Cakrawala News – 16 September 2026 | Polda Banten memastikan temuan helm, jeriken, life jacket tak terkait jurnalis yang hilang di Selat Sunda. Tiga jenis barang yang ditemukan tim SAR gabungan di perairan sebelah timur Pulau Rakata itu dinyatakan bukan milik lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak sejak Senin (7/9/2026). Kepastian tersebut disampaikan setelah polisi melakukan pemeriksaan dan konfirmasi kepada pemilik kapal.
Barang yang ditemukan terdiri atas satu helm plastik berwarna merah, satu jeriken plastik biru bertutup hitam, serta dua jaket pelampung berwarna oranye. Temuan itu sempat memunculkan harapan baru dalam operasi pencarian yang telah memasuki hari kelima. Namun, hasil pengecekan menunjukkan benda-benda tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan rombongan jurnalis yang sedang meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Hasil Pemeriksaan Barang Temuan
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan bahwa dua life jacket yang ditemukan memiliki tulisan MILLES II. Setelah dikonfirmasi kepada pemilik KM Arupadhatu 1, jenis pelampung tersebut tidak sesuai dengan perlengkapan kapal.
“Setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi dari pemilik kapal KM Arupadhatu 1, dua life jacket berwarna oranye bertuliskan MILLES II dinyatakan bukan milik kapal karena life jacket yang tersedia di kapal berwarna merah, kuning, dan ungu serta tidak memiliki tulisan MILLES II,” kata Maruli dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).
Pemeriksaan kemudian dilakukan terhadap jeriken berwarna biru yang ditemukan di lokasi pencarian. Hasil pengecekan menunjukkan adanya perbedaan karakteristik antara jeriken tersebut dengan wadah yang digunakan KM Arupadhatu 1.
Menurut Maruli, jeriken milik KM Arupadhatu 1 berwarna biru pudar, berkapasitas 30 liter, berbentuk pendek, memiliki tutup berwarna putih, dan polos tanpa penanda. Sementara itu, jeriken yang ditemukan berwarna biru tua, berkapasitas 35 liter, berbentuk panjang, memiliki tutup berwarna hitam, serta terdapat tulisan pada bagian badan jeriken.
Selain bentuk dan ukuran, isi jeriken juga tidak sesuai dengan bahan bakar kapal. Jeriken temuan diketahui mengeluarkan aroma minyak sayur, sedangkan KM Arupadhatu 1 menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar.
Untuk helm plastik berwarna merah, polisi juga memastikan benda tersebut bukan perlengkapan milik kapal. KM Arupadhatu 1 diketahui tidak memiliki maupun menyediakan helm jenis tersebut di atas kapal.
Imbauan agar Masyarakat Tidak Berspekulasi
Dengan hasil pemeriksaan itu, Polda Banten meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan setiap barang yang ditemukan dengan delapan orang yang masih hilang. Polisi menegaskan bahwa setiap perkembangan resmi akan disampaikan melalui saluran informasi yang kredibel.
“Setiap perkembangan terkait proses pencarian dan pemeriksaan akan disampaikan melalui sumber informasi resmi,” ujarnya.
Maruli juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Imbauan ini penting mengingat operasi pencarian melibatkan banyak pihak dan setiap temuan benda di laut berpotensi menimbulkan spekulasi di ruang publik.
Sebelumnya, tim SAR gabungan juga pernah menemukan sejumlah benda pada Kamis (10/9/2026). Benda-benda yang ditemukan saat itu juga dinyatakan bukan milik para korban. Temuan pada Sabtu (12/9) kemudian dicek dan kembali dipastikan bukan berasal dari para jurnalis yang hilang maupun dari kapal pengangkut mereka.
Pencarian Diperluas ke Enam Sektor
Sementara itu, Tim SAR gabungan memperluas dan membagi area pencarian KM Arupadhatu 1 menjadi enam sektor dengan total luas 6.010 mil laut persegi. Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Basarnas, Rangga Aribowo, mengatakan enam sektor tersebut terdiri atas lima sektor laut, yakni Sektor V, W, X, Y, dan Z, serta satu sektor udara.
“Untuk luas area pencarian 6.010 mil laut persegi, pencariannya cukup luas dan dibagi menjadi enam sektor, terdiri dari lima sektor laut dan satu udara,” katanya.
Pembagian area ini dilakukan agar proses pencarian lebih terarah dan menyeluruh. Lima jurnalis dan tiga kru kapal dilaporkan hilang sejak Senin (7/9). Mereka dilaporkan hilang saat hendak mendekat ke Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi besar hingga memicu hujan abu vulkanik di beberapa provinsi.
Hingga kini, belum ada petunjuk pasti yang mengarah pada keberadaan delapan orang tersebut. Temuan helm, jeriken, life jacket tak terkait jurnalis yang hilang di Selat Sunda menjadi penegasan bahwa proses identifikasi barang bukti dilakukan secara ketat dan tidak boleh didasarkan pada dugaan semata.
Publik diharapkan mengikuti perkembangan informasi hanya dari keterangan resmi kepolisian, Basarnas, dan pihak berwenang lainnya. Operasi pencarian masih berlanjut dengan cakupan wilayah yang luas, sehingga masyarakat perlu bersabar sambil tetap mendoakan keselamatan para korban dan tim SAR yang bertugas di lapangan.












