasury 30 tahun sempat mencapai level tertinggi dalam sekitar 19 tahun, sementara yield 10 tahun juga berada di level yang relatif tinggi. Investor meminta imbal hasil lebih besar ketika membeli utang jangka panjang, salah satunya karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan inflasi.
Kenaikan yield bukan hanya masalah bagi pemerintah, tetapi juga dapat menjalar ke berbagai bagian ekonomi. Bunga pinjaman perusahaan, kredit konsumen, dan pembiayaan rumah biasanya ikut dipengaruhi oleh kondisi pasar obligasi pemerintah. Bahkan saham dapat terkena tekanan karena yield Treasury yang lebih tinggi membuat obligasi terlihat lebih menarik sekaligus meningkatkan biaya pendanaan perusahaan.
4. Proyeksi Utang Publik Terus Naik hingga 2036
Alasan keempat, CBO memperkirakan utang pemerintah yang dimiliki publik dapat meningkat dari sekitar 101 persen terhadap ukuran ekonomi AS pada 2026 menjadi 120 persen pada 2036. Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan fiskal berpotensi semakin besar jika tidak ada perubahan kebijakan.
Kekhawatiran itu ikut menjelaskan mengapa langkah pemerintah untuk menenangkan pasar obligasi belum sepenuhnya menghilangkan kegelisahan investor. Treasury bahkan memperbesar pembelian kembali surat utang jangka panjang, tetapi yield masih kembali naik setelah sempat turun.
Buyback US$6 Miliar Belum Redam Pasar
Departemen Keuangan AS sebelumnya menyatakan akan membeli kembali utang pemerintah senilai hingga US$6 miliar. Langkah yang telah lama dinanti itu melipatgandakan volume operasi pembelian kembali atau buyback yang biasanya dilakukan, dan merupakan tindak lanjut pernyataan Menteri Keuangan Scott Bessent pada 19 Agustus yang menyebut departemen tersebut setidaknya akan menggandakan jumlah normal untuk sekuritas yang telah diterbitkan. Departemen Keuangan juga menyatakan operasi di masa mendatang akan bernilai setidaknya US$4 miliar.
Meski secara resmi bertujuan menjaga likuiditas pasar utang pemerintah, langkah luar biasa ini juga dipandang sebagai upaya menahan kenaikan yield obligasi pemerintah yang sempat mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global 2008. Namun reaksi pasar justru negatif. Imbal hasil obligasi pemerintah kembali naik secara fluktuatif, dengan sekuritas berjangka panjang sempat mencatat kenaikan hingga 5 basis poin sebelum akhirnya melandai. Obligasi acuan bertenor 10 tahun mencapai level 4,841 persen, obligasi 20 tahun naik ke 5,314 persen, dan obligasi 30 tahun naik 5 basis poin hingga menembus level penting 5,3 persen.
Manajer dana obligasi Mark Spindel, kepala pejabat investasi di Potomac River Capital, menilai langkah itu bukanlah ‘bazoka’ ala Hank Paulson seperti pada masa krisis keuangan. Menurut Robert Tipp, kepala strategi investasi dan kepala obligasi global di PGIM Credit, ekspektasi pasar sebenarnya berkisar antara US$6 miliar hingga US$10 miliar, sehingga angka yang ditetapkan berada di batas bawah ekspektasi pasar.
Sejumlah investor juga mulai mencari aset alternatif seperti Bitcoin dan emas di tengah kekhawatiran terhadap besarnya utang dan defisit pemerintah AS. Dalam tujuh hari perdagangan hingga 27 Agustus, spot Bitcoin ETF AS mencatat arus masuk sekitar US$2,5 miliar, menjadi yang terbesar sejak Oktober, karena sebagian investor menilai aset dengan jumlah terbatas itu dapat membantu melindungi nilai ketika daya beli dolar menurun.
Ke depan, pasar tampaknya tidak hanya menunggu operasi buyback lanjutan, tetapi ingin melihat penyelesaian yang lebih mendasar, yaitu bagaimana pemerintah AS mengendalikan defisit dan pertumbuhan utang secara berkelanjutan. Selama belum ada perubahan kebijakan yang meyakinkan, tekanan pada pasar obligasi dan kekhawatiran investor terhadap utang pemerintah AS berpotensi tetap menjadi tema utama yang mewarnai pergerakan pasar keuangan global.
