Cakrawala News – 14 September 2026 | US Open 2026: Elena Rybakina dapat uang Rp96 miliar dengan cara yang luar biasa setelah menaklukkan Aryna Sabalenka di final tunggal putri. Petenis Kazakhstan itu menang 6-4, 5-7, 6-2 dalam laga dua jam 21 menit di Arthur Ashe Stadium, New York, Minggu dini hari WIB. Kemenangan tersebut bukan hanya mengangkat trofi Grand Slam ketiganya, tetapi juga mengukuhkan dirinya sebagai petenis nomor satu dunia, menggusur Sabalenka yang telah bertahan selama 99 pekan.
Hadiah uang sebesar USD 5,5 juta atau sekitar Rp96 miliar yang diterima Rybakina menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah tenis putri. Angka itu muncul dari total kompensasi pemain US Open 2026 yang mencapai USD 108 juta atau sekitar Rp1,9 triliun, naik sekitar 20 persen dibanding edisi sebelumnya. Peningkatan prize pool tersebut menjadikan US Open sebagai turnamen dengan total hadiah terbesar di dunia tenis saat ini.
Dari Keraguan Cedera Menuju Puncak
Perjalanan Rybakina menuju gelar ini tidak berjalan mulus. Sekitar tiga pekan sebelum US Open, ia terpaksa mundur dari turnamen Cincinnati saat menghadapi Iga Swiatek di perempat final. Cedera pergelangan kaki membuatnya hanya bermain lima gim sebelum memutuskan berhenti. Hasil MRI saat itu bahkan tidak menunjukkan kondisi yang positif, sehingga muncul keraguan apakah ia bisa tampil di New York.
Namun, konsultasi dengan sejumlah dokter membuat proses pemulihannya berjalan maksimal. Rybakina menyebut komunikasi intens dengan dokternya di Australia sangat membantu. “Saya beruntung memiliki dokter yang sangat baik di Australia. Dia terus berkomunikasi dengan kami melalui telepon sepanjang waktu,” ujar petenis berusia 27 tahun yang dijuluki Ice Queen itu.
Keraguan justru berubah menjadi energi. Di New York, Rybakina melewati turnamen dengan kemenangan-kemenangan meyakinkan, termasuk menyingkirkan dua mantan juara Grand Slam, Naomi Osaka dan Coco Gauff, sebelum mengatasi Sabalenka di partai puncak. Gelar ini menjadi Grand Slam ketiganya setelah Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026, yang juga diraihnya dengan mengalahkan Sabalenka.
Jalannya Pertandingan Final
Di final, ketenangan menjadi pembeda. Dua petenis dengan pukulan keras itu tampil agresif sejak awal, tetapi Rybakina lebih konsisten memanfaatkan peluang. Ia menciptakan 12 break point dan mengonversi tiga di antaranya. Pada set pertama, tekanan Rybakina membuat Sabalenka kehilangan kendali dan menyerah 4-6, meski Rybakina hanya mencatat 27 persen keberhasilan servis pertama.
Sabalenka sempat bangkit pada set kedua. Persentase servis pertama Rybakina membaik menjadi 61 persen, tetapi ia gagal memanfaatkan dua peluang break point. Sabalenka mulai menemukan ritme dan memperoleh break pertama pada gim terakhir untuk memaksakan set penentuan dengan kemenangan 7-5.
Kebangkitan itu hanya menjadi jeda singkat. Pada set ketiga, Rybakina kembali mengendalikan pertandingan. Ia melakukan break untuk memimpin 2-1 dan kembali mematahkan servis Sabalenka untuk unggul 5-2. Servis menjadi senjata penentu di momen krusial. Meski sempat melakukan double fault, Rybakina mampu menutup pertandingan dengan sebuah ace pada match point.
“Saya sangat tegang. Sulit untuk tetap fokus,” kata Rybakina kepada AFP. “Saya tahu dia pemain hebat dan berani mengambil risiko. Jadi, saya harus memenangkan pertandingan itu sendiri.”
Sabalenka Kehilangan Takhta dan Sejarah
Kekalahan itu mengakhiri ambisi Sabalenka mencatat hat-trick gelar US Open. Ia gagal menjadi perempuan ketiga setelah Chris Evert dan Serena Williams yang mampu menjuarai US Open tiga tahun berturut-turut. Sabalenka juga menutup musim tanpa gelar Grand Slam untuk pertama kalinya sejak 2022, sekaligus mengakhiri rentetan 20 kemenangan beruntunnya di Flushing Meadows.
Setelah laga berakhir, Sabalenka bahkan mematahkan raketnya di kursi pemain. “Saya tidak benar-benar bahagia dengan level permainan kali ini. Tetapi dia melakukan servis dengan luar biasa. Dia bermain sangat agresif dan hebat,” ujarnya. Ia mengakui tekanan mengejar gelar ketiga beruntun ikut memengaruhi emosinya. “Sangat sulit mengendalikan emosi ketika kalah di final Grand Slam, apalagi ketika mencoba meraih tiga gelar beruntun.”
Sabalenka juga harus merelakan posisi nomor satu dunia yang telah dikuasainya selama 99 pekan. “99 pekan? Wow. Itu fantastis. Mari kita lihat apakah Elena bisa melampaui rekor saya itu. Tetapi, jika dia terus bermain seperti tadi, ya, saya dalam bahaya besar,” tuturnya.
Era Baru Tenis Putri
Kemenangan di Arthur Ashe Stadium menandai dimulainya era baru dalam persaingan tenis putri. Rybakina menjadi petenis putri ketiga sejak 2000 yang mampu menjuarai Australian Open dan US Open pada tahun yang sama, setelah Angelique Kerber pada 2016 dan Sabalenka pada 2024. Gelar US Open juga menjadi trofi ketiga Rybakina sepanjang 2026 dan yang ke-14 dalam kariernya.
Rybakina kini hanya membutuhkan gelar Roland Garros untuk melengkapi koleksi empat gelar Grand Slam atau Career Slam. “Sulit menemukan kata-kata sekarang. Sejujurnya, saya tidak menyangka akan seperti ini. Saya sempat mengalami sedikit cedera, tetapi entah bagaimana semuanya berjalan sesuai keinginan saya. Saya datang ke sini selama 10 tahun terakhir dan tidak pernah berhasil. Ini luar biasa,” kata Rybakina dalam seremoni penyerahan trofi.
Ia mengaku semakin jatuh cinta kepada New York. “Kali pertama saya datang ke sini sepuluh tahun lalu sebagai petenis junior. Sejak saat itu, tempat ini sudah terasa luar biasa bagi saya. Suasananya sangat riuh dan berbeda dari tempat-tempat lain,” ujarnya. “Saya datang ke sini setelah melewati banyak hal. Sekarang saya hanya ingin menikmati momen ini.”
Dengan gelar ini, US Open 2026: Elena Rybakina dapat uang Rp96 miliar dengan cara yang luar biasa sekaligus menegaskan dominasinya di puncak klasemen WTA. Perhatian publik tenis kini tertuju pada apakah Rybakina mampu mempertahankan konsistensinya, termasuk mengejar gelar Roland Garros yang masih belum ia miliki. Sementara itu, Sabalenka akan berusaha bangkit dan merebut kembali posisi yang telah lama dikuasainya.




