Terungkap Pertemuan Negara Teluk Bahas Selat Hormuz Batal Usai Intervensi Arab Saudi

Terungkap Pertemuan Negara Teluk Bahas Selat Hormuz Batal Usai Intervensi Arab Saudi
Terungkap Pertemuan Negara Teluk Bahas Selat Hormuz Batal Usai Intervensi Arab Saudi

Cakrawala News – 18 September 2026 | Terungkap pertemuan negara Teluk bahas Selat Hormuz batal usai intervensi Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Senin (14/9/2026) menyatakan bahwa Riyadh meminta agar pertemuan tingkat menteri luar negeri negara-negara Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Salalah, Oman, tidak dilaksanakan untuk saat ini. “Laporan bahwa Arab Saudi meminta agar pertemuan itu tidak diadakan untuk sementara waktu adalah benar,” kata Baghaei, sebagaimana dikutip kantor berita negara Iran, IRNA.

Pertemuan tersebut awalnya dirancang untuk memaparkan kesepahaman yang dicapai Iran dan Oman setelah negosiasi selama berminggu-minggu mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz serta peran kedua negara sebagai negara pesisir. Penundaan ini menjadi pukulan bagi upaya diplomasi regional yang berusaha meredakan ketegangan di jalur air paling strategis dunia tersebut.

Penundaan Diumumkan Oman Sehari Sebelum Jadwal

Pemerintah Oman secara resmi mengumumkan penundaan pertemuan itu pada Minggu (13/9/2026) malam, sehari sebelum jadwal yang semula ditetapkan. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyampaikan bahwa penundaan diambil demi kepentingan tercapainya konsensus bersama seluruh pihak terkait.

“Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami,” kata Badr Albusaidi melalui platform media sosial X. Ia menyertakan bendera Bahrain, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait dalam unggahannya, yang menunjukkan negara-negara yang diperkirakan menghadiri pertemuan tersebut. Namun, ia tidak mengumumkan tanggal baru pertemuan maupun menjelaskan lebih lanjut alasan penundaan.

Kementerian Luar Negeri Oman menambahkan bahwa keputusan menunda dialog bertujuan menjamin kondisi yang layak bagi pembicaraan yang konstruktif. Kesepahaman yang berkelanjutan dinilai penting untuk mendukung stabilitas dan sistem keamanan kawasan dalam jangka panjang.

Arab Saudi Ajukan Perubahan Draf Kesepakatan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa penundaan tersebut terjadi atas permintaan Arab Saudi. Menurutnya, Riyadh mengajukan sejumlah usulan perubahan terhadap draf kesepakatan yang telah dirumuskan oleh Teheran dan Muscat. Arab Saudi dikabarkan mengkhawatirkan dampak jangka panjang kesepakatan tersebut terhadap kepentingan negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Baghaei juga menepis upaya mengaitkan Iran dengan perkembangan terkini antara Arab Saudi dan Yaman. Ia menyatakan bahwa masalah Yaman memiliki akar konflik yang telah berlangsung lama. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Arab Saudi terkait pernyataan Teheran tersebut.

Meski pertemuan dibatalkan, Baghaei menegaskan bahwa kesepahaman antara Iran dan Oman telah rampung disusun. “Kami akan memutuskan, melalui konsultasi dengan Oman, mengenai langkah selanjutnya serta cara mengumumkan atau mencatatkan kesepahaman ini,” ujarnya.

Bahrain Menolak Hadir Sejak Awal

Selain intervensi Arab Saudi, ketidakpastian kehadiran delegasi negara kawasan turut membayangi rencana dialog sejak beberapa hari sebelumnya. Bahrain secara tegas menyatakan menolak hadir akibat serangan-serangan yang disokong Iran di wilayah Teluk. Kementerian Luar Negeri Bahrain pada Sabtu (12/9/2026) menyatakan Manama tidak akan mengikuti pertemuan tingkat menteri bersama Iran sebelum hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan.

Bahrain merupakan salah satu negara Teluk yang menjadi sasaran Iran dalam konfrontasi dengan Amerika Serikat. Teheran sebelumnya menargetkan lokasi yang disebutnya terkait dengan pasukan AS di Bahrain, termasuk Pangkalan Udara Isa, sebagai pembalasan atas serangan AS terhadap sasaran Iran. Bahrain belum memulihkan hubungan diplomatik dengan Teheran sejak 2016.

Meskipun Iran sempat menyatakan negara-negara Teluk dan Irak akan berpartisipasi, tidak ada satu pun negara regional yang mengonfirmasi kehadiran mereka secara resmi. Perundingan teknis mengenai rincian ketentuan biaya layanan yang akan dibebankan kepada kapal-kapal komersial dilaporkan akan berlanjut antara Iran dan Oman.

Draf Rute dan Tarif Masih Buntu

Pertemuan di Salalah awalnya dirancang untuk mempresentasikan draf kesepakatan teknis antara Iran dan Oman terkait tata kelola di Selat Hormuz. Muscat sebelumnya mengusulkan pembagian kontrol selat yang seimbang demi memastikan kelancaran lalu lintas kapal. Draf tersebut mengatur pembagian rute pelayaran kapal dagang di wilayah perairan kedua negara. Kapal yang masuk ke Teluk Persia diarahkan melintasi perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar akan melewati perairan Oman dan Iran.

Pembahasan penarikan tarif jasa pelayaran masih menemui jalan buntu antara kedua belah pihak. Oman menghendaki skema sumbangan sukarela bagi kapal yang melintas, sedangkan Iran ingin mewajibkan pungutan biaya resmi. Perbedaan skema pembiayaan ini menjadi salah satu titik perundingan yang belum terselesaikan.

Selat Hormuz sebelumnya dapat dilintasi secara bebas sebelum perang meletus, tetapi kini Iran mewajibkan setiap armada kapal memperoleh izin berlayar terlebih dahulu. Selat Hormuz berada di bawah tekanan blokade Iran dan kemudian blokade Amerika Serikat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang memicu konflik bersenjata regional.

Dampak pada Energi dan Pelayaran Global

Gangguan di perlintasan ini telah mengerek harga minyak mentah Brent hingga menembus 105 dolar AS per barel. Tingginya harga bahan bakar tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global seiring konflik bersenjata yang telah berjalan lebih dari enam bulan. Situasi di lapangan kian memanas akibat aksi saling serang di sekitar perairan strategis tersebut sepanjang akhir pekan.

Kapal-kapal komersial yang tidak memenuhi aturan perizinan dilaporkan menjadi sasaran serangan militer Iran, sedangkan militer Amerika Serikat secara berkala melancarkan pengeboman terhadap wilayah pesisir Iran. Bersamaan dengan itu, kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ofensif yang memberi mereka pengaruh atas jalur pelayaran penting lainnya di Bab Al-Mandab.

Di sisi lain, Arab Saudi memangkas pengiriman minyak ke Eropa setelah serangan drone merusak jalur utama pipa ekspor minyak mereka di Laut Merah. Serangan yang menurut Arab Saudi berasal dari milisi Irak itu memaksa pihak kerajaan menutup jalur pipa gurun Timur-Barat. Jalur ekspor melalui Laut Merah selama ini menjadi cadangan jalur ekspor setelah Selat Hormuz ditutup oleh Iran enam bulan terakhir.

Menurut sumber kalangan pialang minyak, Saudi Aramco telah menginformasikan pelanggan di Eropa bahwa beberapa pengiriman minyak pada September akan dibatalkan dan pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu di Laut Merah akan dihentikan sementara. Keputusan Riyadh itu memicu pelanggan utama seperti dari Polandia bergegas mencari alternatif sumber minyak kala harga minyak kargo mencapai 120 dolar AS per barel. Perusahaan minyak negara Saudi Aramco menolak berkomentar terkait hal ini.

Merespons rencana perundingan negara-negara Teluk dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan dingin kepada jurnalis pada Minggu (13/9/2026). “Saya tidak peduli. Itu terserah mereka. Itu baik-baik saja,” ujar Trump menanggapi agenda diplomasi tersebut. Sementara itu, penutupan pipa distribusi timur-barat oleh Arab Saudi akibat serangan pesawat nirawak kelompok militan Irak turut menekan saham Saudi Aramco, yang turun hampir 1,1 persen pada Minggu ke level terendah sejak Maret.

Dengan batalnya pertemuan di Salalah, upaya membangun koridor pelayaran sementara di Selat Hormuz kembali menghadapi ketidakpastian. Iran dan Oman masih harus menentukan langkah lanjutan untuk mengumumkan kesepahaman yang telah disusun, sementara negara-negara Teluk menunggu kejelasan sikap Arab Saudi. Perkembangan harga minyak dan situasi keamanan maritim di kawasan akan menjadi sorotan utama dalam beberapa hari mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *