Cakrawala News – 11 September 2026 | Daftar saham PER terendah & tertinggi LQ45 (9 September 2026), INDY dan AADI disorot [titlebase] menjadi sorotan pelaku pasar di tengah gejolak Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode tersebut bergerak dinamis seiring kebijakan baru BEI yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per saham. Kebijakan ini mengubah peta valuasi saham, terutama bagi emiten yang selama ini terparkir di level gocap.
Meski data resmi peringkat PER (price earning ratio) LQ45 per 9 September 2026 tidak dijabarkan secara rinci dalam materi sumber, indikator valuasi ini tetap menjadi acuan utama investor dalam menilai mahal atau murahnya suatu saham. Saham dengan PER rendah umumnya dianggap lebih menarik secara valuasi, sementara PER tinggi mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang besar.
Kebijakan Harga Minimum Rp 1 dan Dampaknya ke Pasar
Kebijakan BEI yang menurunkan batas harga minimum saham dari level Rp 50 ke Rp 1 menjadi katalis utama pergerakan pasar pada awal September 2026. Langkah ini membuka ruang bagi saham-saham gocap untuk bergerak lebih leluasa, termasuk saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang telah lama tertahan di Rp 50.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan harga GOTO dalam jangka pendek. Menurutnya, saham GOTO berpotensi menguji level Rp 20-Rp 30 setelah batas bawah Rp 50 dicabut. Dalam skenario tekanan jual yang kuat, GOTO bahkan dapat bergerak menuju Rp 10-Rp 20.
“Rekomendasi GOTO menurut saya adalah NOT RATED,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Rabu (9/9). Ia menjelaskan pencabutan batas harga Rp 50 berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan jual dalam jangka pendek, meski juga membuka mekanisme price discovery yang lebih sehat.
Nafan juga menyoroti transaksi di pasar negosiasi yang menunjukkan saham GOTO telah berpindah tangan di kisaran Rp 23-Rp 25 per saham. Level tersebut dapat menjadi referensi dalam proses price discovery apabila batas bawah Rp 50 benar-benar dicabut.
Pergerakan IHSG dan Saham Top Losers
Pada periode 31 Agustus hingga 4 September 2026, IHSG mencatat kenaikan 1,82% menjadi 6.636,47 dari pekan sebelumnya 6.518,12. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.704 dan terendah 6.476,17. Rata-rata volume perdagangan saham melonjak 35,90% menjadi 48,99 miliar saham, sementara rata-rata nilai transaksi naik 25,75% menjadi Rp 19,22 triliun.
Di tengah lonjakan IHSG, sejumlah saham justru mengalami penurunan terbesar. PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) tercatat merosot 38,14% menjadi Rp 120 per saham dari pekan sebelumnya Rp 194 per saham. Sektor basic materials turun 1,26% dan perawatan kesehatan turun 1,25%, menjadi satu-satunya sektor yang melemah.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyoroti IHSG yang terkoreksi 0,47% ke level 6.636 pada perdagangan terakhir, disertai munculnya tekanan jual. Ia memperkirakan area support IHSG berada di kisaran 6.561-6.476, dengan resistance pada rentang 6.705-6.755.
“Sehingga IHSG rawan terkoreksi dengan area terdekat berada di 6.578-6.626,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (7/9).
Top Gainer dan Dinamika Pasar 10 September 2026
Sehari setelah periode yang disorot, yakni pada 10 September 2026, lima saham top gainer dipimpin oleh GSMF yang meroket 34,78% ke level Rp 124 per saham. Saham MGNA menguat 34,65% ke Rp 136, disusul KPIG, SAPX, dan MSKY. Total nilai transaksi kelima saham top gainer tersebut mencapai Rp 519,2 miliar dari 407 saham yang aktif diperdagangkan.
Secara agregat, kelima saham top gainer mencatat net sell asing sekitar 141,32 juta saham. GSMF milik Equity Development Investment Tbk diperdagangkan antara Rp 93 hingga Rp 124 dengan volume 293,42 juta saham dan nilai transaksi sekitar Rp 33,31 miliar. Adapun MGNA milik Magna Investama Mandiri Tbk dibuka pada Rp 103 dan bergerak di rentang Rp 103-Rp 136.
Daftar saham PER terendah & tertinggi LQ45 (9 September 2026), INDY dan AADI disorot [titlebase] menjadi relevan karena kedua emiten tersebut kerap menjadi bahan perbandingan valuasi di kalangan analis. Indikator PER membantu investor membedakan saham yang diperdagangkan murah secara fundamental dan saham yang mahal karena ekspektasi pertumbuhan.
Sentimen Global dan Proyeksi ke Depan
Phintraco Sekuritas menyoroti lesunya bursa Wall Street pada perdagangan Jumat (4/9). Tekanan muncul setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan peluang The Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan 16 September.
Data nonfarm payrolls AS bertambah 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui perkiraan 53 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di level 4,1%. Kondisi ini menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati investor di tengah kebijakan baru BEI.
Dalam risetnya, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk sejumlah saham, termasuk AMRT dengan akumulasi beli di rentang Rp 1.280-Rp 1.300 dan target harga Rp 1.345-Rp 1.365, serta ELSA pada area Rp 695-Rp 720 dengan target Rp 780-Rp 830.
Bagi investor, daftar saham PER terendah & tertinggi LQ45 (9 September 2026), INDY dan AADI disorot [titlebase] dapat menjadi pijakan awal dalam menyusun strategi. Namun, valuasi PER bukan satu-satunya indikator, karena likuiditas, kualitas laba, dan sentimen makro turut menentukan arah harga saham ke depan.
Ke depan, pelaku pasar perlu mencermati implementasi kebijakan harga minimum Rp 1, perkembangan harga saham gocap seperti GOTO, serta rilis data ekonomi global yang dapat memengaruhi keputusan The Federal Reserve. Kombinasi faktor domestik dan eksternal ini akan menentukan apakah IHSG mampu mempertahankan tren penguatannya atau kembali terkoreksi.
