Cakrawala News – 14 September 2026 | Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 resmi dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 8 September 2026, dan kembali menempatkan kualitas pendidikan sains sejumlah negara di bawah sorotan. Survei yang melibatkan lebih dari 760 ribu siswa berusia 15 tahun dari 91 negara dan wilayah ekonomi ini menunjukkan China, yang diwakili wilayah megapolitan Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang, memimpin dengan skor sains 597, jauh di atas rata-rata negara OECD.
Posisi China diikuti Singapura dengan skor 560 dan Makau dengan 541. Taiwan menempati urutan keempat dengan skor 540, disusul Jepang dengan 538. Estonia melengkapi lima besar dengan selisih 11 poin dari Jepang, yakni 527. Capaian ini menegaskan bahwa kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara tertentu masih mendominasi kualitas pendidikan sains global versi PISA.
PISA sendiri merupakan survei rutin yang mengukur sejauh mana siswa berusia 15 tahun telah menguasai kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan ekonomi. OECD menilai empat kompetensi utama melalui Computer Based Test (CBT) dan Paper Based Test (PBT), yakni sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah komputasi. Pada edisi 2025, sains menjadi fokus utama penilaian.
Peringkat Sains Dunia dan Catatan Pentingnya
OECD menekankan bahwa anak muda perlu memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan yang relevan untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan dan pekerjaan. Keluarga, sekolah, dan komunitas dinilai berperan penting dalam mendukung keterlibatan siswa serta keberhasilan pendidikan. Karena itu, pembelajaran sepanjang hayat menjadi kunci agar generasi muda mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan ekonomi dan sosial yang terus berkembang.
Namun, gambaran global tidak sepenuhnya menggembirakan. Data OECD menunjukkan rata-rata skor membaca di negara-negara OECD turun 28 poin antara 2015 dan 2025, sementara skor matematika turun 22 poin. Sains tercatat lebih tangguh dengan penurunan yang lebih kecil pada periode yang sama. Sebanyak 20 persen siswa berusia 15 tahun di negara OECD kini tergolong berperforma rendah di ketiga mata pelajaran, naik dari 16 persen pada 2022.
Kelompok siswa tersebut tidak mencapai Level 2, tingkat kecakapan dasar yang dianggap perlu untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal daya fokus generasi muda di tengah gempuran layar dan konten digital yang serba cepat.
Posisi Indonesia dan Seruan Refleksi
Di Indonesia, hasil PISA 2025 kembali menjadi bahan refleksi. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengumumkan hasil tersebut di Jakarta pada 8 September 2026. Capaian murid Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains masih berada di bawah rata-rata internasional, dengan terlalu banyak siswa usia 15 tahun yang belum mencapai kompetensi minimum untuk menggunakan kemampuan tersebut secara fungsional.
Pandangan yang berkembang di kalangan pengamat pendidikan adalah bahwa PISA seharusnya tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir. PISA lebih tepat diposisikan sebagai cermin untuk melihat kualitas kompetensi yang dihasilkan sistem pendidikan. Pertanyaan yang dinilai lebih penting bukanlah bagaimana menaikkan peringkat, melainkan apa yang perlu diperbaiki setelah melihat bayangan diri di cermin tersebut.
Inti persoalan yang dicerminkan PISA adalah kesenjangan antara mengetahui dan mampu menggunakan pengetahuan. Seorang murid mungkin telah mempelajari perubahan iklim dan dapat menjelaskan definisinya, tetapi belum tentu mampu membaca data, mengevaluasi bukti ilmiah, membedakan informasi yang dapat dipercaya dari yang menyesatkan, serta mengambil keputusan berbasis pengetahuan itu. Hal serupa berlaku dalam matematika, ketika siswa dituntut mengenali persoalan kehidupan yang dapat direpresentasikan secara matematis dan menilai apakah jawabannya masuk akal.
Tantangan Malaysia dan Target 2030
Sorotan serupa datang dari Malaysia. Institute of Strategic Analysis and Policy Research (Insap) menyatakan alarmnya terhadap temuan country note PISA 2025 untuk Malaysia. Menurut lembaga itu, siswa berusia 15 tahun di Malaysia memperoleh skor 397 untuk matematika, 393 untuk membaca, dan 419 untuk sains. Matematika tercatat turun pada dua siklus berturut-turut sejak 2018 dengan total penurunan 43 poin, dan kini berada di bawah skor 404 yang dicapai Malaysia pada partisipasi pertamanya, yakni PISA 2009+ yang dilaksanakan pada 2010.
Insap menyoroti bahwa 65 persen siswa Malaysia berada di bawah Level 2, ambang batas untuk menerapkan matematika pada situasi sehari-hari, dibandingkan 35 persen di negara-negara OECD. Sementara itu, siswa pada Level 5 atau 6, tingkat yang oleh OECD dikaitkan dengan kemampuan memodelkan situasi kompleks secara matematis, hanya 0,6 persen dari kohort, berbanding 8 persen di OECD. Insap menyimpulkan bahwa hasil matematika tersebut mencerminkan bagaimana kebijakan pendidikan Malaysia dirancang sejak 2023, dan bahwa target talenta 2030 yang dicanangkan pemerintah hanya mungkin dicapai jika tiga instrumen kebijakan diterapkan sekarang.
Di sisi lain, hasil PISA 2025 juga memicu reaksi di Jerman dan Turkiye. Laporan yang beredar menyebut otoritas Jerman menggelar pertemuan darurat setelah hasil PISA menunjukkan siswa sekolah menengah Turkiye hampir mengejar capaian rekan-rekan mereka di Jerman. Di Turkiye, lonjakan skor PISA yang belum pernah terjadi sebelumnya justru memicu tuduhan dari pihak oposisi yang meragukan keaslian angka tersebut, meski tuduhan itu diakui tanpa bukti.
Apa yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Dari seluruh temuan itu, benang merah yang muncul adalah bahwa PISA tidak sekadar soal peringkat, melainkan potret kemampuan generasi muda dalam menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata. Penurunan skor membaca dan matematika di banyak negara, serta besarnya proporsi siswa berperforma rendah, menjadi peringatan bahwa kualitas pembelajaran perlu terus dievaluasi.
Bagi Indonesia dan Malaysia, hasil PISA 2025 menjadi pijakan untuk meninjau ulang desain kurikulum, asesmen, dan dukungan bagi siswa agar tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi sampai pada kemampuan menerapkannya. Sebab, pada akhirnya, yang diuji bukan hanya apa yang dipelajari di sekolah, melainkan apa yang benar-benar mampu dilakukan siswa dengan pengetahuan tersebut.








